Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Ratu Kencana Wungu [Cerpen #IDAHOT2015]

01.08 PLUSH Online 0 Comments Category : , , , , , , , , , ,

Oleh: Wisesa Wirayuda

Aku Adalah Penari
Tubuhku berlenggak-lenggok perlahan. Kain selendang berwarna merah aku mainkan. Kuputar-putar, kulempar, kulilitkan di tanganku. Aku bergerak mengikuti irama lagu yang dimainkan oleh para pengrawit di belakangku. Setiap patahan-patahan yang kuciptakan menggunakan tubuhku selalu selaras dengan tepukkan kendang yang bertempo. Aku menari. Tarian tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Aku adalah penari. Penari tarian tradisional, apa saja. Namun aku lebih bisa menjiwai diriku sendiri jika aku menari Tari Topeng Klana.
Saat topengnya menutupi wajahku, aku tak perlu lagi memikirkan apa yang dipikirkan penonton tentang rupaku. Aku bisa menangis ataupun tertawa dalam topengku. Yang perlu kulakukan hanyalah menari. Menggerakan tubuhku secara indah mungkin. Menggerakan tubuhku secara gemulai.
Aku juga tak perlu memikirkan problematika yang terjadi dihidupku. Aku  bisa melupakan sejenak semua masalahku. Aku tidak peduli pada apa yang terjadi. Aku terfokus pada diriku. Aku terfokus pada gerak. Aku menari.
Aku memang terlahir untuk melakukan gerakan-gerakan sakral ini. Aku memang terlahir menjadi penari. Namun Kartu identitasku berkata lain, disana aku tertulis sebagai seorang pengangguran. Dan, Laki-laki. Biarlah, bagiku itu hanyalah sederetan kata saja. Jauh di dalam diriku, aku adalah seorang perempuan.
Aku mendedikasikan hidupku untuk menari. Mungkin itu sebabnya aku belum juga memiliki seorang pendamping. Ah, sudahlah, lagipula siapa yang ingin menjadi pasanganku? Aku masih menikmati tarianku. Aku hanya belum memikirkan itu.

Pulang
Kulipat rapih kostum tariku itu. Kumasukkan kedalam tas kain berwarna hitam yang biasa menemaniku dari panggung ke panggung. Kurapihkan juga alat-alat make-up yang berserakan. Kulepas semua asesoris yang menempel di kepalaku. Dengan hati-hati aku mencabut alis mataku. Sampai seseorang datang mengetuk ruangan make-up.
Ternyata itu mas Juna. Pria yang aku tahu memiliki rasa padaku. Aku mengetahui itu tanpa dia mengatakannya padaku. Terlihat dari cara ia memandangku.
“Rani, boleh mas antar kamu pulang?” katanya sembari kepalanya menengok kedalam ruang make-up.
“Aku bisa pulang sendiri, mas.”
“Ini sudah malam, nanti kalau ada yang jahat sama kamu bagimana?”
“Tidak ada yang jahat di kampung ini, mas. Dan aku juga bisa menjaga diriku.”
“Kali ini saja, mas janji. Mas Juna memang paling pandai dalam memaksa, terutama memaksa perempuan untuk pulang dengannya.
“Terima kasih, mas. Aku bisa pulang sendiri. Rumahku tak begitu jauh juga”
Mas Juna masuk dan memperkecil jarak diantara kami. Ia taruh kedua tangannya di pundakku. Dan menatap wajahku melalui cermin. “Kau tahu tentang perasaan mas padamu, kan?”
“Maaf, mas.” Aku melepaskan tangan mas Juna dari pundakku. “Mas, sudah beristri”
“Tapi, aku tidak mencintai istriku. Aku tahu mas Juna selalu mengatakan itu pada semua perempuan yang ia temui, jadi tak seharusnya aku percaya begitu saja.
“Tidak boleh berkata seperti itu. Istri mas sangat mencintai mas. Aku bisa melihat kegigihan cintanya pada mas, aku bisa melihat dari matanya, mas. Dia sangat bangga memiliki mas sebagai suaminya.”
“Mas hanya menginginkan kamu, Rani”
“Mas, aku ini...”
“Mas tahu, Rani. Mas tidak peduli kata orang. Kau tahu itu.”
Aku sudah lelah dengan caranya mendekati aku seperti ini. Aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta. Apalagi kepada seseorang yang sudah beristri. Aku bukan perempuan macam itu meskipun aku tahu teman-teman sesama penari pasti akan dengan mudahnya menerima tawaran itu. “Maaf mas, aku harus pulang.” Aku berdiri dari kursiku. Merapihkan semua yang masih berserakan secara sembarangan kedalam tasku.
Mas Juna hanya terdiam melihatku pergi. Tapi aku tak perduli. Aku tetap melangkah keluar. Meninggalkan satu-satunya pria di kampung ini yang bisa terang-terangan tentang perasaannya terhadapku. Disaat laki-laki lain hanya menggodaku ketika aku di panggung.
Aku berjalan kaki menyusuri jalan yang sudah sepi dan sangat gelap. Kampungku ini memang sangat minim pencahayaan, aku heran kenapa kepala desa itu bisa dipilih untuk keduakalinya. Aku mengandalkan lampu-lampu dari beberapa motor yang melewat. Dari motor-motor yang sesekali berhenti untuk sekedar menggodaku. Namun aku acuh. Mereka hanya remaja yang cari perhatian. Remaja bau kencur yang tak tahu malu. Remaja yang tak tahu hormat kepadaku.
Sembari aku gerak-gerakkan tanganku seperti sedang menari. Aku terus melangkah. Aku terus berjalan kedepan. Aku tidak memikirkan apapun sekarang. Aku berfokus pada karirku sebagai penari. Aku hanya berfokus pada diriku sendiri.

