Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

PERNYATAAN SIKAP IDAHOT 2016

15.40 PLUSH 0 Comments Category : , , , , ,

PERNYATAAN SIKAP
International Day Against Homo/Bi/Transphobia
Yogyakarta, 31 Mei 2016



Dua puluh enam tahun sudah homoseksual dicabut dari daftar gangguan jiwa dalam ICD 10 oleh WHO (17 Mei 1990). Momen ini merupakan salah satu tonggak sejarah dalam penghapusan stigma pada orang-orang Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Mulai 2004, tepat di tanggal 17 Mei, komunitas LGBT di seluruh dunia merayakan Hari Internasional Melawan Homo/Bi/Transphobia (IDAHOT).


Homo/Bi/Transphobia sendiri merupakan kebencian irasional kepada orang yang dianggap/diidentifikasi sebagai LGBT. Homo/bi/transphobia menjelma dalam bentuk stigma, dikriminasi, dan kekerasan terhadap orang-orang LGBT. Studi kasus ‘Menguak Stigma, Kekerasan, dan Diskriminasi pada LGBT di Indonesia’ oleh Arus Pelangi, KSM dan PLUSH tahun 2013 menunjukkan hasil: 89,3% LGBT di Indonesia mengalami kekerasan dalam 3 tahun terakhir (2010-2012). Kekerasan tersebut dikelompokkan menjadi kekerasan psikis, kekerasan fisik, kekerasan ekonomi, kekerasan seksual, dan kekerasan budaya. Lembaran Fakta Forum LGBTIQ Indonesia menyebut saat ini setidaknya ada 17 kebijakan yang diskriminatif terhadap LGBT, baik dalam bentuk undang-undang, PP, hingga perda.

Di Yogyakarta sendiri, kasus demi kasus kekerasan terhadap LGBT semakin meningkat, baik di ruang privat maupun publik. Ada Perda DIY no. 1 tahun 2014 (Perda Gepeng) yang dijadikan landasan untuk mengkriminalisasi kawan-kawan yang hidup di jalan, termasuk transgender perempuan/waria. 2015, setidaknya 21 kawan waria ditangkap dan dipenjara di camp assessment tanpa peradilan. Lima di antaranya ditangkap hanya berbasis ekspresi dan identitas gendernya, sebab mereka sama sekali tidak sedang melakukan aktivitas mengamen. Milisi sipil reaksioner, dibantu aparat penegak hukum, semakin rajin melibas ruang demokrasi orang-orang LGBT. Dimulai dari penyerangan masif pada acara Kerlap Kerlip Warna Kedaton 2000, dilanjutkan: usaha penyerangan IDAHOT 2010, penyerangan Q! Film Festival 2010, penyerangan diskusi Irshad Manji di LKiS 2012, penyerangan peringatan Transgender Day of Remembrance 2014. Semua kasus tersebut berhenti di kepolisian! Kebebasan akademik juga diberangus. Sepanjang 2014-2016, tujuh diskusi di kampus bertema LGBT diancam, dilarang, atau dibubarkan oleh pihak kampus sendiri. Kasus pembunuhan terhadap kawan Mita, seorang waria, tahun 2013, tak terungkap hingga kini. Dan, pada tanggal 20 Januari – 19 Maret 2016, tercatat ada 39 kasus kekerasan terhadap LGBT termasuk: intimidasi pada kegiatan One Billion Rising Jogja, penyerangan dan usaha penutupan Pondok Pesantren Waria Al Fatah, penyebaran puluhan spanduk anti LGBT oleh FUI, aksi massa dan deklarasi anti LGBT oleh AM FUI, penyebaran selebaran berisi ancaman pembunuhan pada LGBT oleh AM FUI, represi pada aksi massa Solidaritas Perjuangan Demokrasi oleh polisi, dan sebagainya.

