Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Dia Bilang I Love You [Cerpen #IDAHOT2015]

18.10 PLUSH 4 Comments Category : , , , , , , , , , , , , , , , ,

oleh: Deni Kusuma



"Bocah kaya gini emang kudu di kasih pelajaran. Hajar terus No!"
"Jangan kasih ampun."

Dua cowo terus berucap seperti itu. Mereka girang sendiri melihat aku yang terus di hajar oleh Nino, sang ketua geng. Aku yang memang dari awal tak ada nyali untuk melawan Nino, hanya terlihat pasrah. Berulang kali ia terus menghajar perutku, pipi kanan-kiriku, sampai berulang kali juga aku tersungkur ke lantai dan dia kembali mencoba membuatku berdiri yang lagi-lagi kembali menghajarku.
"Ini pantes lu dapetin.."
"Beraninya lu buat malu gua di kelas tadi.kasih jawaban salah ke gua."
"Ma..af.. No. Gua ga.."
"Alah. Hajar lagi No." Potong salah satu teman Nino. Nino yang memang nampak kesal, ia malah makin bergairah untuk menghajarku. Dan aku tak di beri sedetikpun kesempatan untuk bicara apalagi menjelaskan. Ini hanya salah paham!
"MAMPUS LU. CABUT." Kesal Nino. Setelah puas menghajarku, mereka pun berlalu. Aku masih kesakitan dan terduduk di lantai. Nino dan kedua temannya sengaja mengajakku ke gudang sekolah. Ini adalah jam pulang sekolah. Kami sama-sama duduk di kelas dua SMA. Hanya yang membedakan adalah aku murid baru (dua bulan).
Meski badanku terasa remuk. Aku paksakan untuk berdiri dan segera cepat pulang. Sekolah sudah nampak sepi. Aku berjalan dengan menahan sakit di perutku.
***
 Aku baru saja selesai mencari kado untuk Agnes,adikku. 17 September nanti dia ulang tahun yang ke-11. Malam ini (08:45 PM) cukup ramai. Aku berjalan sendiri dari mall menuju halte bis. Dan tak lama saat aku sampai di halte bis. Dari sisi kiri terlihat kerumunan yang langsung mencuri perhatianku dan orang-orang disekitarku. Aku yang penasaran menghampiri kerumunan itu. Mungkin aku remaja yang cukup berani menghampiri tiga orang pria dewasa bertubuh besar, yang seperti sedang mengeroyok seseorang.
"Ampun bang. Gua pasti bayar." Kata itu terus berulang dari sang korban. Tapi nampaknya tiga pria dewasa ini tak menggubrisnya. Aku yang makin penasaran mencoba melihat "siapa" yang sedang menjadi bulan-bulan itu. Dan betapa kagetnya aku. Dia,NINO. Namun, aku tak memperdulikannya. Aku balik badan dan  menjauh dari sana. Tapi tiba-tiba, Nino memanggil namaku, mungkin dia sempat melihatku. Sekali lagi aku tak perduli dan tetap berjalan.
Entah bagaimana, sekarang Nino sudah berada di depanku, dia memegang kedua lenganku sambil berkata "Yo, tolong gua."
"Mau lari kemana lagi lu." Kata salah satu dari tiga pria dewasa yang menghajar Nino. Sekarang Nino malah bersembunyi dibelakangku. Aku tak tahu harus berbuat apa.
"Minggir lu. Gua ga ada urusan sama lu." Sambung salah satu dari mereka.
"Maaf bang. Ini ada apa?" Tanyaku.
"Dia (sambil nunjuk Nino) ini punya utang. Dan udah sebulan dia ga mau bayar."
"Berapa utangnya bang?"
"Dua juta."
Tanpa pikir panjang lagi. Aku langsung mengeluarkan dompet dari saku belakang celanaku. Mengambil uang yang tersisa 1,2jt. Aku memberikan satu juta pada mereka.
