Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Ketika Lelaki Jatuh Cinta - Cerpen #IDAHOT2015

13.49 Mario Pratama 0 Comments Category : , , ,

Oleh: Dita Sarwo Edy Nugroho


Sudah dua minggu ini kegiatanku disibukkan untuk menyapa panasnya sinar matahari, masuk kantor  satu ke kantor  untuk menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan.. Menunggu satpam yang telepon ke HRD sudah biasa, sudah menunggu lama tetapi tak ada lowongan itupun juga sudah biasa aku alami selama dua minggu ini. Memang untukku yang hanya lulusan SMA di kota sebasar ini terasa sulit untuk mendapatkan pekerjaan.

Aku mulai menyerah dengan semua ini, aku mulai pasrah kemanapun kakiku melangkah. Tidak tau bagaimana kakiku memberhentikanku didepan rumah yang sangat indah, megah, dan mewah, bagaikan istana yang ada didongeng-dongeng jaman dahulu kala yang ditembok berhias nomor rumah dan nama sang pemilik “Ardha Sasongko”. Aku berdecak kagum dengan rumah yang aku jumpai ini, “astaga, kapan aku punya rumah seperti ini?????”. Aku berdecak kagum dengan rumah yang aku jumpai ini, “astaga, kapan aku punya rumah seperti ini?????”. Tak sengaja aku melihat tulisan yang tertempel di gerbang, yang memberitahukanku kalo pemilik rumah membutuhkan tukang kebun. “Daripada tidak mendapatkan pekerjaan sama sekali, jadi tukang kebun tak apa, kapan lagi kerja dirumah semegah ini. Tak memilikinya bekerja disini juga gakpapa.”. Aku mulai memencet bel yang ada di gerbang rumah. Sekali mencet tak ada jawaban, untuk kedua kali aku pencet bel seorang perempuan yang hanya memakai daster menghampiriku. “mencari siapa mas” tanya perempuan tersebut, “maaf bu, saya membaca tulisan ini kalo disini lagi membutuhkan tukang kebun, apa benar?” “oiya mas, silakan masuk”. Perempuan berdaster itu yang memiliki nama Siti mulai membukakan gerbang untukku dan aku mulai mengikuti langkahnya. Aku disuruh duduk di suatu tempat yang terdapat kursi yang mengelilingi satu meja persegi, mungkin tempat ini untuk istirahat para pembantu pemilik rumah. “tunggu disini dulu ya mas, saya panggilin Mas Ardha dulu.” Iya, bu.” jawabku yang sambil berfikir kenapa Bu Siti memanggil pemilik rumah dengan sebuatan mas ya, biasanya kan tuan atau sejenisnya yang memperlihatkan status dirumah ini. Tidak begitu lama, seorang pria dewasa yang belum begitu tua, kira-kira baru 30an tahun umurnya memakai kemeja biru laut dan berdasi yang sudah tidak rapi menghampiriku yang duduk manis menunggunya. Aku berdiri dan berjabat tangan sambil memperkenalkan nama kami masing-masing. “Ada yang bisa saya bantu mas” tanyanya, “maaf pak sebelumnya mengganggu bapak. Saya tadi membaca tulisan didepan kalo disini membutuhkan tukang kebun”, dan kami berbincang sampai akhirnya aku diterima sebagai tukang kebun di rumah Pak Ardha Sasongko. Untungnya Pak Ardha membebaskanku untuk tinggal dirumahnya atau pulang ke rumahku, aku memutuskan untuk tinggal dirumah Pak Ardha karena aku dikota ini mengontrak rumah kecil.