Di lingkup yang lebih luas, media massa justru menyebarkan stigma terhadap LGBT. Asosiasi Psikiatri Indonesia, yang seharusnya menjadi garda depan mempertahankan ilmu pengetahuan, justru menyatakan kebohongan: bahwa LGBT adalah penyakit, dan karenanya harus dikonversi (diubah). Para Menteri dan pejabat publik, juga anggota dewan, menyebarkan ujaran kebencian yang menganjurkan agar LGBT ditolak di kampus. Sikap-sikap konyol ini pada akhirnya justru meningkatkan kerentanan LGBT terhadap segala jenis kekerasan. Seluruh poin Hak Asasi Manusia LGBT dirampas, antara lain hak hidup, hak atas pendidikan, pekerjaan, hak atas rasa aman, hak berekspresi, hak untuk berkedudukan sama di hadapan hukum, hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi, hak untuk bebas dari penangkapan sewenang-wenang, dan hak berpendapat.

Penindasan demi penindasan terus terjadi. Kita pernah memilih untuk sejenak mundur dan merunduk, berharap penindasan berhenti, dan Negara mau turun tangan melindungi. Namun pengalaman demi pengalaman menunjukkan bahwa menyembunyikan diri sama sekali tidak mengurangi penindasan itu. Kawan-kawan waria tetap bertarung untuk mempertahankan ruang hidup di jalan. Kawan-kawan lesbian tetap diperkosa dalam pernikahan paksa. Para gay tetap terancam dipecat dari pekerjaan. LGBT tetap depresi karena hidup sebagai orang lain. Saat sebagian kawan hidup lebih aman karena memiliki status sosial tinggi, tinggal di kota, berpendidikan tinggi, dan mampu mengakses bantuan; yang lain harus berjuang keras mempertahankan martabat kemanusiaannya.

Sejarah mencatat bahwa segala kenikmatan yang LGBT dapatkan saat ini, pada jaman dahulu mesti direbut dengan darah dan perjuangan. Para pendahulu kita dengan telaten bersolidaritas dengan kaum-kaum tertindas lainnya, meskipun mesti mengalami penolakan dan pengkhianatan. Apa yang telah kita rebut bersama, semestinya kita pertahankan bersama juga. Sembunyi bukan lagi pilihan. Bahu membahu kita menyatukan kekuatan, baik LGBT maupun para sahabat yang masih mempertahankan nuraninya, menggunakan segala kemampuan yang kita miliki untuk melawan homo, bi, dan transphobia, sekarang juga!

Dengan membawa semangat perjuangan gerakan LGBT yang telah diwariskan kepada kita semua, dalam perayaan IDAHOT 2016 ini komunitas LGBT di Yogyakarta menyatakan:

1.       Negara adalah pelaku utama penindasan tersebut, dengan menggunakan tangan milisi sipil reaksioner, institusi pendidikan, dan bahkan aparatur pemerintahan dan aparat penegak hukum. Negara dengan sengaja telah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Kejahatan terhadap Kemanusiaan, dengan melanggengkan penindasan dalam bentuk homo/bi/transphobia.

2.       Menolak dan berjanji akan terus melawan segala bentuk homo/bi/transphobia yang menjelma dalam bentuk stigma, kekerasan, dan diskriminasi terhadap seluruh orang-orang LGBT, terutama mereka yang saat ini paling tertindas: tinggal di desa, di kolong jembatan, mengamen dan bekerja di jalanan, dipaksa menikah, diusir dari keluarga, difabel, dan sebagainya.

3.       Menyerukan persatuan yang seutuhnya pada seluruh kawan LGBT dan rakyat tertindas lainnya. Hanya dengan persatuan kita dapat merebut ruang demokrasi, melanjutkan perjuangan para pendahulu kita, dan mengembalikan harkat dan martabat setiap orang pada tempatnya.

Yogyakarta, 31 Mei 2016
Bersama kawan-kawan LGBT di D.I. Yogyakarta,

People Like Us Satu Hati
www.PLUSH.or.id
plu.satuhati@gmail.com

RELATED POSTS

0 comments