"Ini satu juta Bang. Sisanya biar aku transfer. Abang tulis ajah nomor rekeningnya." Kataku. Ketiga pria dewasa itu pun akhirnya tenang dari amarah dan menyetujui kesepakatan yang aku sarankan. Setelah itu mereka pergi. Nino masih berada didekatku. Mukanya terlihat kacau. Tapi aku memilih pergi tanpa sepatah katapun.
Bis yang kutunggu akhirnya datang. Aku duduk di bangku belakang seorang diri. Namun, yang tak kuharapkan kembali muncul. Nino. Cowo ini sekarang malah duduk disampingku.
"Thanks ya,Yo." Kata Nino.  Mataku enggan untuk melihat kearahnya.
"Gua ga nolong lu. Dan lu kudu balikin duit gua." Ketusku tanpa melihat kearahnya.
"Iya nanti pasti gua ganti." Balas Nino.
***
Pagi ini (06:45) aku berjalan menuju kelasku. Saat sampai di depan pintu kelas. Aku sedikit merasa aneh. Kok pintu kelas tertutup? Tidak seperti biasanya. Dan saatku buka. Jedaar.. sebuah ember berisi air jatuh tepat dikepalaku. Seketika seisi kelas yang memang sudah ramai, menertawaiku. Indra dan Rama (teman Nino) berlari mendekatiku dan langsung memecahkan telur diatas kepalaku. Mereka nampak girang melakukan itu. Lagi lagi aku terlihat payah, tak bisa membalas dan  membela diri. Aku seakan pasrah dikerjai dua orang ini.
"APA-APAAN INI." Suara cukup lantang berhasil membuat sedikit kesunyian.
"Ini No. Kita lagi ngerjain si Gio." Jawab Indra dengan semangat. Nino berjalan mendekatiku, sejenak ia memperhatikanku. Lalu beralih ke kedua temannya.
"Siapa yang nyuruh kalian buat ngerjain Gio." Tanya Nino.
"Lho kenapa? Lu ga suka?" Bingung Rama.
"Tolol." Kesal Nino sambil memukul kepala dua temannya.
"Ikut gua." Nino meraih tangan kiriku. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya pasrah mengikuti langkah kakinya.
Sesampai di toilet. Ia menyuruhku untuk membersihkan rambutku yang terdapat lendir telur. Selesai membersihkan dengan sabun cuci tangan. Kemudian Nino membuka baju seragamnya dan diberikan padaku. Aku memang tercengang dengan sikapnya sekarang, namun aku tak bisa bertanya langsung. Aku hanya bisa menuruti apa yang sedang ia perintahkan. Aku menerima seragamnya dan memakainya. Kami bertukar seragam. Sekarang Nino memakai baju seragamku yang basah dan berlendir.
"Udah. Sekarang lu kekelas duluan." Perintahnya. Tanpa bertanya, aku kembali mengikuti perintahnya. Aku berjalan meninggalkan toilet. Dikelas, semua menatapku. Tatapan kesal terlihat dari wajah Indra dan Rama, aku tak tau apa yang sekarang mereka pikirkan. Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Nino. Remaja itu masih belum kembali kedalam kelas. Sampai jam istirahat tiba, ia tak menampakkan batang hidungnya. Aku yang heran, berusaha mencarinya. Di toilet, di kantin, di gudang bahkan di belakang sekolah juga tak ada. Hingga jam sekolah berakhir, remaja itu tak kunjung terlihat.
Di depan sekolah.
"Gio." Seseorang memanggil namaku. Ternyata Nino, ia sedang bersandar di tembok gerbang sekolah.
"Kenapa lu ga masuk?" Tanyaku.
"Baju gua kan lu pake. Lagian gua ga mau masuk ke kelas pake baju bau amis gini."
"Ya udah tukeran lagi ajah."
"Ketus amat sih lu. Masih marah sama gua?"
"Gua cuma ga mau berurusan sama orang kaya lu."
