Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

The One [Cerpen #IDAHOT2015]

01.21 PLUSH Online 0 Comments Category : , , , , , , , , , ,

Oleh : Sekar Hayati Lakshita Rukmi

Aku masih terpekur di meja mengerjakan serangkaian laporan keuangan perusahaan. Hari ini aku sengaja bekerja lembur agar bisa “sedikit” bersantai di akhir pekan. “Ck..ck..lihat, siapa yang tahan jadi romusha,” seloroh Elina sambil melongok dari balik pembatas meja kami. Aku pun memeragakan senam pemanasan. Elina tertawa geli. “Jangan terlalu memaksa diri. Kalau lelah sebaiknya pulang,” katanya seraya membereskan barang-barang dari meja kerjanya sendiri. “Ah, bisa kuatasi,” jawabku percaya diri.

Kantor menjadi semakin sepi. Satu persatu karyawan pulang. Hanya ada beberapa yang masih tinggal untuk meneruskan pekerjaan lemburnya. Aku adalah salah satunya. Hidup sebagai lajang dan tinggal terpisah dengan keluarga membuatku tidak punya alasan untuk cepat-cepat pulang. Toh, aku tinggal sendiri di rumah kontrakan.

“Hei, boleh numpang nge-print sebentar?” Nieal muncul tiba-tiba di hadapanku sambil mengacungkan flashdisknya. “Oh, pakai saja,” jawabku. Aku pun bangkit dari kursi dan mempersilakannya duduk. “Maaf ya, printerku bermasalah, nih” katanya sambil terus memandangi layar komputer. Pendar-pendar cahaya monitor menerpa wajahnya yang tampan. Nieal baru empat bulan pindah ke kantorku. Selama empat bulan itu pula ia telah berhasil membuat kehebohan di antara para pegawai perempuan. Apalagi kalau bukan karena ia masih muda, rupawan dan ramah?

“Terimakasih ya,” kata Nieal sambil mengulaskan senyum yang niscaya membuat para gadis meleleh. Aku mengacungkan dua jempol sebagai balasannya. “Ohya, ada saran buat makan malam?” tanyanya padaku sebelum kembali ke mejanya. Aku pun menyarankan sebuah tempat makan seafood yang berada di ujung blok. “Hmm, sepertinya bakal romantis kalau kita berdua ke sana,” selorohnya sambil tersenyum lebar. Aku tertawa. “Wah, boleh tuh. Biar cewek-cewek cemburu padaku,” timpalku.

Setengah jam kemudian, kami sudah duduk menghadapi salah satu meja di kedai seafood itu. Aku dan Nieal memang cukup dekat, setidaknya selama tiga bulan terakhir. Nieal tidak banyak bicara, berbeda denganku yang terbilang bawel. Mungkin itulah yang membuat ia senang berada di dekatku. Kami kerap ngobrol tentang apa saja; berita di koran, pekerjaan di kantor, rencana masa depan hingga gossip tentang atasan kami. Beberapa kali kami bepergian bersama, entah sekadar makan, nonton konser atau berjogging di akhir pekan. Bagiku, Nieal adalah sosok yang baik.
***
“Eh, liat deh, rambutnya,” Elina menyikutku tiba-tiba. “Aih,makin keren saja dia.” Aku menatap ke arah yang ditunjuk Elina. Nieal datang dengan potongan rambut baru. Ia pun tampil lebih segar dan semakin tampan, tentu saja. “Ciyee..godain sana! Siapa tahu dia minat sama tante-tante sepertimu,” kataku menggoda Elina. Ia pun merengut. “Lihat ya, kalau aku bisa jalan sama dia!” jawabnya sambil berlalu. Elina tidak menyadari bahwa aku telah beberapa langkah di depannya. Aku bahkan beberapa kali makan malam berdua dengan Nieal (hal yang tidak pernah dirasakan Elina). Hahaha..

Kedatangan seorang satpam kantor membuatku sedikit terkejut.  Sebuah bouquet berukuran besar berada di tangannya. Wajahnya yang agak sangar menyembul di antara gerumbulan bunga. “Ini, ada kiriman,” katanya sambil tersenyum lebar yang lebih mirip seringai. “Buat saya?” tanyaku heran. Ia mengangguk dan meletakkannya di mejaku. “Masa sih, Pak? Dari siapa?” tanyaku sambil memungut beberapa benda yang terjatuh dari meja karena tergusur oleh bunga-bunga itu. “Iya. Ini, di kartunya tertulis begitu,” jawabnya sambil menunjuk selembar kartu merah jambu. Aku masih sedikit bingung. “Ya..ya..terimakasih ya, Pak,” kataku kemudian.

