Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Segitiga Pink Terbalik [Cerpen #IDAHOT2015]

01.13 PLUSH Online 0 Comments Category : , , , , , , , , , ,

Oleh : Ahmad Syafuddin


Letupan suara senapan saling bersautan mengiringi degup jantungku yang berdetak kencang. Ruangan ini sangat mencekam. Di dalam remang, aku melihat kawanku terengah-engah menahan sakit karena tertembak di kaki kanannya. Seorang kawan membantu dengan mengikat lukanya dengan kain seadanya. Tetapi darah terus mengalir. Waktu berjalan begitu lambat hingga aku bisa merasakan bulir-bulir keringat menetes perlahan. Aparat berteriak-teriak menyeru suapaya kami menyerah. Kami semua terkepung di dalam ruangan camp ini bersama orang-orang yang dianggap menyimpang. Menyimpang adalah bahasa mereka menyebut kami yang berbeda secara orientasi seksual. Kami dianggap penyakit dan harus direhabilitasi di dalam camp atau bahkan dihukum mati agar masyarakat tidak meniru kami.  
Kami jelas bukan lawan mereka yang sepadan. Bom molotov dan ketapel hanyalah alat perlawanan kami. Dari segi jumlah, kami pun tak seberapa dengan mereka. Apapun yang terjadi, perlawanan ini telah berbuah. Akhirnya aku berhasil kekasihku. Dia meremas bahuku dengan kuat. Giginya gemeretak ketakutan. Pikirannya linglung, mungkin efek terapi hormon yang diterimanya secara paksa
Beberapa kali aparat melepaskan tembakannya. Kami menyembutnya dengan lemparan bom molotov yang tinggal beberapa. Di dalam kekecauan ini tiba-tiba terasa hening. Pikiranku menderu lebih cepat dari berjalannya waktu. Kami tidak bisa bertahan seperti ini. Tidak ada pilihan lain selain melawan kembali.

3 Maret 2015
            Telponku berdering terus walau aku sudah mencoba mengacuhkannya. Ini panggilan ketiganya, aku terusik dan menerima panggilan itu. Dari jauh sana kurasakan deru nafasnya terengah-engah.
            “Gawat...gawat..!” Nestor berteriak dari ujung telpon.
            “Tenang..tenang.. ada apa?” Aku bertanya.
            “Hukuman mati untuk gay! Kamu harus datang ke basecamp sore ini. Aku tunggu!”
            “tut.....tut....tut” Panggilan berakhir.
            Sore itu juga aku datang ke basecamp setelah menembus hujan yang cukup deras. Dari luar basecamp aku melihat beberapa motor berserakan di halaman. Dari luar sayup-sayup terdengar perdebatan. Telingaku mengenali suara-suara itu, suara-suara dengan nada yang selama ini tidak pernah aku dengar sama sekali. Batinku bertanya-tanya, ada apa gerangan?
            Aku berdiri di depan daun pintu dan mengamati apa yang sedang mereka lakukan. Tetapi justru tatapan mereka menghardikku. Di saat-saat seperti ini sepertinya semua serba salah. Mengucapkan salam salah karena aku terlambat. Tersenyum juga bukan ide yang bagus melihat wajah mereka yang serius. Nestor menghampiriku dan memberikan pelukan “persaudaraan” seperti biasanya. Aku duduk bergabung dengan mereka dan seketika gaduh pecah menggelora kembali.
            Aku diam dan mengamati sesaat. Perbincangan mereka menyoal Fatwa yang hari ini dikeluarkan oleh MUI mengenai homoseksualitas, sodomi dan pencabulan. Dari judul fatwanya saja sebenarnya aku geli. Bagiku mereka-mereka yang mengaku kyai itu tidak paham sama sekali mengenai seksualitas. Bagaimana mereka bisa menyandingkan homoseksualitas yang merupakan orientasi seksual dengan sodomi (perilaku seksual) dan pencabulan (kriminal). Ngawur! Tetapi aku sadar kengawuran mereka itu jelas berbahaya bagi kami, komunitas LGBT di Indonesia.
“Kita semua harus tenang dan dingin menyikapi fatwa ini. Fatwa hanya anjuran untuk umat Islam saja, bukan hukum.Negara Indonesia kan negara hukum. Jangan sampai reaksi kita mengusik masyarakat yang sejauh ini netral terhadap komunitas LGBT.” Kata Obhie, direktur LSM LGBT Jogja.
“Tidak bisa Obhie! Kita tidak bisa melihat masalah ini secara Parsial. Sudah ada beberapa Perda yang mendiskriminasikan LGBT dan kali ini muncul Fatwa MUI. Ini jelas masalah struktural! Kita harus mulai melawan sebelum terlambat.” Nestor menanggapi.
“Melawan? Melawan dengan apa?” Kata Obhie.
Seketika rapat menjadi gaduh.
“Jika kita diam hari ini, aku yakin akan banyak kebijakan negara yang diskriminatif terhadap LGBT. Di hari itu juga kekerasan terhadap LGBT adalah suatu hal yang halal!” Nestor berkata dengan nada tinggi.
“Kamu jangan jadi provokator Nestor!” Obhie menghardik.
            Kanan dan kiri, sepanjang sejarah aku menyaksikan bagaimana mereka terus berseteru. Gerakan LGBT hari ini adalah gerakan monolitik yang berkiblat pada gerakan-gerakan liberalisasi. Bagaimana kedua kutub ini bisa bertemu di dalam solusi bersama jika mereka melihat masalah dengan cara yang berbeda. Seperti malam ini, kurasakan perseteruan epik itu melalui diskusi tanpa konklusi. Keputusan gerakan akhirnya bukan berdasarkan argumen berbobot tetapi siapa bersuara lebih banyak. Si pihak yang sedikit mau tidak mau harus menerima atas nama demokrasi. Sebuah demokrasi semu. Kulihat bara api menyala-nyala dari mata Nestor. Tatapan seorang kesepian yang sedang marah dan sedih. Bulir-bulir keringat terhempas dari ubun-ubunnya melewati kacamata bulat yang gagangnya diselotip karena patah. Dia terlihat diam, namun kurasakan gelora dari dalam dirinya.
            Nestor menatapku dalam, matanya yang berkaca-kaca. Dia mencari seorang teman, tetapi mulutku tak bisa berkecap. Dia berdiri lalu berjalan sempoyongan ke pintu keluar.Terakhir dia mengebrak pintu dengan sangat keras. Semua orang menganggap itu sebagai angin lalu. Seperti angin malam yang berganti dengan angin siang. Sejak malam itu dia menghilang, tanpa kabar, tanpa perpisahan.
            Nestor, si laki-laki kesepian.