***

Sudah setahun aku bekerja di rumah Mas Ardha. Yapz, aku memanggil bosku dengan sebutan mas, Mas Ardha menyuruh semua pembantunya memanggil beliau dengan sebuatan mas, dia gak mau dipanggil tuan atau bapak, menurutnya panggilan itu terlalu tua untuknya. Seiring waktu berjalan, Mas Ardha sering cerita tentang dirinya, tentang pekerjaannya, dan tentang kehidupan yang dia jalani, aku mulai merasa jatuh cinta dengan Mas Ardha. Iya, walapun aku laki-laki namun aku memiliki orientasi seks yang tertarik dengan lelaki juga. Awalnya aku tidak terima dengan keadaan orientasi seksku ini, aku sempat marah, kecewa, kenapa aku terlahir seperti ini, sempat aku malas-malasan melakukan ibadah solat, katanya solat orang gay gak diterima karena gay dilarang. Namun semua itu kini aku terima dengan ikhlas, aku kembali rajin solat, diterima atau tidakanya solatku itu adalah urusanku dengan Tuhanku.

Suatu malam ada yang mengetuk pintu kamarku dan setelah aku buka ternyata Mas Ardha. “ada apa mas malam-malam gini ke kamarku, ada yang diperlukan?” tanyaku penasaran karena jam 11 malam Mas Ardha ke kamarku. “boleh aku masuk? Aku pingin cerita” “boleh mas, silakan”. Mas Ardha mulai masuk ke kamarku dan duduk diatas ranjangku, aku mengikutinya dan duduk disampingnya dengan menyilakan kakiku. Dia mulai cerita, dan ceritanya kali ini tentang dia akan dijodohkan dengan putri pengusaha teman ayahnya. ”aku gak bisa menikahi perempuan yang tidak aku cintai, Ka.”, “tapi itu permintaan ayah Mas Ardha, pilihan orangtua itu yang terbaik, Mas”, “iya, terbaik untuk papaku tapi bukan terbaik untuk aku.”, Mas Ardha mulai emosi. “Tapi bukannya itu juga terbaik untuk keluar Mas Ardha?”, “mungkin dunia bisnis harus menuntut seperti ini, masalah cinta dan hati ikut dibisniskan. Ok lah kalo pekerjaanku mereka bisa ngatur, tapi kalo masalah hati apa mereka tau isi hati aku?? apa mereka akan tau akan kebahagiaanku yang seperti apa??? Semua itu yang bisa nentu hanya aku, Ka…”. Tiba-tiba Mas Ardha memelukku, aku kaget, aku hanya bisa terbenggong. Mungkin dia tahu aku tidak melakukkan apa-apa, pelukkannya langsung terlepas, “maaf ya, Ka…”, “gak pa pa mas…”.

