Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Unlimited [Cerpen #IDAHOT2015]

01.25 PLUSH Online 0 Comments Category : , , , , , , , , , ,

Oleh : Sen Riezyoe


“ Aku membawa jus, kau mau? “ tawarku pada cowok berambut hitam sebahu yang sedari tadi sibuk dengan kertas dan pensil mekaniknya.

Dia akan mengabaikanku, pasti.

“ Namaku Isaiah, tapi ada beberapa orang yang masih memanggilku Yesaya. Kau tahu kan, dulu itu panggilanku. “

Bisa kulihat dia merasa tidak nyaman dengan ocehan panjangku yang menunjukkan sisi memaksa meski dia hanya terus mengabaikan dengan kesibukannya menggambar gaun. Sungguh cowok yang sangat menarik.

“ Aku tahu namamu. Maurice, iya kan? “ tebakku, “ Aku suka stylemu. Bagaimana kau memilih material, bentuk aksesoris yang kau buat, rencana pemasaran, dan.. semuanya. “

Dia masih.. masih.. dan masih mengabaikanku. Haha.. kalau saja kami tidak sedang berada di dalam salah 1 kelas di universitas sudah pasti akan kuterjang tubuh sexynya yang selalu tertutup pakaian serba hitam dengan sedikit motif papan catur.

*Maurice... kau sungguh menggoda..!!* Rasanya ingin kuteriakkan kalimat itu sekeras-kerasnya.

“ Menurutmu.. kita bisa bekerja sama? “ tawarku yang tentu saja masih diabaikan.

Aku hanya bisa duduk di sebelahnya, memandangi wajah muramnya yang berkacamata. Bagaimana harus kugambarkan wajahnya? Seperti yang kukatakan sebelumnya, dia berwajah muram. Tapi tentang bentuk dari setiap bagian wajahnya.. sempurna. Bagiku dia sempurna. Mata yang selalu menatap pada 1 titik saja, alis yang tegas, hidung yang mancung, bibir yang.. Haha.. aku tidak pintar dalam menggambarkan wajahnya, bukankah begitu? Yang jelas aku menyukai seluruh bagian yang dia miliki. Bukan berarti aku hanya tertarik pada bentuk fisiknya, seandainya dia menjadi seorang buruk rupa pun.. bagiku dia tetap sempurna.

Ini yang disebut cinta tanpa syarat?

“ Yaya.. Yaya.. Ah! Isaiah. “ panggil seorang cewek yang baru menyadari keberadaanku.

Dia Ami, cewek fashionable penganut gaya mori-kei. Cantik, tentu saja dia cantik.  Maksudku.. manis. Itulah sebabnya cewek tanpa kemampuan menciptakan karya bagus sepertinya bisa bertahan di universitas terkemuka yang selalu menghasilkan designer hebat. Semua berkat wajahnya, mengerti?

“ Bantu aku memilih material. Aku belum mengumpulkan tugas. “ pintanya, “ Miss Lu bilang aku harus mengulang semester depan meski hanya 1 tugas yang kosong. “

Nah, dia tepat seperti apa yang kukatakan. Haha..

“ Kalau begitu kau harus mengulang. “

*Gyut* Dia segera meraih lengan kananku dan memeluknya erat-erat. Sial, tidakkah dia sadar bagian mana dari tubuhnya yang bersentuhan dengan lenganku? Bukan hanya tangannya oy...!! Haha..

“ Ayolah, bantu aku. “
“ Haha.. “
“ Isaiah! “
“ Iya-iya, aku mengerti. “

Kurasa aku harus menyerah pada Ami. Lagipula membantunya tidak akan menguras tenagaku sampai pada batas yang kusanggupi. Tentang Maurice.. harus menunggu lain kali, mungkin.

“ Aku harus membantu cewekku. Kita bicara lagi lain kali. “ pamitku pada Maurice seraya menjauhkan tangan kiriku yang beberapa menit yang lalu masih dengan begitu lancangnya menyentuh bahu lebarnya.

Dia memiliki bahu yang bagus.