17 Mei 2022
            Kerumunan ramapi itu terpecah ketika sekelompok orang bernyanyi-nyayi dan bersorak-sorak. Semua perhatian mengarah kepada mereka. Kerumunan eksklusif yang sebagian diantara mereka membawa bendera pelangi kecil-kecil ditangannya, sebagian membawa spanduk bertulisan “equality” disertai dengan simbol-simbol gerakan LGBT libertarian. Cahaya blitz lampu kamera menghujam seperti kilat pada badai. Bersaut-sautan menangkap semua momen yang ada. Hari ini adalah momen yang spesial bagi mereka. Selebrasi, sorak, dan mereka menggelora.
            Aku duduk tidak jauh dari mereka. Rasanya sedikit aneh melihat pemandangan seperti ini. Sudah lama sekali aku berhenti dari gerakan LGBT. Bagiku perjuangan liberal ala-ala barat hanya kesia-siaan.  Di antara kerumunan, mataku menelisik mencari seseorang yang memaksaku datang ke acara ini. Katanya aku harus datang ke perayaan tahunan LGBT yang dikenal dengan IDAHOT (International Day Aganist Homophobia and Transphobia). Katanya mereka mengadakan flashmob malam ini dan aku harus bergabung karena aku adalah bagian dari komunitas LGBT. Sebenarnya bukan karena bagian dari komunitas LGBT aku memutuskan untuk datang kesini, tetapi itu semata karena dia. Sejak kami berdua menyatakan saling mencintai. Aku menjadi sangat susah untuk menolak ajakannya, apalagi sebuah ajakan yang menurutku positif.
            Dia berjingkrak-jingkrak di depan Tugu Jogja bersama teman-teman seperjuangannya. Begitu menyenangkan melihatnya berbahagia. Tetapi sorak-sorai mereka berubah jeritan. Sekelompok orang berjubah putih datang tiba-tiba. Mereka mengangkat galah tinggi-tinggi sambil bertakbir. Aku terperanjat dan berlari menuju kekasihku. Kerumunan itu pecah ke berbagai arah. Kulihat dengan seksama bagaimana galah kayu itu menghantam kepalanya dan membuatnya tersungkur ke tanah. Kuraih dirinya yang tidak berdaya. Kepalanya bersimbah darah.
            “Bubar..bubar!” Teriak si pemukul.
            “Stop..stop.” Aku mencoba meredakan amarahnya.
            Kulihat amarah dari bola matanya yang tersembunyi di balik sorban putih. Bagaimana dia bisa semarah itu terhadap kami? Kesalahan apa yang telah kami lakukan? Aku memapah kekasihku cepat-cepat dan pergi dari tempat itu. Biarlah malam ini kami terluka supaya selamat.
Barisan yang bergembira itu pecah berserakan. Sungguh menyedihkan, apalagi jumlah mereka sebenarnya lebih banyak dari si penyerang. Dunia adalah perulangan. Dan sejarah kembali berulang malam ini. Aku sangat benci!

