Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Please, Stay With Me [Cerpen #IDAHOT2015]

01.05 PLUSH Online 0 Comments Category : , , ,

Oleh : Andri Firmansyah


Aku terduduk di pasir pantai, dengan tubuh dan pakaian yang basah kuyup, basah bukan karna air pantai yang terbentang biru di hadapanku… namun basah ini karna hujan yang tadi cukup deras menerpaku, untung saja koper besar berwarna biru muda di sampingku ini anti air, jadi bisa menjaga barang-barang yang berada di dalamnya.
Berkali-kali ku lihat jam di tangan, menanti seseorang yang tak pasti. Di sini aku seperti orang bodoh… duduk berjam-jam lamanya, lalu kehujanan dan enggan berteduh, juga menahan rasa lapar yang sedari tadi ku rasakan.
Di sini biasanya senja begitu indah di jam-jam seperti ini, mungkin lain untuk saat ini… saat hatiku sedang kacau dan galau seperti ini… apakah alam pun merasakannya dan ikut bersedih pula…?, jingga yang seharusnya terbentang luas, kini hanya ada kelabu yang nampak terlihat luas terbentang berhadapan dengan laut…
Lalu tibalah saatnya aku untuk pergi… meninggalkan semua kenangan yang ku punya di sini, meninggalkan angan-anganku, meninggalkan orang yang paling ku suka, paling ku sayang, dan yang paling ingin ku miliki… mudah-mudahan saja aku bisa melepas semuanya…
Tuhan… mohon bantulah aku… jika di sini bukan tempatku… tolong tunjukan dimana tempat yang terbaik untukku… jika dia memang bukan orang yang tepat untukku, maka tunjukanlah orang yang benar-benar layak untukku… aku siap…


Lebak Banten 2007

Cuaca pada saat itu benar-benar tak bersahabat, sejak subuh tadi di desa yang bernama “Batu Banyu” sudah di guyur hujan. Ethan yang baru tiba siang tadi di sambut oleh hujan deras, padahal ia sudah berangan-angan dan sudahmerencanakan kalau sudah sampai di sini ia ingin langsung main di pekarangan rumah barunya, yang dimana pekarangan belakang rumahnya berhadapan langsung dengan pantai. Namun sayang, cuaca sedang tak berada di pihaknya.
Ethan datang dari Jakarta, ayahnya yang bertugas di desa ini untuk penelitian penyu, mengharuskan membawa keluarganya ke sini, karna tugasnya itu akan berjalan lama, mungkin bertahun-tahun, karna masa tugas ayahnya tersebut tak diperkirakan seberapa lama… tergantung selesai proyek penelitiannya tersebut.
Ethan kala itu masih duduk di bangku kelas Satu SMP, Ethan pun meneruskan sekolah barunya di lebak banten ini, ia di daftarkan di SMP suasta yang tak jauh dari rumah barunya. Di sekolah barunya tersebut Ethan di sambut dengan baik, ia di anggap sebagai anak yang keren karna datang dari jakarta, banyak yang ingin menjadi temanya, termasuk Leo, murid yang sekelas dengan Ethan, Leo ini murid yang sangat nakal, namun juga ia terpintar di kelas. Leo sering di segani oleh anak-anak sekolah lainnya, sehingga ia tak mempunya teman, dan mungkin juga Leo ingin dekat dengan Ethan yang notabennya anak baru yang menurut dia cocok untuk di jadikan teman, dan Ethan pun tak masalah untuk berteman dengan siapapun.
Kebetulan sekali bahwa rumah Leo berdekatan dengan rumah barunya Ethan, jadi Leo dan Ethan sering sekali bermain, dan kedekatan mereka semakin dekat.
Waktupun terus berlalu, mereka melewati masa kanak-kanak bersama… sampai di mana kini beranjak dewasa pun tetap bersama…
di SMA mereka tetap bersama, dan juga tetap di tempatkan pada jurusan dan kelas yang sama… pokoknya di mana ada Ethan, di situ ada Leo. Mereka selalu Klop, meski hobi mereka tak sama.
Ethan yang hobi bermain gitar, lebih sering menghabiskan waktu untuk membuat lagu dan merekam semua karya-karyanya. Sedangkan Leo, ia lebih suka menghabiskan waktunya berselancar di patai, dan menjadikan itu sebagai hobinya.