“ Kau ngobrol dengan Maurice? “ tanya Ami saat kami sudah meninggalkan kelas barusan.
“ Yup. “
“ Kudengar dia tidak bisa bicara. “

Ah, tentang kabar itu ya? Semua orang yang pernah mendengar nama Maurice pasti tahu bahwa cowok berkacamata itu tidak bisa bicara. Tapi.. dia hanya belum pernah bicara kan? Darimana keyakinan tidak bisa bicara itu muncul?

Haha.. memangnya kenapa kalau tidak bisa bicara? Bagiku dia tetap menarik.

“ Sebenarnya aku melakukan pembicaraan satu arah. Haha.. “ jelasku yang kulanjutkan dengan menyentuh kepala Ami.

Cewek ini harus segera memperbarui warna rambutnya.
***

Melelahkan juga ternyata menemani Ami belanja material. Tapi rasa lelah itu sepadan dengan apa yang kudapatkan, nomor handphone Maurice. Sayang sekali dia tidak memiliki pin BB, akun di media sosial, dan..

Salah!

Dia tidak memiliki semua itu artinya dunianya semakin kecil dan.. dunia itu bisa dipenuhi olehku seorang. Haha.. hanya akan ada aku dan dia, hanya kami. Itu hal yang bagus.

*Ctakk* Kubuka HP lipatku yang sudah pasti tidak lagi diproduksi oleh produsen HP karena berakhirnya masa kepopulerannya. Ini benda yang kubeli dari negara lain, barang impor tentunya karena yang semacam ini tidak begitu diminati di sini.

Umm.. sebaiknya aku tidak langsung menelephonenya. SMS terlebih dahulu.

*Tit-Tit-Tit* Terima panggilan masuk dariku setelah ini, ok? Aku Isaiah.

Yak, aku sudah selesai mengetik dan.. kirim. Haha..

“ Kau sungguh menarik, Maurice. “ gumamku sambil merebahkan tubuh di atas tepat tidur di dalam kamar kosku.

Langit-langit berwarna putih tanpa motif pun terlihat indah saat jatuh cinta. Ini sungguh baru pertama kali kurasakan. Haha.. Maurice sungguh menarik. Sungguh.. sungguh.. sungguh.. sungguh.. sungguh..
***

*Grab* Kutarik pergelangan tangan kanan Maurice. Itu membuatnya berhenti berjalan sesuai keinginanku.

“ Kita harus bicara. “
***

Kami berada di dalam studio pribadi Maurice yang berlokasi di dalam gedung utara universitas yang didapatkannya berkat menjuarai perlombaan fashion tahunan. Ada begitu banyak manekin di dalam sini. Sebagian besar mengenakan gaun serba hitam yang memberi kesan sebagai pakaian bangsawan eropa di abad pertengahan dan sebagian lagi belum digunakan.

“ Kau tidak mengangkat HPmu kemarin. “ ucapku sambil mengamati sebuah manekin dengan gaun termewah.

Hmm? Berdiri tidak jauh dari pintu dan menatap lantai bermotif papan catur.. Dia lebih memilih lantai daripada wajahku. Haha..

“ Baiklah, kita bicara lain kali saja. “
***

Aku keras kepala dan aku tahu itu. Setiap hari aku terus mengikuti Maurice melebihi seorang stalker. Dia terganggu, itu pun aku tahu. Tapi rasa tertarikku padanya mengalahkan rasa malu yang kumiliki. Jadi.. aku tidak akan menyerah sampai dia menerima keberadaanku.

“ Kau menggangguku. “ ucapnya.

.. Ha? Barusan.. dia bicara? Maurice bicara? Serius? Dia bicara kan? Dia mengatakan kalau aku mengganggunya. Dia.. dia..

Hahaha.. Ya Tuhan, sungguh luar biasa..!!

“ Kupikir kau tidak bisa bicara. “
“ Aku bicara jika diperlukan. “

Hmm? Suaranya sexy.

“ Haha.. “

Sial, sungguh sexy.