***
Beberapa hari setelahnya,
Komunitas LGBT melaporkan penyerangan tersebut ke Polisi. Namun sepertinya mereka tidak menanggapi pelanggaran HAM berat itu secara serius. Beberapa kali kami mendesak kepolisian untuk mengusut kasus itu sesegera mungkin, tetapi mereka berkilah kami kekurangan bukti. Bukti apa lagi yang sebenarnya mereka minta? Tidak cukupkah visum, foto dan video. Bahkan jika mereka mau tegas, kelompok radikal secara terang-terangan membuat pernyataan atas penyerangan LGBT melalui media sosial mereka. Negara Indonesia adalah negara hukum, tetapi supremasinya tidak tegak sama sekali. Lalu apa yang seharusnya kami anut?
LGBT menjadi headline di koran pagi maupun online. Ternyata, penyerangan tidak hanya terjadi di Jogja, tetapi juga di kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Makasar. Bahkan lebih parah lagi, beberapa orang meninggal karena penyerangan tersebut. Aku begidik membaca koran itu. Belum pernah ada peristiwa kelam seperti ini sepanjang sejarah Indonesia. Beberapa LSM LGBT didukung oleh Komnas HAM melakukan langkah reaksioner, mereka muncul di media televisi mengutuk keras penyerangan yang dilakukan oleh kelompok radikal. Mereka meminta presiden untuk mengambil tindakan. Namun sayang, presiden yang dipilih olek komunitas LGBT itu diam. Dia mengutus juru bicaranya yang pandai berbicara politik untuk menanggapi koar-koar itu. Terlihat jelas, presiden sendiri sangat berhati-hati dalam mengambil sikap. Politik oportunis.
Sepulang kerja aku menyempatkan diri untuk mampir ke kos kekasih. Kuketuk daun pintu kamarnya berkali-kali tetapi tidak dijawabnya. Biasanya dia sudah berada di kos jam-jam sore seperti ini. Kuputar gagang pintu kamarnya, tidak terkunci. Aku terhenyak ketika melihat kamarnya berantakan seolah baru saja terjadi perampokan. Aku bertanya kepada tetangga kos sebelah. Katanya dia melihat Ben, kekasihku, dibawa oleh polisi. Aku merasa lemas tak berdaya.
Aku segera pergi ke basecamp komunitas LGBT untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Tetapi diluar dugaan, ketika aku sampai di depan basecamp. Mobil polisi sudah terparkir di halaman depan. Kulihat beberapa kawan diseret paksa lalu dimasukkan ke dalam mobil. Aku pun segera berlalu mengindari tempat tersebut.
Ketika aku berjalan menjauhi basecamp, aku merasa ada seseorang yang mengikutiku dari belakang. Jantungku berdegup kencang, aku merasa terintimidasi. Ketakutan yang pelan-pelan muncul menjadi nyata. Aku mempercepat langkahku agar bisa menghindarinya. Ketengok belakang dan seketika itu dia berlari mengejarku. Aku pun berlari sekencang mungkin walau akhirnya dia bisa meraih diriku dengan sergapannya yang sangat kuat. Kami berdua tersungkur ke tanah.
“Sal...Faisal..tenang!” Dia memanggil namaku.
Bagaimana dia bisa tahu namaku? Aku pun menjerit-jerit, memberontak sekenanya.
“Aku Basquiat, kita dulu sama-sama aktif di komunitas LGBT.” Katanya.
Aku pun mereda, pelan-pelan dia melepaskan sergapannya. Aku mencoba mengatur nafas sebelum berkata kepadanya.
“Kenapa kamu mengikutiku?” Aku bertanya heran.
“Aku melihatmu di depan basecamp tadi.” Jawabnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak tahu. Matanya berkaca-kaca. Sepertinya kami didera kebingungan yang sama.
“Kawan-kawan ditangkap! Mereka semua dibawa ke camp.”
Aku semakin lemas mendengar kata-katanya. Terbayang wajah kekasihku yang ketakutan akan siksaan yang diterimanya. Dunia berubah begitu sangat misterius dan pelik.
“Kita harus segera pergi menemui Warhol.” Katanya.