Dulu Ethanlah yang banyak peggemar yang memujanya karna di anggap keren sebagai anak yang datang dari kota metropolitan, namun sekarang lain cerita… Leo lah yang menjadi idola di sekolah… ia di anggap keren karena hobinya itu… selain hobi yang membuatnya di puja banyak gadis-gadis di sekolah, ia pun memang tumbuh menjadi pria yang mempunyai wajah tampan, dengan badan kekar dan kulit yang coklat sensual, maka tak heran banyak gadis yang menyatakan cinta padanya.
Semua remaja pasti tak luput dari kisah cinta… Leo pun mempunyai pacar yang sangat ia cintai… namanya Neng Ross. Neng Ross ini gadis desa yang lugu, wajahnya yang manis membuat pria manapun akan langsung jatuh cinta padanya.
Namun Ethan… sampai saat ini ia tak mempunyai pacar… bagi dia pacar itu adalah sesuatu yang sangat merepotkan, lagi pula ia sangat dingin dengan cewek.
Pernah, dulu ada cewek yang naksir padanya, namanya Ikeu, IKeu ini selalu mengejar-ngejar Ethan kemanapun ia berada, mungkin karna risih atau memang tak suka dengan Ikeu, Ethan langsung menolak Ikeu mentah-mentah di tengah lapangan, kondisi saat itu sedang ramai, dan mereka di perhatikan oleh semua orang yang berada di situ. Ikeu lari sambil menangis karna malu… dan dari situlah Ethan di kenal sebagai cowok kejam… tak ada cewek mana pun yang minat untuk dekat dengannya… namun begitu Leo selalu ada di sampingnya…
Pada saat mereka berada di kelas Tiga SMA, orang tua Ethan kembali di tugaskan di Jakarta, karna penelitian yang sedang di jalani papahnya sudah selesai, Mau tak mau seluruh keluarga Ethan harus pindah kembali ke Jakarta. Ethan keberatan untuk pindah, berat karna meninggalkan Leo, juga kampung yang sangat ia kagumi. Ethan menolak untuk pindah, lagi pula sebentar lagi akan di laksanakan Ujian Nasional, Ethan pun meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk tetap tinggal di kampung ini sampai ia lulus. Untung saja kedua orang tua Ethan mengizinkanya.
Kedua orang tua Ethan menitipkan Ethan kepada keluarganya Leo, karna memang kedua keluarga mereka sudah dekat juga. Ethan senang, apa lagi Leo… dia sangat keberatan jika saja Ethan harus pindah ke jakarta.
“Than… lo mau Kasurnya di pisah atau kita satuin aja kasur nya?.” Tanya Leo yang sedang beberes untuk berbagi kamar dengan Ethan.
“kita satu Kasur aja, biar gak sempit juga kan…” Jawab Ethan yang berlalu lalang membawa barang-barangnya dalam kardus. Leo pun mengangguk paham, lalu menggabungkan kasur yang ia bawa untuk di ampar di sebelah kasurnya.
Setelah semuanya beres, mereka berdua berbaring di kasur yang sama. Ethan yang fokus sedang membaca novel karya Christian Simamora, tiba-tiba di rebut oleh Leo.
“buku porno ya…?.”
“apa sih loganggu aja…” jawab Ethan bete.
“ya gak papa kali, lo udah gede ini, gak usah malu kalo lo baca-baca porno…” ledek Leo. Ethan pun langsung merebut kembali Novel yang tengah ia baca dengan wajah yang cemberut.
“Than…” sapa Leo.
“hmm…”
“minggu depan Ross ngajak main ke cikotok, mandi air belerang… ikut yuk!.”
“enggak ah males…”
“lo belum pernah ke cikotok kan?.”
“gak minat!.”
“Than…”
“apa…?”
“ayolah…”
“lo tuh kenapa sih?, bukannya lebih enak jalan berdua ya?, kalian kan pacaran?, kenapa ngajak gue?.” Leo pun terdiam, mendengar nada bicara Ethan yang terdengar sedikit keras, ia baru sadar, sepertinya ia telah mengusik Ethan. Leo pun keluar dari kamarnya, membawa perlengkapan mandi.
Setengah jam berlalu… Leo kembali ke kamar dengan keadaan telanjang dada, di pinggangnya terlilit handuk berwarna merah, sedangkan tubuhnya masih belum benar-benar kering… masih ada beberapa tetesan air yang menetes dari rambut ke tubuhnya. Di lihatnya Ethan tertidur, dengan novel yang mungkin tak sengaja di taruh di atas wajahnya. Leo pun mengambil novel tersebut dan menyelimuti Ethan yang terlihat lelah…
Malam minggu… keluarga leo sedang berkumpul di ruang keluarga, di sana sudah ada mama dan papa Leo, Radith kakak nya Leo yang sudah bekerja, Juga Tania adik perempuan Leo yang masih sekolah di sekolah dasar, mereka semua sedang menonton sinetron yang biasa mereka saksikan bersama-sama di ruangan ini. Ethan tiba-tiba kepingin keluar dari kamar, dan bergabung dengan mereka.