“ Hahaha.. “

Aku tidak bisa berhenti terpesona..!! Dan hanya bisa kutunjukkan dengan tertawa sementara dia tetap sibuk memilih kain untuk proyek terbarunya.
***

Setelah sekian lama akhirnya Maurice tidak lagi mengabaikanku. Bahkan rencana kerjasama yang kutawarkan dengannya hampir mencapai apa yang kami harapkan. Sebuah gaun serba hitam berhasil kami buat. Hari ini Ami mencobanya untuk melihat bagian mana yang dirasa kurang.

Semua dalam kondisi sempurna, menurutku.

“ Seperti yang kukatakan, Ami model yang bagus. “ ucapku setelah Ami berputar memperlihatkan gaun hitam pada tubuhnya.

Serasa melihat orang lain karena ini adalah pertama kalinya Ami menanggalkan pakaian bernuansa mori-kei. Wig hitam yang dikenakannya pun menambah kesan berbeda yang sangat kuat. Ada aura menyerupai Maurice pada dirinya.

“ Katakan sesuatu, Maurice. “
“ Mungkin aku tidak cocok dengan pakaian serba hitam. “ sahut Ami.
“ Pasti bukan itu. “ sangkalku, “ Katakan sesuatu, Maurice. “

Kenapa dia tidak mau bicara? Apa karena ada Ami? Tidak suka bicara di depan cewek? Tapi kurasa alasannya jarang bicara selama ini bukan karena adanya cewek maupun cowok.

Aku ingin mendengar suara sexynya lagi.

“ Cantik. “ ucapnya.

..?? Akhirnya dia bicara!

“ Haha.. Hahaha.. “

Tetap mempesona seperti sebelumnya dan tetap membuatku hanya bisa tertawa.

“ Hahaha.. “

Sungguh suara yang luar biasa. Aku semakin menyukainya, mengerti? Betapa mempesona.

“ Hahaha.. “
***

Ha? Apa ini? Terlalu mengejutkan. Pagi-pagi begini Maurice datang dengan memanggul sebuah gaun putih padahal.. semua tahu dia hanya menyukai warna hitam.

“ Maurice..” ucap Ami yang sama keheranannya denganku.

Tentu saja heran. Semua yang berada di dalam studio ini menggambarkan bagaimana karakter Maurice, gelap. Lalu secara tiba-tiba dia muncul dari balik pintu bersama gaun serba putih..

Apa yang terjadi?

“ Aku akan berpikir kalian berencana membunuhku jika terus menggunakan warna hitam. “ jelasnya.

.. Membunuhnya? Aku dan Ami berencana membunuhnya?

“ Hahaha.. “ Lucu sekali.
“ Jangan tertawa! “

Ha? Dia membentakku! Haha..

“ Pikiranku akan semakin menjadi-jadi jika mendengar orang tertawa. “

Ah, jadi selama ini aku memperburuk kondisinya karena terlalu seringnya tertawa. Aku baru mengetahui hal itu.

“ Konsentrasiku sangat baik jika di sekitarku berwarna hitam. “ jelasnya, “ Tapi di saat yang sama aku semakin berpikir yang tidak-tidak. “

Begitukah?

“ Aku orang yang seperti itu. Jadi kalau kalian keberatan.. “
“ Apa yang kau katakan? “ tanyaku, “ Kita tetap bekerja sama meski kau gila sekali pun. “

Dia terlihat terkejut.

“ Lagipula kami bukan tidak tahu tentangmu. “ jelas Ami.

Tepat. Aku tahu segalanya tentang Maurice. Karena aku serius menyukainya, tentu saja.

“ Ibumu meninggal karena dibunuh oleh ayahmu, suaminya sendiri. “ ucapku, “ Kau sempat tidak bisa bicara setelah melihat kejadian itu. Tapi memangnya kenapa? “
“ Kau tidak terlibat perkelahian. “ sahut Ami.
“ Kau tidak curang dalam ujian, tidak menggosipkan temanmu, dan karya-karyamu luar biasa. “

Dia tidak mengganggu siapapun, itu yang kami tahu. Lalu, tidak masalah meski dia memiliki ketakutan terhadap kami kan?