***
Di rumah Warhol,
Kami masuk rumah ini dari pintu belakang. Mengendap-endap seperti pencuri, melihat ke kanan-kiri untuk memastikan tidak ada satu pun orang yang melihat keberadaan kami. Rumah ini sangat besar, begitu besar dan indah dengan taman yang mengelilingi rumahnya. Warhol beranjak dai kursi goyangnya ketika melihat kami tiba di rumahnya. Dia memeluk Basquiat dengan erat, raut kekhawatirannya luruh seketika.
Warhol terlihat sangat familiar bagiku. Wajahnya, penampilannya, namanya! Aku mencoba mengulik memori dimana aku bertemu dengannya sebelumnya. Kulihat beberapa lukisan yang terpajang di dinding temboknya. Lukisan penuh hasrat dan makna. Seketika aku mengingat dirinya, seseorang yang pernah aku temui di Biennale Jogja. Dia seorang seniman besar. Dia seorang LGBT?
Segelas kopi melesat di meja depanku. Uap panasnya mengepul berayun-ayun menggodaku untuk menyeruputnya di tengah udara malam yang dingin. Ternyata tidak hanya aku sendiri yang diajak Basquiat ke rumah ini. Katanya rumah ini lebih aman daripada tempat lainnya. Aman? Bagaimana tempat ini menjadi aman ketika di tengah arus kriminalisasi LGBT yang begitu kuatnya. Tidak ada kata yang lebih tepat dari terancam untuk menggambarkan keadaan kami. Di rumah besar sepi yang pagar dan pintunya bisa ditembus siapapun dengan paksa.
“Kita tidak bisa berharap pada lobi-lobi politik saat ini. Partai mayoritas secara terang-terangan telah menolak LGBT.” Kata Basquiat.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” Aku bertanya.
“Jika kita tidak bisa melawan melalui proses demokratis. Kita hanya punya pilihan untuk melakukan perlawanan bawah tanah.” Jawabnya.
“Maksudnya?”
“Pemberontakan bawah tanah. Gerilya. Anarkhi!” Jawab Basquiat dengan serius.
“...........................”
Sudah beberapa hari Basquiat mengamati beberapa kawan LGBT ditangkap satu-satu di rumahnya masing-masing. Tidak ada alasan pasti kenapa mereka ditangkap, ini jelas kriminalisasi. Tidak banyak informasi yang kami peroleh. Beberapa kawan yang mencoba menghubungi aktivis LGBT di Jakarta memperoleh informasi terbatas bahwa DPR sedang membahas RUU Pemurnian Masyarakat. Pemurnian masyarakat? Seharusnya bukan masyarakat yang dimurnikan, tetapi DPR yang korup itu. Beberapa pasal dalam undang-undang tersebut secara gamblang mengatakan larangan bagi eksistensi LGBT di Indonesia. Hukumannya pun secara jelas tertulis, rehabilitasi, penjara atau hukuman gantung di depan publik. Aku benar-benar kehilangan logika dan muak mendengarnya.  
RUU itu sepertinya akan berjalan dengan mulus karena diusung oleh partai berbasis agama dan didukung sepenuhnya oleh militer. RUU ini bukan gerakan reaksioner tetapi sebuah proses panjang. Dengar-dengar pada akhir tahun 2014, militer menginisiasi pertemuan membahas “LGBT dan ketahanan negara”. Menurut mereka ketahanan negara akan melemah jika LGBT merebak di dalam masyarakat. Kegilaan apa lagi ini? Tanyaku dalam hati.
Pertemuan itu dihadiri oleh kelompok-kelompok agama, pemuka masyarakat dan LSM konservatif. Pertemuan tersebut terbuka tetapi terbatas dan eksklusif. Hasilnya dari acara tersebut sangat mengancam eksistensi LGBT. Masing-masing pihak berupaya untuk menanggulangi “penyakit” LGBT. Mereka bergerak terang-terangan dengan membuat RUU yang menentang LGBT. Di bawah tanah mereka membentuk kelompok-kelompok radikal seperti FUI, FPI dan forum-forum lainnya untuk mengintimidasi gerakan LGBT.
Kepalaku pening membayangkan siapa yang sedang kami hadapi sekarang. Musuh kami ternyata bukan hanya kelompok radikal tetapi juga negara! Sejak hari itu kami mulai mengumpulkan kawan-kawan LGBT yang tersisa. Ada yang dengan mudah bergabung, ada pula yang mengelak. Di sisi lain banyak LGBT yang bersembunyi dengan terpaksa atau dipaksa menikah dengan lawan jenisnya. Miris!   
Tidak banyak orang yang berhasil kami kumpulkan tetapi kami cukup solid. Kami satu suara untuk melakukan perlawanan terhadap kesewang-wenangan yang terjadi. Jika jalur demokratis tidak bisa ditempuh, maka gerilya menjadi satu-satunya kata bagi kami.
Basquiat tergopoh-gopoh memanggil kami semua ke ruang tamu. Dia mendapat informasi di mana kawan-kawan kami ditahan selama ini. Sebuah camp yang menjadi pusat rehabilitasi LGBT. Hari perlawanan itu akhirnya tiba juga. Aku berharap-harap cemas semoga itu benar. Semoga dia, kekasihku, berada disana. Perjuangan ini untuk komunitas LGBT dan untuknya.