Setiap malam minggu Leo tak pernah ada di rumah, Leo selalu kencan dengan Neng Ross, dan itu membuat Ethan Bete karna di tinggalkan di rumah, padahal Leo sering kali mengajak Ethan loh… suruh siapa selalu menolak ajakan Leo… ujung-ujungnya pasti selalu Bete kaya gini.
Malam ini tumben sekali Leo pulang lebih awal… biasanya juga pulang jam 10 malam… ternyata Leo membawa Neng Ross ke rumah, Seluruh keluarga Leo menyambut Neng Ross dengan ramah, kecuali Ethan… setelah tau Leo membawa pulang Neng Ross ke rumah, Ethan Langsung masuk kamar setelah menyapa Neng Ross dahulu.
“Than… yuk ngobrol-ngobrol sama Ross di luar, jangan di kamar aja…!” ajak Leo pada Ethan.
“maaf… Gue ngantuk Le…” Jawab Ethan beralasan, Ethan pun bersembunyi dalam selimut… tanpa di sadari, air matanya mengalir… entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal dan membuat sakit di hatinya.
“Than…”
“hmm…?”
“lo gak suka ya sama Ross?.” Tanya Leo serius, juga dengan nada yang berhati-hati.
“lo ngomong apa sih?, udah ah gue ngantuk?,”
“entah ini perasaan gue aja, atau gimana… sikap lo berubah tiap kali gue sama Ross atau gue ngomongin Ross…” tak ada jawaban apapun dari Ethan… Leo tau bahwa Ethan tak sedang tidur… Leo tau, jam berapa Ethan tidur… dan Leo sadar ada sesuatu yang janggal.
~Bruk… Leo menarik selimut yang tadi di buat Ethan untuk menutupi seluruh tubuhnya. Di lihatlah tubuh Ethan yang sedang meringkuk dan terlihat bergetar, tangannya menutupi wajah yang takingin di lihatkan kepada Leo.
“Than… lo nangis…?.” Ethan masih saja bergeming… tak sedikitpun ia menjawab. “than… kalo ada sesuatu yang pengen lo ungkapin…ya ungkapin aja…” Leo pun menghampiri Ethan, perlahan ia pegang tangannya, tangan Ethan begitu keras untuk menutupi wajahnya, namun dengan sedikit paksaan, tangannya luluh juga, dan kini terlihat wajah Ethan yang basah oleh air mata, wajah nya memerah… mungkin karna memendam emosi. Ethan pun langsung memeluk sahabatnya itu. Ia takut Ethan kenapa-napa, ia sangat Khawatir…
“Than… sebenernya lo kenapa…?”tanya Leo begitu Khawatir, Ethan hanya diam terisak, ia pun menyeka air matanya, lalu pergi ke luar kamar… “Ethan…!!” teriak Leo sambil mengejar Ethan ke luar.
Keluarga Leo yang berada di ruang keluarga, termasuk Neng Ross hanya bisa bengong, melihat Ethan yang di kejar Leo keluar… mereka bertaya-tanya… apa yang sedang terjadi di antara mereka.
Ethan lari menuju pantai yang tak jauh dari rumah Leo… padahal waktu itu sudah lewat senja, keadaan di sekitar sudah gelap, hanya lampu-lampu tempel saja yang cukup memberi cahaya di setiap pohon di pinggiran pantai.
“Than… cukup!!.” Cegah Leo sambil memegang tangan Ethan untuk memaksanya berhenti menghindar. “coba jujur sama gue… ada apa dengan lo?.” Ethan masih terdiam, air matanya tak juga surut…
“elo Le… elo…” Jawab Ethan terisak. “lo gak pernah peka sama gue…”
“peka tentang apa?.”
“tentang semua Clue yang gue kasih… lo gak pernah peka!.”
“maksud lo?.”
“gue bukannya gak suka sama Ross, gue juga gak benci dia…” Ethan terisak… “malah gue benci… benci sebenci-bencinya sama lo Le…”
“gue?.”
“ya… lo…” jelas Ethan keras… “lo gak pernah peka, lo gak pernah hargain gue… lo gak pernah ingin tau siapa gue, dan lo gak pernah pengen tau juga tentang gue Le…” Leo terlihat bingung mendengar kata-kata Ethan ini.
