Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Could It Be Love [Cerpen #IDAHOT2015]

18.04 PLUSH 0 Comments Category : , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

oleh: Wisesa Wirdayuda



SATU
            “Aduh bedak taburku habis!” gawat sekali. Aku tidak bisa keluar rumah jika mukaku masih kusam seperti ini. Nanti tidak ada yang mau melirikku. Ini gawat. Aku harus menyuruh Adi untuk ke warung. “Adi!”
            “Apa!?” balasnya berteriak.
            “Beliin bedak dong di warung. Habis nih!”
            “Mana uangnya?” pintanya ketika adikku itu memasuki kamarku.
            “Nih.” Aku berikan selembar dua puluh ribu padanya. “Tahu kan yang mana merknya?”
            “Iya tahu.”
            Kemudian adikku itu langsung pergi. Aku tatap lagi kaca di depanku ini. Memastikan tidak ada bagian wajahku yang terlewat sembari aku menunggu adikku kembali.
            “Nih... kembaliannya buat aku ya?” katanya begitu dirinya sudah kembali.
            “Iya deh.” Setelah aku mendapatkan bedakku, aku kembali menyempurnakan riasanku ini. Sebentar lagi pukul sembilan malam. Aku harus cepat sebelum teman-temanku mendahuluiku.
            Setelah aku merasa sempurna, aku akhirnya memeriksa tubuhku dari ujung kaki ke ujung kepala. Aku ambil tas pinggangku ti dan segera saja berpamitan pada Adi.
            “Hati-hati, kak.”
            “Iya. Pintunya kunci saja kau sudah mau tidur, ya.”
            Adi mengangguk dan melanjutkan tontonannya di tv. “Bawa martabak keju ya kak.”
            “Kalau ada yang buka, ya.”
            Adi mengangguk lagi. Dia memang anak penurut, tidak banyak menunut. Apalagi setelah kami kehilangan orang tua kami dua tahun yang lalu. Orang tua kami mengalami kecelakaan mobil di jalan tol. Kami sangat terpukul saat itu. Bahkan Adi sendiri tidak mau masuk sekolah selama satu minggu setelah kejadian itu. Aku hanya bisa menuruti suasana hatinya dan menuruti kemauannya.
            Semenjak kepergian orang tua kami, aku secara otomatis menjadi tulang punggung keluarga, atau setidaknya untuk kami berdua saja. Jika hari masih siang, aku pergi bekerja di mall sebagai pelayan makanan di pusat makanan. Yah, lumayan gajinya bisa aku gunakan untuk menyekolahkan Adi. Aku hanyalah lulusan SMA jadi aku tidak bisa banyak memilih dalam masalah pekerjaan. Apapun yang menurutku bisa menghasilkan uang, pasti aku kerjakan.
Berbeda jika hari sudah malam. Aku biasanya pergi untuk mengamen bersama teman-teman wariaku di sebuah wilayah yang dikenal dengan sebutan Samsat, tepat di perempatan lampu merahnya. Disini lampu merahnya sangat lama, jadi sangat menguntungkan untuk kami.
            Aku memang masih terhitung baru mengamen disini. Berbeda dengan teman-temanku yang sudah sedari dulu bekerja disini, bahkan sebelum orang tuaku meninggal.
            “Neng Ita! Telat mulu ih! Nanti dapetnya dikit loh.” Kata temanku, Lila, begitu aku baru sampai.
            “Bedakku habis, mih.
            “Ya ampun. Disetok dong biar gak kehabisan gitu.” Kata temanku yang lain. Aku memang kurang pengalaman sepertinya.
            “Yasudah. Ayo! Itu lampunya sudah merah tuh.” Ajak Lila pada semua.
            Kami pun langsung meluncur ke lapangan bermodalkan kecrekan yang terbuat dari tutup botol yang dipaku longgar jadi satu.
            Aku menghampiri sebuah mobil yang menurutku mewah. Mobil sedan dengan jendelanya yang terbuka. “Could it be love... could it be love... could it be, could it be, could it be love...” Aku bernyanyi.
            “Gaya bener neng nyanyi lagu Raisa.” Kata sang supir.
            “Iya dong kang. Biar up to date.” Kataku. Kami sedikit tertawa dan kemudian sang supir memberiku recehannya.
            Aku kembali berjalan lagi mencari mobil lain. Angkot-angkot sudah kehabisan penumpangnya, sangat jarang angkot dengan penumpang yang penuh. Namun beruntungnya aku, aku menemukan satu. Aku mulai bernyanyi lagi. “Could it be love... could it be love... could it be, could it be, could it be love...” Aku perhatikan ada beberapa orang yang tertawa melihatku bernyanyi. Kurasa aku tidak salah memilih laguku malam ini. Semua penumpang angkot merasa terhibur sepertinya, terutama pemuda berkaca mata itu. Dia tidak seperti kebanyakan laki-laki yang melihatku sembari mengata-ngataiku. Aku lihat pemuda itu merogoh tasnya dan memberikanku satu lembar dua ribu. Jarang sekali yang memberikan uang dua ribu pada pengamen.
            Sampai akhirnya lampu kembali hijau. Itu artinya aku harus segera ke pinggir agar tidak tertabrak. Kelika lampu hijau biasanya aku membereskan recehan yang aku dapatkan dan memasukannya kedalam tasku. Setelah itu aku menunggu lampu menjadi merah kembali.
            “Udah dapet banyak belum neng?”
            “Lumayan lah. Tadi ada yang kasih dua ribuan.”
            “Oh gitu. Ya lumayan lah ya. Buat makan si Adi.”
            “Iya mih.
            “Tuh sudah merah lagi.” Seketika kami yang sedang duduk di pinggir jalan, kembali berdiri.
            Sepertinya giliranku yang kurang beruntung kali ini. semua yang kudatangi tidak mau memberikan recehannya. Jika sudah begini biasanya aku menggunakan jurusku.
            “Mau request lagu apa mas?”
            “Wah, bisa nih?”
            “Bisa dong!” kataku.
            “Goyang Mujaer, dong.”
            “Aku gak tau. Goyang Duma saja ya?”
            Pria itu tertawa dan mengangguk. Dan akhirnya aku mendapatkan uang kertas lagi setelah selesai menari untuknya.