Pagi
Kuremas kostum yang kepakai tadi malam, kugosok menggunakan sikat secara perlahan menjaga agar tidak merusak kainnya. Kemudian aku bilas dengan air bersih. Dan kugosok lagi. Pada akhirnya setelah terasa bersih, aku masukkan ke dalam ember anti pecah berwarna hitam.
Kubawa ember itu keluar. Terik matahari langsung menyoroti mukaku yang sedikit berkeringat. Kemudian aku peras baju itu beberapa kali lagi dan menggantungnya di untaian kawat.
Saat aku sedang menjemur bajuku aku samar-samar mendengar ada yang berbicara. Begitu aku tengok ke arah kiriku, ternyata ada beberapa tetanggaku yang sedang berkumpul. Tangan mereka menutupi mulut ketika berbicara. Dan beberapa kali satu dua orang melirik padaku. Dan ada juga yang tertawa terbahak-bahak.
Aku mengerti sekali mereka sedang membicarakan siapa. Entah apa yang ada di otak mereka. Aku hanyalah objek pembicaraan mereka. Wanita-wanita tolol yang tak bisa menjaga perkataannya. Wanita-wanita pemalas yang mengandalkan lelaki untuk sesuap nasi. Dan menghabiskan waktu mereka dengan bergunjing.
Tak mau aku menghabiskan tenagaku untuk mendengarkan mereka. Jadi setelah aku selesai menjemur baju tariku, aku kembali kedalam rumahku untuk makan.
Kukeluarkan nasi kotak sisa tadi malam, dan mulai memakannya. Aku tak keberatan makan makanan seperti ini asalkan aku bisa makan dengan hasil keringatku sendiri. Toh, lagi pula isinya daging ayam.
Sampai akhirnya seseorang mengetuk pintu kontrakanku dengan kencang. “Ya!” teriakku. Aku bergegas membukakan pintu.
Begitu pintu kubuka. Seorang perempuan melayangkan tangannya ke wajahku. Sakit sekali rasanya. Aku usap-usap pipiku dan mencoba untuk melirik pada wanita itu.
“Jaga tangan kotormu dari suamiku, dasar manusia jadi-jadian!” sentaknya.
“Aku tidak mengerti.” Kataku singkat.
“Aku tahu kau bermain bersama suamiku dibelakangku. Mengaku saja dasar penari murahan!”
Aku terdiam sejenak, mencerna apa yang baru saja ia katakan. “Kau boleh menyebutku wanita gatal, manusia jadi-jadian atau apapun yang kau mau. Tapi jangan pernah kau menghina  satu-satunya hal yang kucintai di dunia ini!” aku menoleh ke arah wajah Santi. Dia begitu geram padaku. Geram untuk sesuatu yang tidak kulakukan. “Dan satu hal lagi, aku tidak pernah melakukan apapun dengan suamimu itu. Aku tidak pernah menyentuh suamimu yang tidak setia itu.” Aku sedikit berbohong pada bagian ‘menyentuh’, namun aku tak peduli. Yang jelas memang benar bahwa suaminya tak setia.
Kemudian setelah ia puas menatapku dengan begitu tajam. Ia pergi tanpa permisi. Meninggalkan sebuah rasa nyeri di pipi.
Kudengar tetanggaku yang semenjak tadi masih duduk-duduk manis ditempat yang sama, menertawaiku lebih keras dari sebelumnya. Dan satu dari mereka berteriak, “Biar tau rasa! Suami orang kok diembat juga!” dilanjutkan dengan tertawaan menghina dari yang lainnya.
Tak kuasa menahan malu, aku tutup pintu yang seharusnya tak kubuka tadi dan menguncinya. Aku tak peduli siapapun yang datang. Tak akan aku buka pintu ini.
Aku mulai menahan tangisanku, dan syukurlah aku masih bisa menahannya. Aku tidak bisa menangis untuk sesuatu yang bukanlah salahku.
Aku berlari ke arah kamarku. Hilang sudah selera makanku tadi. Pergi aku untuk mengemas baju yang biasa kugunakan untuk melatih menari. Kumasukkan kedalam tasku. Tas yang sama dengan tas yang kugunakan tadi malam. Tas satu-satunya yang kumiliki. Kemudian aku bergegas pergi dari kontrakanku. Pergi dari semua tawaan tetangga-tetanggaku yang entah mengapa masih saja terdengar hingga aku tak bisa melihat mereka lagi.
Aku pergi untuk melatih di sanggar yang memperkejakanku disana. Setidaknya aku bisa fokus pada hal yang lainnya.