Tidak ada nama pengirim di kartu itu. Hanya tertulis namaku di sana. Tidak ada kalimat apa pun lagi. “Hah, dari siapa itu?” tanya Elina yang muncul tiba-tiba di sebelahku, entah darimana. “Tidak tahu,” jawabku sambil mengangkat bahu, “tidak ada pengirimnya.” Elina menggeleng, alisnya bertaut. Sejurus kemudian ia menjentikkan jari. “Aku tahu,” katanya yakin. “Pasti kau sendiri yang mengirim bunga itu. Biar dikira punya pengagum rahasia. Iya kan? Ayo ngaku!” Wajahnya menjadi sangat dekat denganku. Aku mendengus. “Idih, buat apa? Tidak perlu pura-pura, aku memang punya banyak pengagum rahasia,” kataku membalas candanya. Ia pun berlalu sambil terkekeh. Sepintas aku melihat kilat cemburu di matanya. Mungkin, Elina ingin dikirimi bunga juga.

Semenjak itu, aku semakin kerap menerima kiriman bunga berbagai rupa. Lagi-lagi tidak diketahui pengirimnya. Kartu-kartu yang melekat di sana hanya bertuliskan namaku. Sesekali disertai kalimat manis (cenderung norak) seperti “Have a nice day, Sunshine.” atau “Semoga kau suka, Sayang”. Misterius. Rumah kontrakanku sampai mirip pemakaman, saking banyaknya bunga-bunga yang berserakan di sana. Selain bingung, aku juga ketakutan. Jangan-jangan ini teror. Atau jangan-jangan, ini semacam upaya penyadapan, mengingat akulah pemegang rahasia keuangan perusahaan. Bahkan suatu kali, kubongkar bouquet itu untuk menemukan chip perekam atau kamera mikro di dalamnya. Nihil. Tidak ada benda-benda aneh itu. Tidak seorang pun mengaku mengirimkannya. Bunga-bunga itu seperti datang begitu saja dari luar angkasa.

“Mungkinkah itu Nieal?” bisik Elina suatu ketika. Suaranya sedikit ragu ketika mengatakannya. Aku terhenyak, lalu menatapnya tidak percaya. “Mungkin saja ‘kan? Di film-film banyak yang begitu. Rekan sekantor lalu saling jatuh cinta,” katanya sambil memainkan bola matanya. “Ngaco, ah,” tukasku, “tidak masuk akal. Masa dia suka padaku?” Elina tersenyum lebar. “Kalau begitu,Nieal suka padaku dong,” katanya centil. “Ge er. Mana? Nyatanya ia tidak mengirimimu bunga,” jawabku sambil terkekeh. Elina mendengus sebal. “Nieal, kirimin aku bunga, dong!” rantapnya lirih pada langit-langit. Jauh di dalam hati, aku mempertimbangkan dugaan Elina. Meskipun terdengar mustahil, kemungkinan itu bisa saja terjadi.
***
            Malang memang tidak dapat ditolak. Pagi ini memang hari sialku. Motorku mendadak merajuk, sama sekali tidak mau menyala. Terpaksa, aku menumpang taksi. Terlambat, tetapi lebih baik daripada tidak berangkat sama sekali. “Tumben. Ngos-ngosan sekali kelihatannya,” sapa Nieal ketika aku baru saja duduk. “Wah, panjang ceritanya,” jawabku sambil meraih beberapa lembar tisu untuk menyeka keringat di dahi. Ia tersenyum. “Bisakah aku minta rekap keuangan bulan lalu?” katanya setelah aku selesai menata nafasku. Sial. Aku terkesiap. Lembaran-lembaran itu masih tergeletak manis di meja kamarku. Dengan gugup kubuka dokumen di komputer. Sempurna. Aku baru ingat jika menyimpannya di flashdisk, dan seperti halnya lembar laporan, benda itu juga tertinggal di rumah. “Tidak masalah. Nanti kuantar kau pulang, sekalian mengambil berkas-berkas itu,” katanya sambil tersenyum menenangkan.

            Jalanan tampak padat. Rinai-rinai hujan turun dengan lembut dari angkasa. Bias-bias lampu jalanan memantul di kaca mobil. Di bangku kemudi, Nieal tampak tenang tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya. Sesekali jarinya mengetuk pinggiran kemudi mengikuti irama musik di radio. Mobil berhenti di pelataran rumah kontrakanku. Terdengar gemretak ban melindas hamparan krikil. “Masuk dulu saja,Yal,” kataku sambil membuka pintu mobil. “Oke,” jawabnya singkat.