“ Kami tetap temanmu dan kita tetap bekerjasama. “ tegas Ami.

Aku tidak sepenuhnya setuju, pastinya. Haha..
***

Bukan sebagai teman. Status yang kuinginkan pada Maurice adalah..

“ Aku menyukaimu. “

.. sebagai orang yang disukainya.

“ Aku menyukaimu, Maurice. “ ucapku sekali lagi saat dia sibuk merapikan sisa benang dan kain yang berserakan di lantai bermotif papan catur yang begitu identik dengannya.

Saat ini perlombaan fashion tahunan sedang berlangsung di aula. Ami berada di sana, menunggu giliran untuk berjalan di atas catwalk dengan gaun serba hitam sementara aku berdiri di hadapan manekin yang mengenakan gaun putih. Ini gaun yang hampir saja menggantikan gaun serba hitam yang saat ini dikenakan Ami. Gaun yang bagus, sebenarnya, tapi warna putihnya sungguh tidak menggambarkan karakter Maurice.

“ Hey..!! Kubilang aku menyukaimu, Maurice. “ ucapku untuk kesekian kali, “ Jangan mengabaikanku. “
“ Kau selalu menggangguku. “
“ Hmm? “

Mengganggu seperti apa yang dia maksud? Berisik? Ikut kemanapun dia pergi?

“ Kau memenuhi otakku. “

Ha? Hahaha..

“ Hal yang sama terjadi padaku. “ ucapku sambil memeluk tubuhnya dari belakang saat dia baru saja berdiri setelah memungut potongan kain dari lantai, “ Kau memenuhi otakku jauh sebelum kau mengalaminya. “
“ Mungkin kita membicarakan hal yang berbeda, Isaiah. “
“ Tidak. Kita membicarakan hal yang sama. “
“ Kau sadar kita sama-sama cowok? “
“ Cinta tidak mengenal jenis kelamin. “

Aku bukan orang yang bodoh, buktinya dalam lomba fashion tahunan sebelumnya aku menjadi juara 3 dari sekian mahasiswa yang berpartisipasi. Memang benar aku tidak sehebat Maurice dalam berkarya, mungkin juga tidak sepintar dirinya dalam hal lain, tapi aku cukup mengerti perbedaan rasa suka dan lainnya. Aku menyukainya. Sangat menyukainya.

Masa bodoh dengan gender yang sama.

“ Aku menyukaimu, Maurice. “ ucapku bersamaan dengan tubuhnya yang mulai berbalik.

Dengan semua karakternya saja aku tidak perduli, apalagi cuma tentang dia yang juga seorang cowok. Aku sudah terlanjur dan terlalu menyukainya.

“ Kau orang yang menakutkan, Isaiah. “
“ .......... “
“ Penampilanmu flashy. “
“ .......... “
“ Kau mudah tertawa, bersikap santai, keras kepala, dan sangat memaksa. “
“ .......... “
“ Kau sama persis dengan ayahku. “

!?

“ Sebelum kau membunuhku.. “ ucapnya dengan ekspresi yang tidak bisa kuartikan, “ Kau harus kubunuh. “

Haha.. Hahaha..

Tubuhnya mulai menjauh dariku. Mulai menjauh dan.. darahku menetes. Haha..

“ Luar biasa.. “ ucapku sambil menahan rasa sakit dan berusaha mempertahankan senyum.

Tidak, bukan mempertahankan. Pada dasarnya aku memang ingin tersenyum. Aku tersenyum karena sangat bahagia. Kenapa bahagia? Tentu saja karena aku berhasil memenuhi otak Maurice. Berhasil memenuhi otak seorang cowok yang sangat kusukai! Hahaha..

Ughh.. darah yang keluar dari perutku tidak juga ada habisnya. Aku mulai merasa mual dan mengantuk di samping rasa sakit yang tidak bisa kujelaskan.

Maurice..

Maurice..

“ Aku.. menyukai.. cowok yang sangat menarik.. “

Haha..

“ Aku menyukaimu.. Maurice. “
***

-END-

RELATED POSTS

0 comments