Wirahma
Berpuluh-puluh perempuan berbaris di hadapanku. Berbaris rapi dengan selendang beragam warna yang terikat di pinggang mereka. Kain warna-warni itu menjulur sampai mengenai tanah. Musik gamelan dari kaset yang kuputar mulai bersuara. Dan perempuan-perempuan itu bergerak mengikuti alunan musik.
Aku berjalan mengelilingi perempuan-perempuan itu. Kuteliti satu per satu mereka. Jika ada yang melakukan kesalahan aku langsung membenarkannya, kemudian berjalan kembali mencari mangsa yang lain.
Sesekali aku berteriak kepada mereka jika tarian mereka sudah keluar dari tempo musik. Kadang aku juga bertepuk tangan untuk membantu mereka agar kembali pada wirahma lagu. Aku lakukan segalanya agar mereka bisa menari dengan benar.
Setelah latihan menari, semua perempuan-perempuan yang kelelahan tadi duduk di lantai. Melipat selendang mereka ke pangkuan dan juga meletakkan topeng berwarna merah itu. Sedangkan aku tetap berdiri. Dan aku mulai menceritakan tentang sejarah tarian tersebut. Kuceritakan semuanya secara rinci agar mereka tidak menjadi penari yang ‘bodoh’. Selain mereka bisa berlenggak-lenggok, mereka juga harus mengerti makna dari lekuk tubuh mereka sendiri. Mereka harus mengerti mengapa tarian ini diciptakan. Mereka harus merasakan betapa sakralnya tarian ini. Mereka juga harus merasakan apa yang dirasakan oleh penari tarian ini pada awalnya. Perasaan dikejar oleh seorang pria yang sangat mencintainya. Perasaan dicintai yang mungkin tak pernah mereka rasakan seperti itu.
Sedangkan aku sedang merasakannya. Mas Juna. Lelaki yang begitu mencintaiku namun aku tidak bisa menerima cintanya karena dia sudah memiliki istri. Dan aku tidak mau merusak rumah tangganya. Aku memiliki martabat yang kujaga.
“Bu Rani, ada yang mencari ibu.” Kata Ayu, salah satu temanku di sanggar. Aku keheranan. Tidak biasanya ada yang mencariku kesini. Terutama ketika jam-jam aku sedang mengajar.
“Siapa ya?”
“Entahlah bu, dia sepertinya ingin sekali berbicara pada ibu walau sebentar.”
“Baiklah.” Aku menyuruh murid-muridku ini untuk menunggu. Kemudian aku pergi berjalan bersama Ayu.
“Disana.” Kata Ayu. Kemudian ia pergi menuju tempat ia melatih murid-murid yang lain.
Aku berjalan ke arah yang ditunjukan oleh Ayu tadi. Dan menemukan sesosok pria tinggi dan tegap. Dengan wajahnya yang menawan seperti biasa. Mas Juna yang mencariku. Aku juga tidak mengerti mengapa ia kemari. Ini pertama kalinya ia datang kemari untuk mencariku. Jika sebelumnya ia hanya mengantar keponakannya untuk belajar menari disini.
“Mas?” sapaku.
“Rani!” Dia tersentak ketika aku menyapanya, “mas mau minta maaf kalo Santi menyakiti kamu.”
“Aku mengerti, mas. Mungkin dia tidak suka jika aku dekat-dekat dengan mas. Dan kurasa mas juga harus menjaga perasaannya dengan tidak datang kemari.”