Kuaduk-aduk isi tas untuk menemukan kunci rumah. Setelah berhasil membuka pintu, aku mempersilakan Nieal untuk masuk ke ruang tamu yang merangkap ruang tengah, ruang makan dan ruang kerjaku. Aku memberinya isyarat untuk duduk, sementara aku berjalan ke dapur. “Ini, sambil menunggu,” kusodorkan sekaleng minuman ringan kepadanya. “Oh, thankyou,” katanya sambil meraih kaleng yang kusodorkan. Aku pun melangkah ke kamar untuk mengambil berkas-berkasku. Dari ambang pintu bisa kulihat bayangan Nieal yang sedang menikmati minumannya. “Benarkah dugaan Elina? Dia kah yang mengirimiku bunga-bunga itu?” batinku berbisik. Aku buru-buru menggeleng, menepis angan liar itu.

            “Ini, Yal,” kataku sambil mengulurkan lembaran laporan ke hadapannya. Ia meyambutnya sambil mengangguk. “Maaf, belum sempat beres-beres, jadi ya begini deh,” kataku sambil meraih tumpukan bouquet yang mulai mengering dari meja. “Santai. Tempatku juga begini kok,” katanya kalem. Bohong. Nieal adalah pria yang rapi dan cinta kebersihan. Begitulah yang kusimpulkan saat mengunjungi apartemennya suatu kali. “Gara-gara banyak bunga, nih. Aku sampai tidak tahu lagi harus meletakkannya dimana,” kataku sambil menyapu rontokan bunga di lantai. “Bunga adalah lambang romantisme. Harusnya kau senang,” kata Nieal sambil mengamatiku mengumpulkan serpih-serpihan bunga.

            Makin malam, hujan justru turun makin deras di luar. Kami duduk berdua di ruang tamuku yang hangat. “Aku tidak tahu lagi bagaimana menghadapi Mama,” ucap Nieal tiba-tiba, memecah keheningan di antara kami. Tatapannya menerawang, tangannya memainkan kaleng minuman yang telah kosong. “Beliau terus mendesakku untuk menikah dengan perempuan yang tidak akan pernah kucintai,” katanya parau. Aku terdiam. Mencoba merasakan kegamangannya. Ia menoleh padaku, menatap tajam ke mataku. Aku terhenyak. Ia terus menatapku, seolah ia bisa melihat jauh ke dalam jiwaku. “Sulit,” katanya lirih “bila ternyata aku jatuh cinta pada orang lain.” Sepasang mata coklat terang itu terus menatapku. Aku mencoba untuk bergerak atau berbicara, namun gagal. Aku seperti lumpuh.

            Kurasakan tangannya menggenggam tanganku. Sejenak tubuhku seperti mati rasa. Tiba-tiba aku disergap rasa takut yang luar biasa. Tatapannya tidak beralih dariku. Tatapan itu berubah sangat mesra. Jatungku berdetak hebat. “Kuharap bunga-bunga itu telah mengatakannya padamu,” katanya lembut. Aku nyaris melonjak, jika saja tubuhku tidak kaku. Rupanya benar dugaan Elina. Nieal menaruh perasaan padaku. Ya Tuhan. “Aku sungguh-sungguh. Hanya kau yang membuat hatiku tenang. Sejak bertemu denganmu, aku tahu you’re the one,” katanya sambil terus menggenggam tanganku erat. Tatapannya tidak berubah. Agaknya ia tidak tengah bercanda. Keheningan kembali menyeruak di antara kami. Aku bahkan tidak sanggup bernapas. Kulitku merinding, kudukku meremang.

“Nieal,” kataku setelah bisa menguasai diri. Perlahan kulepaskan genggamannya dari tanganku. “Begini. Aku sangat menghargaimu. Persahabatan kita memang dekat dan aku pun merasa nyaman denganmu,” kataku sambil mencoba memilih kata-kata yang tepat. Nieal tersenyum, menunjukkan dua lesung pipi yang menambah manis wajahnya. Matanya terus menatapku, menunggu kalimat selanjutnya.

            “Kau orang baik, Nieal,” suaraku tercekat di tenggorokan. Aku memacu otakku untuk berpikir cepat. “Tapi,” ucapku hati-hati, “aku tidak bisa. Maksudku..bukan yang seperti ini. Kuharap kau memahami, ini tidak mungkin bagiku.” Senyumnya memudar. Gurat kecewa menyelimuti wajahnya. Segera kurangkul pundaknya, kutatap dalam ke matanya.

 “Aku menyayangimu sebagai sahabat, Nieal. Kau telah kuanggap sebagai keluarga, seperti adikku sendiri.” Aku merangkulnya erat. “Jangan khawatir, Nieal. Kau tidak perlu takut kehilanganku,” ucapku menenangkannya, “karena, apapun yang terjadi, aku akan selalu jadi abangmu.”
Hujan turun dengan deras di luar, menghujam tajam ke lantai bumi.


Sleman 10/02/2015

RELATED POSTS

0 comments