Sesaat Nino terdiam mendengar perkataanku. Sebuah senyum yang sempat terlukis,mendadak hilang. Tanpa kata ia pun memilih pergi. Aku tak perduli tentangnya. Meskipun ia sudah menolongku hari ini. Tapi yang masih ku ingat dengan jelas adalah perlakuannya padaku kemarin-kemarin. Aku masih ingat jelas!
***
07:40 PM
"Gio ada yang nyariin." Teriak mamahku dari lantai bawah. Dengan cepat aku menyaut dan segera turun. Mamahku bilang bahwa ada teman sekolahku yang sedang menunggu di depan rumah. Dan saat ku buka pintu. Dia lagi. Orang yang tak ku harapkan.
"Hai." Sapa Nino dengan sebuah senyum sambil memainkan kedua alis matanya.
"Mau ngapain lu."
"Nih. Mau balikin baju lu. Udah bersih kok."
Tanpa menjawab aku langsung menerima sebuah kantung plastik berwarna putih,
"Tunggu. Gua mau ambil baju lu."
"Ga usah." Cegah Nino sambil memegang tanganku. Aku yang risih melepaskan tangannya dariku. Aku menatapnya dengan serius.
"Hmm. Ikut gua." Ajaknya yang kembali meraih tanganku dan membuatku mengikuti langkahnya. Plastik yang ku pegang ku jatuhkan tepat di depan pintu. Nino menyuruhku untuk naik ke atas motornya. Aku sempat menolak dan mencoba kembali kedalam rumah, tapi dia yang berhasil membuatku menuruti kemauannya.
"Mau kemana sih?" Pertanyaanku itu tak mendapat jawaban. Nino masih fokus mengendarai motor maticnya, yang entah kemana dia akan membawaku.
Sekitar 17 menit. Akhirnya sampai. Aku merasa aneh kenapa dia membawaku ke sini. Kami berhenti tepat dijalan yang diapit sawah-sawah yang luas. Dan disini sepi. Hanya tadi ada dua motor yang bersamaan dengan kami.
"Ngapain sih disini." Bingungku. Mataku melihat kearah sekitar yang sepi. Aku sedikit takut, disini cukup mencekam.
"Gua cuma mau mastiin. Lu lebih takut sepi begini, atau masih takut sama gua?"
"Aneh lu. Gua ga takut disini. Dan gua juga ga takut sama lu." Sangkalku.
"Yakin?" Tanya nya.
"Iya." Singkatku.
Nino turun dari motornya dan menghampiriku yang berjarak sekitar 6 langkah dari nya. Tatapannya begitu dingin. Meski gelap, namun sinar bulan cukup jelas menerangi malam ini. Ia berjalan mendekatiku. Dan sekarang aku mulai takut. Aku melangkah mundur saat ia tepat didepanku.
"Katanya ga takut? Kok mundur?"
"Anter gua balik." Kataku kemudian berjalan melewatinya menuju motor.
"Lu manis,Yo.!"
What the F*ck!! Apa gua ga salah denger?  Aku yang tersentak berhenti melangkah dan berbalik. "Hah? Apaan?" Bingungku.
"Gua bilang lu manis."
"Anjrit. Oke. Sekarang gua mulai takut sama lu." Kataku kemudian berbalik.
"I Love You,Yo!"
Ucapan Nino berhasil membuatku kesal. Aku berbalik dan berjalan mendekatinya. Aku langsung memukul kepalanya. "Udah gila lu. Kebentur apa otak lu." Kesalku.
Sesaat Nino terdiam. Tapi tiba-tiba, ia mencium bibirku. Kedua tangannya begitu kuat memegang kepalaku. Tenagaku masih kalah dengannya.
"Cuih cuih." Aku mencoba menghapus bekas ciuman Nino barusan. Berkali-kali aku mengelap bibirku dengan tangan dan bajuku.
***
Sejak malam itu. Malam dimana Nino menciumku. Kekesalanku bertambah padanya. Tapi Nino, ia malah mencoba terus mendekatiku. Dia pun pindah duduknya bersamaku. Dan semakin kesal aku padanya, ia malah bergairah mendekatiku dan memberi perhatiannya padaku.
