Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Harvey Milk & IDAHOT 2015

17.58 PLUSH Online 0 Comments Category : , , , , , , , , , , , , , , , ,






"Ada yang udah pernah nonton film “Milk” di sini? Kalau udah nonton, pasti familiar dong dengan tokoh di atas. Yap, namanya Harvey Milk."


Harvey Milk adalah seorang politisi Amerika sekaligus aktivis hak-hak LGBT dan pemimpin komunitas LGBT. Harvey Milk mencatat sejarah sebagai openly  gay person yang terpilih menjadi anggota Dewan Penasihat, sebuah jabatan publik di San Fransisco. Sepanjang karir politiknya, Milk fokus pada mendorong pemerintah San Fransisco untuk merespon isu pemenuhan hak-hak gay dan pentingnya kehidupan bertetangga di masyarakat.


Harvey Milk | httpmsnbcmedia.msn.com
Milk sangat peduli pada keberadaan LGBT muda dan memahami pentingnya pelibatan LGBT muda dalam pembuatan kebijakan di San Fransisco. Salah satu pesan Milk pada orang-orang LGBT, khususnya LGBT muda, adalah bahwa LGBT harus berani menampakkan diri dan berjuang bersama untuk mengakhiri segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap mereka.

Meskipun karir politik Milk berumur singkat –karena ia dibunuh pada tahun 1978, Milk telah menjadi tokoh dan martir bagi komunitas LGBT. 


 Kehidupan LGBT muda adalah salah satu isu yang telah menjadi perhatian Milk di era akhir 1970an. Milk melihat bahwa kekerasan dan diskriminasi yang diterima LGBT muda telah membunuh kesempatan mereka meraih cita-cita. Apa yang telah dilihat Milk sebagai masalah saat itu, ternyata masih menjadi masalah hinggan saat ini.

Mari kita tengok studi kasus ‘Menguak Stigma, Kekerasan, dan Diskriminasi pada LGBT di Indonesia’ yang diadakan Arus Pelangi dan Indana Laazulva tahun 2013. Penelitian tersebut melibatkan 335 responden LGBT dengan rentang usia 19 hingga 24 tahun, yang berada di tiga kota besar: Jakarta, Yogyakarta, dan Makassar. Hasilnya mengejutkan. 

89,3% responden mengalami kekerasan dalam 3 tahun terakhir (2010-2013).

Mengerikan, bukan, tingginya tingkat kekerasan yang dialami oleh LGBT muda di Indonesia? Sedihnya lagi,  pelaku kekerasan pada LGBT muda di Indonesia ternyata adalah orang-orang yang mestinya jadi pelindung bagi orang muda.  Siapa saja mereka? Ada anggota keluarga/kerabat, sekolah/guru, teman, ahli agama, teman, pacar/mantan pacar, aparatur negara, dan tetangga.  Tindak kekerasan dari lingkungan terdekat menempati jumlah yang lebih tinggi dari tindak kekerasan yang didapat dari orang asing  seperti ormas, preman, atau orang tak dikenal.

Masih berdasarkan hasil penelitian tersebut, kita bisa melihat dampak kekerasan berbasis orientasi seksual dan identitas gender pada LGBT muda. 33,7% responden pernah berpikir secara serius untuk bunuh diri. 20,1% responden pernah melakukan percobaan bunuh diri. Ada juga yang menggunakan narkoba untuk mengurangi rasa takut dan kecemasan, lari dari rumah, dan sebagainya. Tidak sedikit juga teman-teman LGBT muda yang berhenti sekolah karena tertekan, diusir dari rumah, tidak bisa mengakses pekerjaan, dll.

Kembali pada Harvey Milk,

Beliau pernah berkata bahwa 

“semua orang muda, terlepas dari orientasi seksual dan identitasnya, berhak atas lingkungan yang aman dan suportif, untuk meraih potensi mereka secara utuh”



Ya, layaknya orang muda pada umumnya, LGBT muda mestinya berkesempatan menggali memaksimalkan potensi mereka.  Namun, bagaimana mungkin seseorang bisa melihat dirinya sendiri dan menggali potensinya jika ia selalu tertekan? Diejek, dikucilkan, dilecehkan, dipukul.

Kamu pernah galau gara-gara ditolak gebetan atau diputus pacar? Nggak enak, kan? Nggak doyan makan, susah tidur, kesepian, merasa bersalah, merasa bodoh, tidak bersemangat menjalani hari-hari. Nah! Itulah yang dirasakan oleh LGBT muda akibat penolakan dan kekerasan yang mereka alami dari orang-orang di sekitar. Bedanya,  ditolak gebetan cuma bikin kamu tersiksa selama satu-dua bulan. Ditolak masyarakat, bisa bikin kamu susah setiap hari, sepanjang hidupmu.


Sudah saatnya kita berhenti bikin orang lain susah dan galau. Di perayaan  International Day Against Homophobia & Transphobia  a.k.a  IDAHOT  tahun 2015 ini, yuk sama-sama berjanji untuk menghentikan segala tindak kekerasan dan diskriminasi pada LGBT muda. 

Katakan tidak pada kekerasan. 

Hentikanlah mereka yang melakukan kekerasan pada LGBTmuda. Bantulah pelaku kekerasan dan diskriminasi untuk belajar memahami keberagaman.

Yuk, berjanji untuk menjadi orang tua, adik, kakak, dan teman yang baik bagi LGBT muda di sekitar kita.  Pundak dan dukungan moralmu, sangat dibutuhkan oleh teman-teman LGBT muda yang kita sayangi. Begitu juga tindakan nyatamu.




Cheers,

Tama

RELATED POSTS

0 comments