Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

[OBITUARI] Heny Sutopo, Pendiri Ikatan Waria Yogyakarta

16.59 PLUSH Online 0 Comments Category :


Mami Heny atau mami Topo, begitu beliau biasa dipanggil di komunitas. Sejak usia 22 tahun beliau mulai dikenal masyarakat sebagai guru STM.

Di tempatnya bekerja, beliau tak segan menyatakan identitasnya sebagai waria meskipun ia tidak berpenampilan feminin. Status sebagai PNS bahkan tak menghentikan Mami Topo untuk berkumpul dan berkarya bersama kawan-kawan sesama transgender perempuan (waria). Sebaliknya, pengetahuan yang ia dapatkan sebagai PNS justru dimanfaatkannya untuk memajukan komunitas waria.


Tahun 1982, Mami Topo mendirikan Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO), sebuah paguyuban yang berfungsi sebagai media komunikasi antara waria dan masyarakat Yogyakarta. Olah raga dan seni dipilih sebagai medium interaksi. IWAYO rutin melakukan pertandingan persahabatan voli dan sepak bola di berbagai kampung. Kegiatan bersama ini kemudian perlahan menumbuhkan interaksi, menghapus stigma, dan mendorong penerimaan masyarakat terhadap waria di Yogyakarta. Tim olah raga dan seni IWAYO begitu terkenal di Yogyakarta saat itu. IWAYO bahkan sering diundang untuk bertanding di wilayah Jawa Tengah dan Nasional. Sementara tim seninya rutin tampil di Purawisata, dengan Yayuk Parabola sebagai bintangnya.

Tak berhenti di situ. Selama menjadi PNS, Mami Topo mendapat informasi bahwa Dinas Sosial memiliki berbagai program pemberdayaan yang dapat diakses masyarakat. Menyadari sepenuhnya bahwa waria juga merupakan warga negara dan bagian dari masyarakat, Mami Topo pun membangun kerja sama antara Dinas Sosial dan IWAYO. Sepak terjangnya membuahkan hasil: Komunitas waria bisa mengakses berbagai kursus karya yang diadakan pemerintah. Ini merupakan capaian besar saat itu, sebab memberikan harapan bagi perjuangan pemenuhan hak waria atas pendidikan dan pekerjaan yang layak.

1987, Mami Topo memutuskan untuk fokus pada karirnya. Namun, IWAYO yang ia bangun masih berdiri hingga saat ini. Semangat berorganisasi dan perjuangan hak yang ditanamnya tumbuh subur. Berbagai organisasi waria di Yogyakarta lahir kemudian: Sanggar Seni Waria Kotagede, Keluarga Besar Waria Yogyakarta, dan berbagai komunitas waria lain di seluruh penjuru DI Yogyakarta.

Setelah pensiun di tahun 2014, Mami Topo memutuskan untuk menulis dua buah buku tentang perjuangan hidup waria. Buku pertama berjudul “Waria: Wanita Pria di Yogyakarta”. Buku keduanya, “Bila Terlahir sebagai Waria”. Kedua buku yang ditulis dengan tangan ini tak hanya mengandung kisah hidup, tapi juga kritik pada negara yang melakukan penindasan pada waria.



Hingga saat terakhirnya, Mami Topo masih rutin hadir di kegiatan-kegiatan komunitas. Pada tim riset PLUSH untuk IDAHOT 2016 Yogyakarta: “Menguak  Sejarah Gerakan LGBT di Yogyakarta”, Mami Topo menceritakan prosesnya membangun gerakan waria. Meski tak dapat menghadiri acara karena sakit, Mami Topo sempat menitipkan buku yang ditulisnya serta beberapa dokumen sejarah lainnya. Beliau juga mengekspresikan kebahagiaannya mengetahui bahwa generasi selanjutnya masih melanjutkan perjuangannya. Saat itu Mami Topo berjanji untuk mendukung kemajuan gerakan waria dan LGBT, khususnya dengan membagikan pengalaman yang dimilikinya.

Tak disangka, 2 bulan setelahnya, Mami Topo meninggalkan kita semua. Namun, semangat dan mimpinya telah tumbuh di hati kita. Kini, tugas kita menghidupi dan melanjutkan benih-benih perjuangan itu. 

Selamat jalan, Mami Topo.

Dengan cinta,
PLUSH dan IWAYO

RELATED POSTS

0 comments