Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

[PRESS RELEASE] #IDAHOT 2015 - Jogja Nyore, untuk Jogja yang Beragam

10.55 Mario Pratama 0 Comments Category : , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

PRESS RELEASE  | JARINGAN SUKMA | #IDAHOT 2015

Jogja Nyore
untuk Jogja yang Beragam

“Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan
Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan”
(Sajak Sebatang Lisong, W.S. Rendra)


#IDAHOT2015Jogja - Seni dan aktivisme merupakan dua entitas yang memiliki keterkaitan erat di tengah realitas sosial. Di Indonesia, tentu belum luntur dari ingatan kita tentang bagaimana para seniman turut mengambil bagian dalam menuntut reformasi di tahun 1998. Pada konteks dunia, salah satu perubahan besar yang pernah tercatat yakni aksi protes para pemuda di Amerika pada tahun 60an yang menggunakan kesenian untuk menentang perang Vietnam. Sejarah mencatat tentang bagaimana seni dan aktivisme bersinergi untuk menciptakan perubahan sosial.

Beberapa waktu belakangan, di Yogyakarta marak terjadi kekerasan oleh pihak-pihak tertentu terhadap komunitas LGBTI (lesbian, gay, biseksual, transgender, dan interseks) yang kemudian dinilai sebagai bentuk perampasan ruang-ruang kebebasan berekspresi. Bentuk kekerasan yang terjadi cukup beragam, mulai dari pelarangan diskusi hingga penyerangan fisik. Kasus terakhir yang terjadi adalah kejadian pemukulan terhadap beberapa anggota komunitas LGBTI saat momen perayaan Transgender Day of Remembrance di Tugu Yogyakarta, November 2014 lalu. Klaim kekuasaan tersebut bukan tidak mungkin akan semakin melebar tidak hanya terhadap kelompok LGBTI, jika tidak ditanggapi dengan respon serius bahwasanya Yogyakarta merupakan ruang aman milik bersama.

Berdasarkan optimisme untuk menggabungkan seni dan aktivisme, Jaringan SUKMA (Suara Komunitas untuk Keberagaman) yang terdiri dari berbagai elemen jaringan, komunitas dan invidu yang melakukan kerja advokasi serta bersolidaritas untuk perjuangan identitas kelompok marjinal, khususnya LGBT, remaja jalanan dan pekerja seks; akan mengadakan perayaan IDAHOT 2015 untuk bersama-sama menyuarakan perlawanan terhadap setiap bentuk kekerasan yang membatasi kebebasan berekspresi melalui ekspresi seni. IDAHOT (International Day Against Homophobia and Transphobia) merupakan hari peringatan untuk melawan phobia masyarakat terhadap homoseksual dan transgender yang diperingati setiap tanggal 17 Mei setiap tahunnya. Di tahun 2015 ini, tema IDAHOT berfokus pada kebutuhan generasi muda akan ruang yang aman dan nyaman untuk berekspresi.

Data Trevor Project menyatakan, " LGB muda memiliki kemungkinan 4 kali lebih besar untuk melakukan percobaan bunuh diri, sedangkan remaja dalam tahap questioning (proses pencarian identitas seksual ataupun gender), memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar, dibandingkan teman-teman seusianya yang heteroseksual.”  Pada transgender muda statistiknya menunjukkan angka yang lebih tinggi, "Hampir setengah dari Transgender muda berpikir serius untuk mengakhiri kehidupan mereka."

Studi kasus ‘Menguak Stigma, Kekerasan, dan Diskriminasi pada LGBT di Indonesia’ oleh Arus Pelangi. Penelitian melibatkan 335 responden LGBT di rentang usia kurang dari 19 hingga 24 tahun yang berada di tiga kota besar: Jakarta, Yogyakarta, dan Makassar. Hasilnya mengejutkan: 89,3% responden mengalami kekerasan dalam 3 tahun terakhir (2010-2013).

Kami percaya bahwa setiap individu adalah unik dan berharga, dan keberagaman tersebut patut dipelihara bersama. Oleh karena itu, kami mengajak teman-teman baik dari komunitas maupun individu untuk bergabung dan menyuarakan penolakan terhadap kekerasan melalui aksi kesenian. Pentas seni ini diadakan sebagai aksi solidaritas untuk mengklaim kembali Yogyakarta sebagai ruang yang aman untuk berekspresi bagi anak muda dengan latar belakang apapun. Selain itu, kami juga mengajak teman-teman untuk turut serta menyerukan protes terhadap segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap segala bentuk keberagaman, termasuk terhadap kelompok LGBTI.

“ Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi langkah yang strategis untuk mengklaim Yogyakarta sebagai ruang yang aman dan nyaman bagi anak muda untuk berkespresi. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi perwujudan sikap penolakan bersama terhadap segala tindak kekerasan dan diskriminasi terhadap hak-hak asasi manusia yang terjadi di Yogyakarta,” ulas Okita Tadastra, Koordinator Acara.

Maka dari itu, Jaringan SUKMA mengundang kawan – kawan pers untuk hadir pada :
Waktu        : Sabtu, 30 Mei 2015 pukul 15:00 – 18:00 WIB
Tempat      : CafĂ© Ngeban, Nologaten
Partisipan  : Berbagai komunitas anak muda di Yogyakarta yang peduli akan                         isu keberagaman dan kebebasan berekspresi
Acara         : Pameran foto, Musik Akustik, Drag queen, Puisi, Creative Statement

Salam Keberagaman,
Koord. Publikasi dan Media IDAHOT 2015

Mario Pratama
Hp. 085 60 100 6336

Note : pernyataan sikap terlampir dan dapat diakses pada saat acara.

RELATED POSTS

0 comments