Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Pernyataan Sikap #IDAHOT2015

10.51 Mario Pratama 0 Comments Category : , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

PERINGATAN HARI MELAWAN HOMOFOBIA DAN TRANSFOBIA 2015
IDAHOT 2015 YOGYAKARTA
PERNYATAAN SIKAP

Pada 17 Mei 1990, WHO secara resmi menghapus Homoseksualitas dari daftar penyakit kejiwaan dan kemudian hari ini dirayakan sebagai peringatan Melawan Homofobia dan Transfobia Internasional atau IDAHOT (International Day Against Homophobia & Transphobia). Setelah 25 tahun, kekerasan berbasis Homofobia dan Transfobia justru tidak berkurang seiring masih banyaknya stigma dan diskriminasi baik oleh keluarga, lingkungan, media hingga negara.

Indonesia, negara yang beriklim demokrasi ternyata masih belum menjadi rumah yang ramah bagi kelompok LGBTI (lesbian, gay, biseksual, transgender, & interseks). Penolakan, diskriminasi, stigma, bahkan kekerasan telah menjadi ‘makanan’ sehari-hari yang mau tidak mau harus dikunyah sembari terus berjuang demi kesetaraan hak-hak sebagai manusia yang seharusnya dijamin oleh negara dan konstitusi.

Bentuk-bentuk Homofobia bisa diperlihatkan melalui sikap antipati, penghinaan, prasangka, penolakan, atau kebencian berdasarkan ketakutan yang tidak rasional, dan bisa juga melalui justifikasi moralitas dan agama yang acap kali menjadi alat menghalalkan kekerasan untuk merepresi kelompok LGBTI. Tidak jarang anggapan orang-orang yang teridentifikasi LGBTI adalah kaum abnormal, yang notabene sudah bertentangan dengan pernyataan WHO di tahun 1990.

Pada tahun 2015, perayaan IDAHOT fokus pada kekerasan yang dialami LGBTI muda di mana saja seperti keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, dan di jalan. LGBTI muda seringkali mendapatkan perlakuan kekerasan berupa bullying baik dalam bentuk verbal maupun non-verbal atau fisik maupun psikis. Cemoohan, digencet, dikeroyok, diperlakukan dengan penggunaan kekerasan seringkali dialami oleh LGBTI muda di lingkungannya masing-masing. Akibatnya pun bervariasi, dari trauma fisik maupun psikis hingga kasus bunuh diri yang diakibatkan depresi berat ditolak oleh lingkungannya. Bahkan dalam penelitian Arus Pelangi yang diadakan di Yogyakarta, Makassar, dan Jakarta, terungkap bahwa 89,3% kelompok LGBTI (Lesbian, Gay, Biseksual, Trangender/Transeksual, Interseks) usia 19-24 tahun mengalami berbagai bentuk kekerasan pada kurun 2010-2013.

Yogyakarta yang menjadi tuan rumah kreatifitas, seni dan budaya dan aktivisme belakangan justru menunjukkan intoleransi dan kekerasan seperti apa yang terjadi pada peringatan TDoR (Transgender Day of Remembrance) yang lalu. Kejadian ini menjadi salah satu indikator sosial politik yang kuat tentang adanya kemunduran nilai penghormatan terhadap keberagaman dan toleransi.

Adapun seruan tuntutan IDAHOT 2015 Yogyakarta adalah:
  1. Menyediakan ruang aman dan nyaman bagi Kelompok LGBTI muda mengekspresikan dan mengaktualisasikan kreatifitas dirinya.
  2. Adanya jaminan terhadap hak-hak dasar melalui pengakuan dan penyediaan akses, layanan dan informasi setara bagi LGBTI muda.
  3. Pemerintah daerah harus melihat LGBTI muda adalah juga Anak Muda Yogyakarta dalam perspektif kesetaraan tanpa stigma dan diskriminasi dalam bentuk implementasi kebijakan, peraturan, sarana, fasilitas dan layanan publik.
  4. Menghentikan segala bentuk kekerasan, ancaman, penolakan, baik secara fisik maupun psikis yang melanggar hak-hak azasi manusia kelompok LGBTI maupun kelompok rentan lainnya.


Sebagai manusia utuh dan juga warga negara, LGBTI muda juga memiliki hak setara untuk diterima dan memperoleh ruang untuk berekspresi dan mengaktualisasikan diri sesuai dengan masa perkembangannya sebagai anak muda. Hak-hak inilah yang seharusnya menjadi perhatian semua pihak dengan mulai menghilangkan anggapan-anggapan bahwa LGBTI adalah penyakit mental.  Homofobia dan Transfobia adalah wujud rasa ketidakamanan, yang tentu saja menjadi anomali sosial di kala mayoritas mengalami paranoid terhadap kelompok minoritas. Sudah seharusnya kita menyadari bahwa hak-hak adalah titik irisan semua warga negara dan manusia untuk bisa menempati rumah ini bersama-sama dalam kesetaraan dan perdamaian. 

Stop bullying! Stop diskriminasi! Hentikan stigma! Hentikan kekerasan! Hapuskan Homofobia dan Transfobia!


Yogyakarta, 30 Mei 2015

RELATED POSTS

0 comments