Mungkin mulai saat kejadian Mas Ardha curhat di kamarku dan disaat Mas Ardha mememlukku, kami berdua semakin dekat, dan mampu menambah rasa cintaku ke Mas Ardha. Mas Ardha mulai bercerita masa kecilnya, bercerita siapa yang mulai menarik perhatiaannya, dan cukup mampu mengambil hatinya. Aku mendengarkan cerita itu cukup sedih, ada rasa cemburu yang menghinggapku, namun apa daya, Mas Ardha adalah bosku, dan dia adalah lelaki yang tak mungkin mencintaiku yang juga lelaki. Mas Ardha juga mulai sering mengajakku makan malam di restauran yang sebelumnya gak pernah ada dipikiranku untuk makan ditempat yang semewah. Suatu malam Mas Ardha mengajakku makan malam ditempat biasa kami makan malam kalo kami makan malam diluar, seperti biasa kami ngobrol-ngbrol ringan tentang kegiatan kami masing-masing hari ini. “Seandainya ada yang nembak kamu, apa yang kamu lakukan”, daging sapiku hampir aja mau keluar karena kaget. Astaga kenapa Mas Ardha ngomong kaya gitu ya... “hahahaha. Santai aja Sakka, gak usah kaget gitu… aku bercanda aja kok.”. untung dech cuma bercanda jadi kayanya gak wajib dijawab dech, dan aku memutuskan hanya tersenyum dan ketawa kecil…. Setelah kami selesai maka. Mas Ardha mengajakku untuk mampir ke tempat karaoke, katanya ingin menghilang penat sejenak, aku manut saja karena kalo aku gak mau aku gak rela untuk jalan kaki, tadi aku numpang mobil Mas Ardha. Sampai di tempat karaoke kami tidak antri lama karena Mas Ardha pesan ruang yang kosong. Aku semakin tahu Mas Ardha seperti apa, dia ternyata orang mellow, terlihat lagu-lagu yang dia nyanyikan. “lagu ini special buat orang yang aku cintai, kamu Sakka Prayudha”. Ini apa-apaan lagi Mas Ardha, kok dia mengagetkanku untuk kedua kalinya. Aku jadi penasaran lagu apa yang dia nyanyikan, jangan-jangan lagu kucing garong atau keong racun gitu… Dan untuk ketiga kalinya dia mengagetkanku, lagu yang dia nyanyikan ternyata Janji Suci milik Yovie and Nuno. Mulai gila ini Mas Ardha. Gimana gak gila, selain lagunya, dia nembak aku. “Sakka Prayudha, maukah kau menjadi kekasih, sahabat, teman hidupku???”, aku hanya bisa terdiam, kaget, terharu, seneng, takut, takut ada yang denger karena dia ngomongnya pakai mic. “Sakka Prayudha, maukah kau menjadi kekasih, sahabat, teman hidupku???”, dia mengulangi apa yang dia minta. Aku bingung harus bagaimana, ini yang inginkan, tapi mungkin ini bukan apa yang diinginkan keluarganya. Dia masih punya keluarga, dia harapan keluarga untuk memimpin perusahaan keluarganya. Aku mulai berdiri dan menghampiri Mas Ardha, “apakah keputusanmu ini sudah kamu pikirkan matang-matang, mas?. Kamu harapan keluargamu, kamu calon direktur yang akan memimpin perusahaan.”, “iya Sakka, ini keputusan yang sudah aku pikirkan dengan matang, aku siap dengan resiko atas keputusanku. Tentang siapa yang memimpin perusahaan, aku yakin kakakku mampu untuk memimpin perusahaan papa.”. Mendengar penjelasan Mas Ardha, aku menerima kekurangan dan kelebihan Mas Ardha sebagai pasanganku, kami berpelukan, dan Mas Ardha mencium keningku. Semenjak itu Mas Ardha lebih sering mendatangi kamarku, sering mengeluarkan rangkaian kata yang romantis, tapi kami memutuskan untuk menjaga hubungan indah ini untuk sementara waktu, suatu saat kami akan jujur ke semua orang terlebih lagi ke keluarga Mas Ardha, apapun yang terjadi kelak kami akan hadapi bersama.

