Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

[Artikel] Kebebasan Pers dan LGBT

14.12 PLUSH Online 0 Comments Category : , , , , , , , , , , , ,

Ditulis oleh : Renate A

Pada tanggal 3 mei, kita memperingati hari kebebasan pers sedunia. Peringatan yang dibentuk oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1993 ini adalah sebuah momentum refleksi untuk wartawan, perusahaan media, pemerintah dan masyarakat untuk melihat kembali status dari kebebasan pers di dunia, membela media dan wartawan dari serangan terhdapa kemerdekaan mereka dan memberikan penghormatan terhadap para wartawan yang kehilangan nyawa dalam bertugas.
Bagaimana kita kaitkan hari kebebasan pers sedunia ini dengan konteks gerakan LGBT?

Minggu lalu kita mendengar kabar mengenai serangan yang mengakibatkan meninggalnya Xulhaz Mannan, editor Roopbaan, sebuah majalah LGBT di Bangladesh. Serangan tersebut juga menewaskan Tanay Mojumdar, salah satu staf majalah tersebut. Keduanya menyatakan diri secara terbuka sebagai gay dan percaya bahwa jika semakin banyak gay yang menyatakan diri, maka akan semakin besar penerimaan masyarakat terhadap LGBT.

Serangan yang dilakukan oleh kelompok ekstrimis ini bukan hanya menyerang jurnalis LGBT saja. Seorang dosen yang menuliskan pandangannya yang sekuler di internet telah dibunuh dengan senjata tajam lalu ditembak. Setahun sebelumnya, 4 orang blogger tewas dibunuh dengan senjata tajam. Mereka dituduh sebagai blogger ateis.
Bagi kita yang berada di Indonesia, kasus ini tentu saja mengingatkan kita kepada kasus wartawan udin yang dibunuh karena berita. Kasusnya terjadi pada tahun 1996 dan hingga sekarang belum diselesaikan. Beberapa kasus yang menjadi tantangan kebebasan pers Indonesia adalah kriminalisasi dengan ancaman pemidanaan dan pencemaran nama baik terhadap jurnalis maupun media. Kasus lain yang sering terjadi adalah kekerasan terhadap jurnalis.
Mengapa kebebasan pers mendapat ancaman? Praktek kebebasan pers dan independensi media merupakan prasyarat sebuah Negara yang demokratis. Kebebasan berekspresi dan kebebasan pers sangat penting untuk keberhasilan pelaksanaan dari tata pemerintahan yang baik dan hak asasi manusia di seluruh dunia.

Kita telah merasakan sendiri bagaimana media yang tidak berimbang dan hanya mencari sensasi demi telah menyebabkan pecahnya homophobia di Indonesia pada awal tahun ini. Hal ini membuktikan bahwa media yang tidak seimbang dan yang tidak mengikuti kode etik jurnalistik akan menimbulkan keresahan dalam masyarakat.

Kritik juga perlu disampaikan kepada masyarakat Indonesia, Apakah kita sudah cukup kritis dalam membaca media? Ataukah kita membiarkan diri kita terbawa arus informasi yang disajikan oleh media yang belum jelas integritasnya?
Masih banyak yang harus kita perbaiki bersama dalam mewujudkan kebebasan pers ini. Harapan kita, perlindungan terhadap jurnalis dan media dapat diwujudkan agar demokrasi berjalan dengan baik. Pers yang berimbang dan menyajikan fakta yang benar juga diharapkan agar masyarakat memiliki perspektif yang baik dan tidak kebingungan.

Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia
Maju terus Pers Indonesia!

RELATED POSTS

0 comments