4 Mei 2023
Tiga hari yang lalu, peringatan Mayday menjadi peringatan paling berdarah sepanjang sejarah Indonesia. Aksi besar-besaran yang terjadi di kota-kota besar berakhir ricuh. Banyak demonstran yang harus kehilangan nyawa. Mereka adalah martir bagi buruh dan petani yang semakin tercekik dengan harga-harga yang melambung tinggi. Sementara di sisi lain yang kaya semakin kaya. Surplus value terendap di kelas-kelas masyarakat elit yang semakin serakah. Hari ini jangankan sekolah dan rumah sakit, tempat tinggal dan air bersih menjadi barang mahal. Kerusuhan terjadi dimana-mana. Di tembok-tembok, mereka menjerit melalui grafiti. Fasilitas publik dijarah oleh kemarahan mereka.
Polisi dan militer turun ke jalan untuk menetralkan keadaan. Mereka tak segan-segan menembak orang-orang yang dianggap subversif. Negara-negara global mengutuk kericuhan yang terjadi di negara ini. Tetapi mereka hanya sebatas mampu berucap sementara darah terus mengalir di jalan-jalan, di lorong-lorong dimana rakyat yang termarjinalkan berupaya untuk melawan.
Di tengah kekacauan yang terjadi, ini adalah momen yang tepat untuk melakukan perlawanan. Kami sudah menyiapkan ketapel dan bom molotov untuk menyerang camp rehabilitasi LGBT.  Tetapi bukan itu sebenarnya senjata kami yang sesungguhnya. Hanyalah kebenaran yang menjadi senjata kami satu-satunya.
Bulan berdiri gagah benderang dibalik bayang-bayang awan-awan gelap. Keadaan begitu hening hingga aku bisa mendengar degup jangtungku yang berdetak sangat kencang. Aku dan kawan-kawan lain telah menunggu di selokan belakang camp. Menunggu aba-aba, sebuah ledakan yang dilepaskan oleh tim lain yang menyerang dari depan.
“Duuuuar!” Suara molotov menggema.
Serangan pertama dimulai, mengguncang pos keamanan dan sekaligus jangtungku. Jangtungku berdetak sangat cepat hingga tak bisa kurasakan. Kami bergerak dan segera membongkar teralis pagar dan masuk camp.
Beberapa penjaga yang mengetahui keberadaan kami, lumpuh terkena batu ketapel. Kami pun memasuki ruang demi ruang untuk menemukan kawan kami. Hatiku tersayat ketika menemukan kawan-kawan waria dipotong paksa rambutnya. Mereka juga tampak linglung, efek dari terapi hormon yang mereka terima secara paksa. Ruang demi ruang telah kumasuki tetapi aku tak kunjung menemukan dirinya, kekasihku. Aku tidak punya banyak waktu lagi, kami harus segera pergi dari tempat ini. Hatiku hancur rasanya.
 Tiba-tiba Obhie muncul dari kerumunan. Dia memanggil-manggilku sekenanya.
“Faisal...!..Ben... Isolasi!.” Katanya terbata-bata.
Aku dan kawan-kawan pun segera berlari menuju ruang isolasi. Aku bertemu dengan Basquiat yang telah lebih dulu sampai di sana. Kami pun memasuki ruangan itu. Gelap dan lembab, betapa mencekam ruangan ini. Dibalik gelap ruangan ini kutemukan terang bahagia. Aku menemukan kekasihku berada di salah satu ruangan yang dibatasi dengan teralis besi. Kubuka teralis itu dan kusambut dirinya dengan pelukan erat. Tetapi kami tidak bisa berbahagia terlalu lama, aparat telah mengepung kami. Satu orang kawan kami tertembak di kakinya. Kami berlindung dari balik tembok dari serbuan peluru yang mereka tujukan kepada kami. Beberapa bom molotov kami lemparkan sebagai balasan tetapi sepertinya itu tidak ada artinya.