DUA
            Jika dihitung-hitung, sepertinya penghasilan hari ini bisa dikatakan lebih besar dari kemarin. Mungkin karena strategiku berjalan dengan lancar malam ini. Sepertinya aku bisa membelikan Adi martabak keju sesuai pesanannya.
            “Dimana ya tukang martabak yang amsih buka?” aku berbicara sendiri.
            Ini sudah tengah malam, sepertinya sudah tidak ada lagi siapapun yang berjualan. Namun sepertinya aku melihat ada sebuah gerobak yang terang benderang disebrang jala itu. Biarlah, meskipun bukan martabak keju, aku akan beli sedikit untuk Adi. “Kasihan dia, pasti lapar.”
            Aku perhatikan ke kanan kiri jalan. Sudah kosong, jadi aku rasa akan aman untukku menyebrang jalan. Setelah aku berhasil menyebrang, aku menghampiri gerobak tadi. Ternyata dia berjualan nasi goreng. Kupikir tak apa jika Adi makan nasi goreng saja.
            “Mang, satu porsi berapa?”
            “Sepuluh ribu, kang... eh, teh.
            “Panggil Ita saja mang kalau bingung. Beli dua bungkus ya mang.
            Selama dia sibuk menyiapkan pesananku, aku perhatikan ada beberapa orang yang sedang bermain kartu remi di tempat yang seharusnya menjadi tempat pelanggan untuk makan.
            Mereka memandangiku dengan pandangan benci mereka. Aku sendiri sudah terbiasa dengan pandangan itu. Namun karena jumlah mereka lima orang, aku merasa sedikit takut. Ingin rasanya segera pergi dari sini.
            “Ini Ita, jadi dua puluh ribu.” Kata penjual nasi goreng itu. Aku pun memberikannya uang kemudian segera pergi.
            Aku merasakan dibelakangku juga ada yang berjalan mengikutiku. Dan benar saja, tiga dari lima pemuda tadi sedang berjalan di belakangku.
            “Mau kemana sih? Buru-buru amat?” tanya salah satunya.
            Aku tidak menjawab satupun pertanyaan mereka, yang kulakukan hanyalah berjalan dan berjalan. Aku juga sedikit demi sedikit menambah kecepatan langkahku. Namun tetap saja mereka seoalh tetap ada di belakangku.
            “Tunggu dong, gak mau main dulu sebentar?” goda pemuda yang lainnya. Disusul dngan tawaan kecil dari teman-temannya.
            “Kejar! Kejar!” Tiba-tiba saja aku berlari setelah salah satu dari mereka mengatakan itu. Aku juga merasakan mereka mengejarku. Semakin takut aku dibuatnya.
            Aku terus berlari tanpa merasa perlu untuk menengok ke belakang. Sampai aku merasakan mereka berhenti berlari. Aku pun ikut melambat, sampai akhirnya aku merasakan cahaya yang berderu kencang menghantam diriku. Sekeras mungkin aku menghindar, namun percuma, mobil itu berada beberapa jengkal dariku, aku terjatuh dan seketika semua menjadi gelap.