***

“Sakka, ayo ke ruang keluarga. Disana ada papa, mama, dan kak Gita. Ini saatnya kita harus memberitahu mereka ada apa dengan kita.”. aku deg-degan, takut, namun aku tetap mengikuti Mas Ardha menuju ruang keluarga. Kami berdua berdiri didepan keluarga Mas Ardha, mereka bingung apa yang kami lakukan. “Sebelumnya Ardha minta maaf pa, ma, kak. Ardha bukan Nabi yang yang sempurna, Ardha hanya manusia biasa yang banyak salah, Ardha punya masa depan yang Ardha nentuin sendiri, karir, begitupun dengan asmara Ardha pun yang menentukan. Pa, ma, kak, Ardha ingin memberitahu kalo Ardha sudah memiliki orang yang Ardha cintai, tapi dia bukan anaknya om Broto.”. “terus siapa nak yang kamu cintai? Kok kamu gak bilang ke mama.” tanya mamanya Mas Ardha, “yang aku cintai dan akan menjadi pasangan hidupku itu Sakka, ma.”, tangan Mas Ardha merangkulku, aku hanya bisa menundukkan wajahku, jujur aku takut sekali denagn keadaan seperti ini, dan keluarga Mas Ardha kompak melototkan matanya tanda mereka kaget. “Apa kamu sudah gila. Papa membesarkanmu, menyekolahkanmu itu untuk meneruskan memimpin perusahaan papa, bukan untuk jadi homo. Papa ingin cabut semua kata-katamu tadi.” “gak, pa. Gak ada yang dicabut dari apa yang aku omongin tadi.”. Tiba-tiba ayah Mas Ardha menampar Mas Ardha, aku kaget, aku lihat Mas Ardha yang hanya terdiam. “Puas kamu membuat anakku jadi homo?!?!? Kamu pintar sekali memikat anakku. Kamu apakan penerusku ini he?!?!?!”. Mama Mas Ardha mencoba menenangkan papa Mas Ardha, dan aku mau menjawab pertanyaan-pertanyaan papa Mas Ardha tapi Mas Ardha mendahuluiku, “bukan salah dia, pa. aku cinta dengannya, pa.”, “cinta homo kok bangga. Kamu tau nanti kamu akan jadi omongan orang, papa malu. Baiklah, mungkin itu hanya cinta emosi kamu, besok juga kamu sadar apa yang telah kamu lakukan.”, “gak, pa. ini cinta dari hati. Cinta yang dianugrahkan dari Tuhan, yang untuk mencintai orang yang aku cintai, pa. Bukan cinta anak kecil yang lahir kemarin.”. Papa Mas Ardha terdiam sejenak, dan kemudian mengajak mamanya dan kakaknya untuk pulang. Mulai kejadian itu Mas Ardha memutuskan untuk tidak bekerja di kantor papanya, dia bekerja di perusahaan lain dan mendapat kedudukan yang lumayan tinggi namun masih dibawah jabatan Mas Ardha sebelumnya.

“ting tong”, bel rumah berbunyi, aku membuka pintu dan ternyata ayah Mas Ardha yang datang, ku persilakan masuk. “ aku ingin kamu pergi dari kehidupan anakku. Ini ada dua tiket, terserah kamu pilih yang mana. Asalkan kamu benar-benar pergi dari kehidupan anakku. Jangan kembali sebelum anakku benar-benar melupakanmu, selama itu juga aku akan membiayai hidupmu.”, papa berbicara banyak sekali sampai membuatku sedikit menyadarkanku apa dampak nantinya jika hubungan kami pertahankan, akan berdamapak ke keluarga Mas Ardha. Aku sayang Mas Ardha, begitu juga dengan keluarganya, sehingga aku memutuskan mengambil tawaran papa, namun aku menolak tentang papa membiayai kehidupanku. “Apa ini maksudnya?”, tiba-tiba Mas Ardha datang dan sepertinya dia mendengarkan pembicaraanku dengan papa. “sekarang mendingan papa pulang, dan jangan ganggu kehidupan kami lagi.”. kemudian ayah pulang tanpa membawa tiketnya. Tiket itu langsung diambil Mas Ardha dan dia langsung memelukku, “jangan pernah berniat untuk meninggalkanku. Apapun yang terjadi kita hadapai bersama. Aku sangat cinta kamu, aku akan berhenti mencintaimu saat gajah bisa terbang sendiri.”. aku menangis dipelukkan Mas Ardha, dan aku juga berjanji apapun yang terjadi aku akan bersama Mas Ardha

***

4 tahun sudah aku dan Mas Ardha hidup bersama dalam suatu komitmen walaupun tanpa dokumen yang punya. Di negara kami memang pernikahan gay tidak diakui, walapun ada negara yang mengakuinya namun kami memutuskan tidak melakukan meresmikan hubungan kami dalam suatu pernikahan. Kami juga memutuskan tidak mendatangi rumah ayah, karena kami menghormati keputusan ayah yang tidak merestui kami, namun kalo kangen  mama Mas Ardha sesekali berkunjung ke rumah kami, beliau sedikit menerima dan merestui hubungan kami. Kini perusahaan ayah lebih maju semenjak dipimpin kak Gita, memang Mas Ardha tidak salah menilai tentang Kak Gita…..

Aku akan berhenti mencintaimu disaat gajah mampu terbang sendiri, dan aku akan mencintaimu selama gajah masih memiliki belalai.



RELATED POSTS

0 comments