Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Aku Ingin Bahagia [Cerpen #IDAHOT2015]

17.19 PLUSH 0 Comments Category : , , , , , , , , , , , , , , , ,

oleh: Nova Aristianto

Nama aslinya Yanto. Tapi orang-orang lebih mengenal dia dengan nama Yance. Ya, Yance adalah nama beken dia di “pangkalan-nya” di O Kilometer Jogja.

Lelaki yang merasa terlahir dalam tubuh seorang wanita tersebut sudah mulai pindah ke Jogja sejak sekitar 2 tahun yang lalu dari kampung halamannya di Pekalongan. Tidak banyak pekerjaan yang bisa dia pilih dikampungnya tersebut. Ditambah lagi dengan keadaan masyarakat yang belum sepenuhnya bisa menerima keadaannya sebagai seorang waria. Yance bahkan dianggap seperti mahluk menjijikan dan pembawa malu di kampugnya.


Bahkan keluarganya pernah memaksanya menikah dengan seorang perempuan dari desa tetangga dengan harapan agar Yanto bisa seperti lelaki normal pada umumnya.

Yanto memang bisa menjalani pernikahan tersebut selama hampir satu setengah tahun dengan segala keterpaksaan. Terpaksa hanya untuk menyenangkan keluarganya saja, walaupun jauh didalam hatinya sebenarnya Yanto tidak bisa menerima segala keadaan tersebut. Yanto lebih tertarik kepada lelaki, dia merasa bahwa seluruh jiwa dan raganya adalah perempuan. Dia terlahir sebagai wanita yang terperangkap dalam tubuh laki-laki.

Setelah satu setengah tahun menikah dan membuahkan seorang anak, Yanto akhirnya melakukan gugatan cerai kepada istrinya tersebut dan pindah ke Jogja untuk mencari pekerjaan dan menjauh dari orang-orang di kampungnya yang selama ini hanya bisa mencaci keadaannya. Yanto juga punya keinginan untuk membesarkan anaknya dari hasil kerja kerasnya. Walaupun tidak pernah sama sekali bisa menikmati pernikahannya, Yanto sangat sayang kepada anaknya tersebut. Salah satu cita-cita lain Yanto dengan bekerja di Jogja adalah dia ingin mengunpulkan uang sebagai modal di hari tuanya nanti agar dia pada saat senjanya nanti dia bisa tetap bisa hidup bahagia walaupun mungkin tanpa pendamping hidup.

Yanto sangat menyukai kehidupan barunya di Jogja. Karena di kota ini dia bisa kembali menjadi dirinya tanpa takut terbelenggu oleh cacian dari orang lain. Yanto kini lebih sering berdandan layaknya seorang perempuan. Mulai dari memakai bedak, lipstick sampai dengan menggunakan baju-baju perempuan seperti yang sering dia lakukan saat masih kecil. Saat masih kecil Yanto sering mencuri-curi baju milik kakak perempuannya saat tidak ada orang dirumah. Yanto kecil sering berlenggak-lenggok didepan kaca bak seorang model sampai pada akhirnya ulahnya tersebut kemudian diketahui oleh sang ayah yang membuatnya murka dan Yanto harus menerima pukulan dari ayahnya tersebut.

Tidak banyak keahlian yang dimiliki oleh Yanto sehingga tidak banyak pekerjaan pula bisa dipilih. Akhirnya mau tidak mau untuk menyambung hidup selama di Jogja dia harus mau melakukan pekerjaan apapun.

Yanto akhirnya menjadi pengamen bersama sesame teman warianya pada siang hari untuk kemudian menjajakan dirinya pada malam hari. Sungguh sebenarnya bukan pekerjaan itu yang diinginkan Yanto, jika bisa memilih Yanto ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Tapi namun seseorang memang kadang tidak bisa memilih pilihannya hidupnya sendiri. Sama seperti dia tidak pernah tau bagaimana dia bisa dilahirkan menjadi seorang waria. Namun demikian Yanto tetap menjalani hari-harinya di Jogja dengan bahagia. Karena dia ingat tentang anaknya dan juga keinginannya untuk tetap bisa hidup bahagia di hari tuanya.

Pun tidak mudah bagi Yanto untuk menjalankan pekerjaannya tersebut. Kadang dia harus berkejaran dengan Satuan Polisi Pamong Praja yang seringkali melakukan razia atau penertiban terhadap pengamen ataupun waria yang biasa menjajakan diri disekitar Gedung Bank Indonesia. Tidak jarang pula penertiban tersebut dilakukan dengan cara-cara yang kurang manusia dan disertai dengan tindak kekerasan. Selain itu sering pula banyak orang iseng yang langsung kabur setelah mereguk kenikmatan bersama Yanto. Belum lagi cibiran dan masyarakat yang selalu menganggap dirinya adalah mahluk yang menjijikkan yang kadang membuat hatinya merasa bersedih.

Namun bagi Yanto dia merasa bisa lebih bahagia karena bisa mejadi dirinya sendiri tanpa ada kepura-puraan. Yanto bahagia menjadi dia sekarang, dia bahagia karena dia bisa mengumpulkan uang untuk kehidupan bahagia di masa tuanya yang selalu dia cita-citakan. Bagi Yanto orang lain hanya bisa mengadili dan mencaci seseorang tanpa pernah mengalaminya secara langsung.


RELATED POSTS

0 comments