“Mas sungguh minta maaf.”
“Sudahlah mas.” Kataku akhirnya. “Mas mau mencari Mila?”
“Tidak, aku kemari bukan untuk menjemput keponakanku, aku kemari ingin menyampaikan sesuatu padamu.”
“Apa yang bisa kubantu, mas?”
“Mas sudah menceraikan Santi. Mas melihatnya sedang berduaan dengan teman kantorku sendiri. Aku tak menyangka dia melakukan itu, Rani.”
Aku juga sedikit tidak percaya pada apa yang dikatakan mas Juna. Setahuku istrinya adalah seseorang yang setia. Tak mungkin ia melakukan itu pada laki-laki sebaik mas Juna.
“Aku tidak percaya Santi melakukan ini, mas. Dia perempuan baik hati.” Aku pandang mata mas Juna yang lelah itu. Sepertinya dia kurang tidur belakangan ini.
“Yah, tapi kenyataan berkata sebaliknya, dik. Dia pergi begitu saja dengan pria yang katanya lebih berduit dariku. Dengan pria yang biasa membawa mobil bagus.
“Maafkan aku ya, mas. Aku tidak bisa banyak membantu mas.”
Mas Juna terdiam sejenak. Dia memikirkan perkataannya yang akan dia katakan berikutnya. Beberapa kali dia memandangiku. “Mmm, nanti malam, mas boleh ya mengantarmu pulang? Mas mohon.”
Aku menggeleng segera.
“Tapi kenapa?, mas sayang padamu. Dan mas sekarang sudah sendiri.
“Maaf mas, ini bukan hanya sekedar mas sendirian dan aku sendirian. Ini semua lebih dari itu mas. Tidak sesederhana itu. Maaf mas, jika sudah tidak ada lagi yang akan mas sampaikan, aku harus kembali mengajar. Anak-anak sudah menungguku. Aku sibuk. Kasian murid-muridku.” Aku bergegas pergi meninggalkan mas Juna.
“Mas cinta padamu, Rani.”
Aku terdiam dan terus saja melangkah.
“Meskipun kau seorang waria!” katanya sedikit teriak. “Dan mas akan menontonmu lagi nanti malam.” Katanya semakin berteriak. Mas Juna memang tidak pernah menyerah.

Aku adalah Penari dengan Topeng
Tubuhku berlenggak-lenggok secara perlahan. Aku menikmati setiap gerakan. Aku mengikuti suara rebab yang mengiringiku. Juga patahan-patahan yang seirama dangan kendang.
Aku merasakan hidup. Aku merasakan kenyamanan dalam diriku. Aku sudah mencapai pribadi tertinggiku. Aku bisa merasakan kualitas terhebat dari dalam diriku sendiri. Tarianku kini sudah sempurna. Rasa cinta dari mas Juna membuat tarianku sempurna. Lebih sempurna dari sebelumnya.
Mas Juna menontonku dari bangku penonton. Tatapannya sangat tajam padaku. Wajahnya yang rupawan itu seolah terbius oleh tarianku. Dia bak prabu Minakjingga, seorang pangeran yang jatuh cinta begitu dalamnya padaku, Ratu Kencana Wungu.
Aku bisa merasakan cinta mas Juna yang dalam itu. Tapi sudahlah, aku serahkan seutuhnya pada waktu. Aku tak mau terburu-buru. Aku sedang menikmati diriku sendiri. Aku sedang merasakan cinta. Aku sedang menari.

Dari balik topeng merahku ini, aku tersenyum lepas.

RELATED POSTS

0 comments