Aku merasa kekuatan kami tidak sepadan dengan mereka sekarang. Kekasihku memegang erat bahuku. Apakah kami harus berakhir mati ditembak setelah perjuangan panjang ini? Aku tidak rela. Aku mencium bibirnya, ciuman dalam penuh arti. Aku tidak ingin dirinya berakhir disini malam ini. Kuraih beberapa bom molotov dari Basquiat. Aku merelakan genggaman kekasihku dan berlari menyambut mereka, aparat keparat. Basquiat berusaha melarangku, tetapi tekadku sudah bulat. Kunyalakan molotov satu demi satu dan membumbungtinggikan bola-bola itu ke arah mereka.
Tembakan demi tembakan membalas lemparan molotov tetapi aku sempat menghindar. Kini hanya ada dua molotov yang tersisa di tanganku. Ini adalah puncak perlawanan. Aku memejamkan mata sejenak. Aku tidak ingin takut akan kematian lagi. Apa yang lebih indah dari kematian atas nama cinta? Aku bangkit, berlari sekuat mungkin keluar dari ruangan itu. Beberapa peluru melesat dan menyerempet tubuhku. Disaat-saat terakhir aku sempat melemparkan molotov ke arah mereka.
Se4perti inikah rasa sakit? Darah itu merah. Kulihat mereka dengan seragam negara bersenapan laras panjang yang dibeli dari uang pajak rakyat. Bola-bola molotov ini hadiah untuk mereka. Melesat, pecah dan meledak tepat di hadapan mereka. Mereka terpental tak berdaya. Sementara aku tersungkur tak berdaya dengan darah yang mengucur.
Seperti inikah akhir? Aku merasakan tiap tetes demi tetes darah yang mengalir dari tubuh. Dingin dan semakin dingin, menjalar dari ujung tubuh. Kudengar detak jantungku yang berdegup semakin pelan. Deru nafas pelan-pelan melambat. Berat sekali membuka mata. Oh aku ingin semua berakhir dengan tenang.
“Tunggu! Siapa mereka? Mereka menembaki aparat yang menyerang kami.” Beberapa orang dengan senapan muncul dari gelap malam. Aparat jatuh satu demi satu. Satu orang datang menghampiriku. Memeriksa tengkuk leherku lalu mengangkat tubuhku.

***
Tubuhku terhuyung, bergoyang-goyang tak berdaya ketika truk berjalan di tanah bebatuan mokodam. Aku merasakan udara sekitarku lebih dingin dan lembab seolah sedang melintasi daerah pegunungan. Kubuka mataku pelan-pelan, mencoba meraba di dalam remang. Kulihat sosok yang sangat kukenali. Dia menghampiriku ketika tahu aku mulai sadar.
“Nestor?”
 Dia memegang tanganku erat. Matanya berkaca-kaca. Mulutnya tertutup rapat, menahan tangis yang ingin meledak. Diciumnya keningku berkali-kali. Sepertinya perjuangan belum akan berakhir. Perlawanan akan terus membara.
Kilat cahaya melesat sekelebat memantul dari pin yang tersemat di dada Nestor. Sebuah pin berbentuk lingkaran dengan simbol segitiga warna pink.

“Segitiga pink terbalik.” 

RELATED POSTS

0 comments