“di sisi mana gue gak pernah hargain lo Than…?.”
“di sisi mana gue sebagai sosok yang…” Ethan terdiam sesaat, ia menimbang-nimbang, apakah kata-kata ini harus di ucapkan?, apakah ini sudah waktunya untuk Leo tau rahasia terbesar yang Ethan punya…?. “Gue… ” lagi-lagi Ethan terdiam dan menarik nafas panjang. “Gue Suka Lo Le.” Akhirnya kata-kata itu keluar juga dengan nada yang datar… tinggallah Leo yang langsung tertunduk lemas setelah mendengar kata-kata yang di lontarkan Ethan barusan. “Maaf ya Le… inilah gue yang sebenarnya…” Ethan pun pergi meninggalkan Leo yang mematung di atas pasir pantai malam itu.

Sudah sebulan berlalu, Ethan dan Leo sudah melewati Ujian Nasional, tinggalah mereka menunggu hasil kelulusan.
Sebulan ini hubungan Ethan dan Leo sangat kaku… selama ini Leo memilih tidur di sofa depan, dari pada harus memilih tidur bersama Ethan seperti biasanya. Berkomunikasi pun tidak, hanya saja kalau salah satu dari mereka menanyakan hal yang peting, hanya ada jawaban Ya atau Tidak.
Rencananya besok Ethan akan pulang ke Jakarta, menyusul keluarganya di sana dan meninggalkan desa ini. Tak ada lagi yang bisa Ethan harapkan di sini, tak ada Teman atau seseorang yang ia cintai lagi untuk jadi alasan ia menetap di sini. Ethan masih sedih… tapi ia percaya bahwa di jakarta nanti ia akan lebih baik.
Siang itu Ethan berpamitan pada seluruh keluarganya Leo, ia telah berterima kasih kepada keluarga itu, karna memberi kesempatan untuk dia tinggal di rumah itu. Siang itu Tak ada Leo… katanya sih Leo pergi Surfing di pantai Kulon. Pergilah Ethan ke pantai Kulon untuk berpamitan pada Leo.
Saat Ethan berada di pantai Kulon… banyak sekali Surfer yang sedang berlatih di sana… ia mencari-cari Leo, dan menanyakan ke anak-anak Surfer yang kenal dengan Leo, menurut kabar Leo tadi sudah pulang dengan Neng Ross…
Ethan hanya terdiam, ia memutuskan untuk tetap menunggu Leo di pantai Kulon. Ethan percaya bahwa Leo akan datang, karna tadi ia berpesan pada ibunya Leo, bahwa ia akan pergi dulu ke pantai Kulon untuk berpamitan dengan Leo.
Siang menjelang sore, Hujan tiba-tiba turun sangat deras… para surfer pun berhenti bermain, dan mereka satu per satu pulang. Tinggal lah Ethan dan koper besar warna biru mudanya. Ia enggan kemana-mana… kakinya berat sekali untuk di ajak untuk beranjak.
Kini ia sudah basah kuyup oleh hujan, air matanya mengalir begitu saja bersama air hujan yang menyamarkan bahwa ia sedang menangis. Di dalam benaknya ia berkata… “biarlah aku menangis untuk hari ini saja, ini adalah air mata penghabisan untuk Leo…” ucap Ethan dalam benaknya.
Setelah hujan sedikit reda, hanya ada sisa-sisa gerimis kecil yang menyerang Ethan yang terduduk kuyup di pasir putih itu. Tiba-tiba ia menyadari kehadiran seseorang di belakangnya… di sentuhlah bahunya…
“Than…” ucap Leo yang datang membawa payung.
“Le… akhirnya lo datang juga…”
“Lo mau kemana?.” Tanya Leo, Ethan pun berdiri mengimbangi tinggi leo yang sedang berdiri tegak, Ethan pun tersenyum sambil menyeka air matanya yang tak mau berhenti mengalir.
“Gue mau pamit Le…” Jawab Ethan dengan nada yang bergetar menahan tangis.
