Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Everlasting [Cerpen #IDAHOT2015]

18.13 PLUSH 0 Comments Category : , , , , , , , , , , , , , , , ,

oleh: Ninu Milia



“ Maaf, aku tidak bisa membalas rasa suka itu. “

Tidak bisa, ya?

“ Maaf, aku tidak bisa___ “

“ Aku sudah tahu, bodoh! “ bentakku yang segera disusul dengan kemunculan seorang cowok yang entah bagaimana sudah berdiri di sampingku.
“ Siapa yang kau sebut bodoh, Ahia? “

Aku melakukannya lagi.. Melakukannya lagi.

“ Kau mengataiku bodoh lagi. “ gerutunya, “ Kau pasti senang melakukannya. “

Kenapa aku melakukannya lagi? Beberapa saat yang lalu isi kepalaku masih berisi kalimat penolakan dari cowok yang kusukai. Masih ada suara yang sebenarnya tidak ada, yang terdengar sangat jelas mengatakan dia tidak bisa membalas rasa sukaku yang terus terucap berulang kali. Lalu, saat aku berusaha menyingkirkan suara itu..

DIA MUNCUL.

“ Dan apa yang kau tahu? “ tambahnya.

Seolah akan kujawab saja. Daripada merespon ucapan-ucapannya aku lebih memilih untuk terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang telah sepi karena sudah masuknya jam tidur bagi sebagian besar orang.

Dia mengikutiku.

“ Kau mengabaikanku, Ahia. “

Memang harus kuabaikan.

“ Hey..!! “ panggilnya yang mungkin nyaris kehabisan kesabaran, “ Kau akan terus mengabaikanku? “

Sial! Kenapa dia sungguh memaksa!? Sudah kuusahakan menahan diri sampai pada menggigit bibirku sendiri, sudah..

“ Temani aku berjalan, Barry. “
“ Yeah! Akhirnya kau tidak mengabaikanku. “

Aku sungguh lemah.

“ Kau kesepian makanya memanggilku kan, Ahia? Iya? “

Tsk!

“ Haha.. Kau sungguh manja. “
“ Aku menyukaimu. “ ucapku dengan segera, “ Aku menyukaimu, karena itu aku membutuhkanmu. Dan karena membutuhkanmu aku memanggilmu. “

Akhirnya kuakui juga. Aku sangat menyukainya, sungguh.

“ Gilbert akan kecewa kalau tahu kau seperti ini. “
“ Aku memang selalu mengecewakannya. “

Gil.. Gilbert adalah seseorang yang bisa dikatakan sebagai penjagaku. Aku sudah berusaha menurutinya, mempercayainya, tapi.. aku tetap membutuhkan Barry.

Ini adalah kedua kalinya aku seperti ini. Aku sadar Barry yang saat ini berjalan di sebelahku bukan benar-benar Barry. Dia, Barry yang asli, telah menolakku dengan tegas. Dia tidak bisa membalas rasa sukaku karena aku adalah seorang cowok, sama sepertinya.

Aku memanggil Barry..
Aku memanggil Barry yang berada di sebelahku setiap kali membutuhkan seseorang untuk menyingkirkan ingatan tentang penolakan Barry yang asli.

Haha.. aku mengenaskan.

“ Aku ingin bergandengan tangan. “ ucap Barry, “ Maksudku aku ingin kita bergandengan tangan. “

Dia meraih tangan kananku, menyelipkan kelima jarinya di antara jari-jariku dan.. kami terus berjalan.

“ Maaf, aku tidak bisa membalas rasa suka itu. “

!?
Suara itu kembali..

Suara itu.. suara itu..

SUARA ITU!

“ Ahia! “ panggil seorang cowok dengan suara yang lebih rendah dariku maupun Barry.

Dia Gilbert.
dr. Gilbert Gad, SpKJ.

“ Kembalilah kedalam kamarmu. “

Dia memintaku kembali..?? Pada kamar yang tidak memberi kesan apapun kecuali kesadaran bahwa aku memerlukan bantuannya? Kamar yang.. akan membuat Barry hilang selamanya?

!?
Tunggu!
Barry!
Iya, Barry!

“ Jangan melarikan diri. “ nasehat Gil, “ Hadapi kenyataan. Barry tidak bisa membalas perasaanmu karena kalian dari gender yang sama. “

Tidak!
Apa yang dikatakan Gilbert!?
Barry..

“ Tidak ada Barry lain di sampingmu. “

Barry..

“ Akulah yang ada di sini saat kau membutuhkan orang lain. “ jelasnya, “ Aku di sini.. sebagai temanmu. “

Barry..

Perlahan kugerakkan kepalaku, menghadap pada Barry yang berdiri di sampingku. Tapi..

AKU TIDAK MELIHAT BARRY

.. Dia sudah menghilang.



Aku menuruti nasehat Gilbert, menghadapi kenyataan. Setelah berhasil menenangkan diri sehingga bisa keluar dari rumah sakit tempatku dirawat dalam kurun waktu cukup lama.. aku menyelesaikan pendidikanku. Sekarang aku sudah menjadi pengusaha muda yang meski belum disebut konglomerat, nilai kekayaanku cukup tinggi. Tidak banyak yang kukerjakan untuk mendapatkan hal itu. Cukup duduk dengan santai di sebuah cafe, menikmati secangkir kopi, dan.. menatap layar laptop.

“ Dia tidak mengenalimu, Ahia. “ ucap seorang cowok yang duduk di meja yang sama denganku.

Tentang Barry? Seperti yang dikatakannya, Barry tidak mengenaliku meski kami baru saja bertatap mata saat dia menyuguhkan kopi padaku, barusan. Sebenarnya itulah alasan aku berada di sini, untuk sesekali menatap Barry yang merupakan manajer cafe dengan kopi favoritku.

“ Tidakkah kau menyesal? Kau bisa mengejar cintanya jika kau mau. “

Mengejar cinta Barry?

“ Bukan diam dengan secangkir kopi dan mengakui bahwa seorang cowok tidak boleh menyukai sesamanya. Kau terlalu menuruti Gilbert. “
“ Kau pikir aku menuruti Gilbert? “ tanyaku.

Dia terdiam.

Benar, sejak keluar dari rumah sakit aku menjadi Ahia yang selalu tenang. Berhenti menangis dan berhenti merasa terganggu oleh penolakan Barry. Apakah itu diartikan aku menuruti Gilbert? Aku menurutinya, memang, tapi hanya sampai pada batas menerima kenyataan.

Kuterima kenyataan bahwa Barry tidak bisa membalas rasa sukaku.

“ Jika aku mengakui bahwa seorang cowok tidak boleh menyukai sesamanya.. “ ucapku, “ Kau tidak akan kupanggil kan, Barry? “

Dia tersenyum.

“ Kau begitu menyukaiku, ha? Ahia? “

Haha..

“ Kau begitu menyukaiku melebihi Barry yang asli. Kau menyukaiku meski tahu aku hanya halusinasi. “

Tepat. Aku bukan menyetujui aturan cowok harus menyukai cewek. Aku tidak sesempit itu. Kupaksa seperti apapun, kutekan seperti apapun, perasaanku tetap tidak bisa kukendalikan. Aku menyukai cowok. Sebagai cowok aku menyukai sesama cowok. Lalu?

Cinta itu cinta, mengerti?
Siapapun berhak mencintai, berhak dicintai..
Oleh.. dan pada siapapun.


RELATED POSTS

0 comments