Hingga suatu hari, saat ia tiga hari tak masuk sekolah. Aku merasa kehilangan. Aku sendiri tak tahu perasaan apa yang sedang ku alami. Tapi aku benar-benar merasa kehilang tiga hari itu. Saat mendapat kabar bahwa ia sedang sakit, aku langsung mencari tau alamat rumahnya dan datang untuk menjenguk.
"Tau dari mana rumah gua?" Tanya Nino saat aku baru tiba didalam kamarnya.
"Kita kan sekelas." Santaiku kemudian duduk di bangku di samping tempat tidurnya. Nino nampak lemah diatas kasur.
"Ah.gua tau.  Lu kangen sama gua,kan?" Godanya. "Cuih." Balasku.
"Apa lu kehilangan gua?"
Belum sempat aku menjawab, Ibu nya datang dengan membawa obat-obat yang harus Nino minum. Tapi Nino meminta obat-obat itu di taruh diatas meja, ia akan meminumnya nanti. Setelah itu,Ibunya kembali membiarkan aku dan Nino berduaan.
"Lu belom jawab." Kata Nino.
"Jawab apaan?" Heranku.
"Lu kangen sama gua, kan?"
Aku masih tak bisa menjawab pertanyaan Nino. Maka, aku mengalihkan pembicaraan dengan mengambil obat untuk Nino. Dan menyuapinya. Ia tersenyum dan memegang tanganku saat dua butir obat ku suapi kemulutnya.
"Cinta itu kan ga mandang jenis kelamin, Yo."
"Gua jatuh cinta sama lu."
Pengakuan Nino membuatku tercengang. Apa yang sedang terjadi dengan remaja di depanku ini. Wajahnya begitu berbinar. Meski tubuhnya lemah diatas kasur, namun senyumnya tak pernah melemah. Sebenarnya Nino ini orang yang baik. Dan aku tak tau kenapa ia nampak jahat padaku saat pertama kali aku datang disekolah.
"Udah. Jangan bacanda." Kataku.
"Siapa yang becanda? Gua serius,Yo."
Aku tak berkata apa-apa lagi. Aku hanya berharap semoga ini mimpi. Tanpa sadar aku malah menampar-nampar pipiku sendiri.
"Lho. Lho. Kenapa lu?" Kaget Nino.
"Gua lagi mimpi. Dan gua lagi berusaha bangun." Kataku yang kembali menampar kedua pipiku sendiri. Tanpa ku duga, tangan Nino ikut menampar pipiku. Tamparannya cukup keras.
"Ngga mimpi kan?" Kata Nino diakhiri senyum.
"Jadi kita gimana?" Tanya Nino lagi.
***
Semakin hari aku dan Nino makin akrab. Awalnya aku belum menjawab atas perasaannya padaku. Tapi dia berkali-kali juga bertanya lagi. Dia bilang "I Love You" padaku. Dan entah kenapa, akhirnya aku luluh. Hanya saja aku merasa nyaman didekatnya. Rasa sayangku tumbuh dengan sendirinya. Mungkin karena dia selalu ada buatku, dan selalu memberi perhatian padaku.
Aku hanya teringat ucapannya, kalau "cinta tak memandang jenis kelamin." Dan itu ada benarnya. Karena kenyamananku didekatnya, membuat aku juga mencintainya.



RELATED POSTS

4 comments

  1. Wew..., ceritanya bagus..., Obi suka..., tapi..., kok pake nama Mas Nino (o.O), mas Nino itu sepupunya Obi yang udah bikin Obi jadi kayak gini (o.O)..., kalo ga percaya..., baca aja SKO Obi di obipopobo.com ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. :D terinspirasi kamu kalii bi ...

      Hapus
  2. ceritanya baguss ,aku sukaa . terus berkarya yaa (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasiiih. Akan kami sampaikan ke penulisnya :)

      Hapus