“lo dulu janji gak akan kemana-mana kan?, dan kita juga janji, buat pergi ke universitas yang sama!.” Ethan pun menunduk. Hujan semakin lebat, Leo melepas payungnya, kedua tangannya kini mencengkram kuat pada bahu Ethan yang kecil. “pokoknya lo gak boleh kemana-mana Than…”
“cukup leo… cukup…” Teriak Ethan sembari menepis tangan Leo yang mencengkram bahunya. “udah cukup perjuangan gue di sini hanya untuk bersama lo… udah cukup juga gue ngebatin ngeliat orang yang gue suka terus bersama-sama orang lain… dan lo gak tau sakitnya gue beberapa waktu ini yang selalu di abai-kan sama lo, semenjak gue jujur suka sama lo…” Ethan menangis hebat, sangking tak kuat menahan sakit di dalam hatinya, ia terduduk tak berdaya di pasir pantai ini.”lo Jijik kan sama gue yang gay ini…” ucapnya datar tak bertenaga… Leo hanya diam, berdiri sambil menatap lekat ke arah Ethan yang terduduk lemas.
Leo pun duduk di samping Ethan yang tak berdaya, dan tak mampu lagi untuk berkata-kata. Leo duduk memeluk lututnya, matanya yang kosong berkeliaran di luasnya pantai Kulon yang sedikit pasang karna hujan.
“Than…” ucap Leo dengan suara parau… dengan berat hati Ethan pun menengok ke arah cowok tampan yang sedang duduk di sebelahnya. Wajah Ethan terlihat kuyup karna terlalu banyak menangis, dengan Reflek, tangan Leo mengusap bekas air mata di pipi Ethan. “Jangan nangis lagi…” ujar Leo sambil menarik dagu Ethan mendekat perlahan ke arah wajahnya.
~Chupp… di ciumlah Ethan oleh Leo. Ethan seperti sedang bermimpi, telah di cium oleh orang yang sangat ia sukai. Ciuman itu hanya persekian detik saja, setelah Ethan mendorong Leo menjauh.
“maksud lo apa Le?.” Bentak Ethan marah… kini ia merasa di permainkan oleh Leo… jika Leo tak menyukainya, kenapa harus mencium?. Apa ini hanya sebuah cara ,hanya untuk menghentikan niat Ethan untuk pergi?.
“Than… sebenernya gue juga suka sama lo…” Ethan terdiam, dan wajahnya terlihat tegang karna kaget dengan apa yang Leo katakan barusan. “gue suka lo, mungkin gue lebih dulu suka lo, sebelum lo suka sama gue…” Ethan masih belum juga percaya dengan apa yang Leo katakan… “bego nya gue, gue sangat-sangat pengecut… sampe-sampe gue gak pernah berani ngungkapin semuanya ke lo…” Leo pun menggenggam tangan kanan Ethan, lalu mengecupnya dengan ikhlas… “maafin gue ya Than…” dan Ethan masih tak bisa berkata-kata… ini semua masih terlihat mustahil di mata Ethan… Ethan masih bersikap waspada.
“lo lagi gak ngebohongin gue kan Le…?.” Ucap Ethan hati-hati.
“demi tuhan… gue jujur Than…” ucap Leo berani bersumpah… “sekarang lo udah tau persaan gue yang sebenarnya kan?. Please jangan pergi…”
“terus…Neng Ross…?.” Ucap Ethan ambigu… menyinggung nama yang membuatnya sensitif.
“tapi maaf Than…” sekarang malah Ethan yang dibuat bingung… kenapa Leo malah meminta maaf?. “Gue gak bisa tinggalin Ross meskipun gue cinta sama lo?.”
“kenapa Le…?.”
“semuanya sudah terlambat Than… dan gue kesini mau kasih tau lo tentang ini semua…”
“apa?.” Tanya Ethan penasaran… Ethan kini sudah berharap-harap cemas…
“Ross Hamil Than…”
~Degh…
Semua rasa senang yang telah di berikan Leo barusan, tiba-tiba sirna begitu saja oleh kalimat yang di ucapkan Leo tersebut.
“Ross Hamil anak kandung gue Than…” Ethan duduk mematung… dan kini airmatanya mengalir deras… Ethan menangis tanpa suara… matanya yang kosong menatap Leo tanpa tenaga… ia sama sekali tak percaya dengan apa yang di bicarakan Leo kepadanya… ia kini berharap ini semua benar-benar mimpi…
“Gue mohon… lo tetap di sini sebagai sahabat gue…” pinta Leo dengan sangat.
Ethan pun memeluk Leo dengan erat… tangisnya pecah begitu saja di pelukan Leo… tubuhnya bergetar… itu di rasakan juga oleh Leo… Leo yang tegar hanya bisa menangis tanpa suara… ia mengusap-usap lembut rambut cowok manis itu… merasakan getaran dan dingin tubuh cowok ini yang pernah membuatnya jatuh cinta…

RELATED POSTS

0 comments