TIGA
            Bunyi yang aneh mulai terdengar di telingaku. Seperti berkedip-kedip yang kurasakan selaras dengan detak jantungku, hanya terlambar beberapa saat saja. Perlahan aku buka mataku. Kulihat sebuah televisi yang menempel di tembok dalam keadaan mati. Dan juga ada tirai yang menutup tempatku terbaring.
            Aku ingat-ingat lagi apa yang terjadi padaku. Dan semua yang kuingat hanyalah aku sedang dikejar oleh beberapa orang pemuda dan tanpa aku sadari aku berada di pertengahan jalan sampai sebuah mobil nyaris membunuhku. Aku ingat betul mobil itu melaju denan cepat tanpa aku sadari.
            “Aku dimana?” tanyaku pada diriku sendiri perlahan. Aku mencoba untuk menggerakkan tubuhku, namun rasanya sakit sekali. Remuk sekali tubuhku.
            Kemudian seseorang membuka tirai yang sedari tadi tertutup. Seorang pria dengan wajah yang kusut. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, namun aku mengira dia sepertinya sedang banyak pikiran.
            “Kau bangun?” tanyanya. Suaranya sangat serak.
            Aku tidak ambil pusing, aku langsung menanyakan padanya dimana aku sekarang dan apa yang sudah terjadi padaku.
            Pria itu mengambil kursi dan meletakkannya di dekat tempatku terbaring. “Anu, neng...”
            “Panggil aku Ita saja.” Kataku.
            “Aku... aku yang menabrakmu.” Katanya perlahan.
            Aku bingung, rasanya aku ingin marah padanya namun apa yang dia lakukan sudahlah lebih dari cukup. Maksudku, mungkin salahku juga sehingga akhirnya aku tertabrak mobil.
            “Aku tidak tahu harus apa. Tapi membawamu ke rumah sakit adalah yang bisa aku lakukan. Tapi syukurlah, kata dokter kau hanya memar-memar dan ada sedikit jahitan. Namun kau baik-baik saja. Besok kau akan kuantar pulang sebagai permintaan maafku.” Katanya.
            Astaga, aku bingung apa yang harus aku katakan padanya. “Mungkin, ini salahku juga.” Kataku pada akhirnya. “Jangan menyalahkan dirimu terlalu jauh.”
            “Aku baru saja dipecat dari kantorku, jadi aku kesal dan aku kebut-kebutan. Aku tidak tahu kalau jalan itu tidak kosong seperti yang aku kira.”
            “Dengan kau membawaku ke rumah sakit saja itu sudah lebih dari cukup.” Kataku, mengingat banyak sekali kasus tabrak lari terhadap waria. Aku masih beruntung pria ini membawaku ke rumah sakit. “Terima kasih.”
            “Katakan saja apa yang kau butuhkan. Asal jangan laporkan aku ke polisi.”
            “Aku tidak akan melakukan itu.” Kataku. Pria ini benar-benar kalut. Sepertinya jika aku melaporkannya ke polisi, dia bisa-bisa bunuh diri.

EMPAT
            Kuketuk pintu rumah kontrakanku itu. Adi langsung membuka pintunya. “Kakak!” katanya dengan nada penuh kecemasan. “Kakak nggak apa-apa?”
            Tanpa ingin membuatnya khawatir, aku katakan padanya bahwa aku tak apa-apa. “Kakak pusing, jadi kakak nginep di tempat teman.” Kataku berbohong. “Nih, martabak keju. Habiskan ya!”
            “Asik!” Adi langsung saja menyambar kantung berwarna hitam yang aku genggam dan membawanya ke depan televisi.
            Aku menengok keluar, Jaka, pria yang penuh dengan tanggung jawab itu, masih disana mengamatiku dari jauh. Kemudian melambaikan tangannya untuk berpamitan.
            “Terima kasih.” Kataku tanpa bersua, dan kulihat dia mengangguk.
            Setelah dia pergi dari pandanganku, aku merogoh isi tasku, kuambil selembar kertas putih yang sudah kutulisi dengan nomor telepon Jaka. Seketika saja aku tersenyum. Could it be love? Aku tidak tahu.

RELATED POSTS

0 comments