Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Sejarah Hari Solidaritas LGBT Nasional

16.19 PLUSH 0 Comments Category : , , , , , , , , , , , ,


Oleh: Joseph Ryan Korbarri




Gerakan Komunitas LGBT bukan merupakan Isu baru di Indonesia. Perjuangan agar komunitas LGBT di Indonesia punya hak yang sama dengan masyarakat lainnya di semua aspek kemasyarakatan, sudah masuk dalam ruang-ruang diskusi baik dikalangan praktisi dan akademisi. Beragam aksi pun sudah digelar dalam rangka upaya pemenuhan hak komunitas LGBT sebagai warga negara. Bila ditilik kebelakang, Gerakan LGBT memiliki sejarah panjang yang patut kita apresiasi bersama.


Pada tahun 1969, organisasi waria pertama di Indonesia dengan nama HIWAD (Himpunan Wadam Djakarta) berdiri. Pendirian ini difasilitasi oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Sayangnya, tidak ada catatan pasti terkait tanggal dan bulan berdirinya.Gerakan LGBTIQ Indonesia betul-betul bisa dianggap lahir pada 1 Maret 1982 dengan berdirinya Lambda Indonesia. Lambda Indonesia adalah organisasi gay terbuka di Indonesia dan Asia, dengan sekretariat di Solo. Mengapa berdirinya Lambda Indonesia bisa dianggap sebagai tonggak gerakan LGBTIQ Indonesia? Setidaknya, organisasi ini lahir dari rahim kesadaran para aktivis gay untuk hadir sebagai gerakan yang mengorganisir dirinya dan menuntut hak-haknya.


Segera setelah terbentuk cabang-cabang lain di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, dan tempat-tempat lain, organisasi gay juga mulai tumbuh setelah pendirian Lambda Indonesia ini. Salah satunya adalah Persaudaraan Gay Yogyakarta (PGY) yang berdiri pada tahun 1985. PGY ini kemudian sepakat untuk berubah menjadi IGS (Indonesian Gay Society) di tahun 1988.


Pada tanggal 1 Maret 2000, IGS mendeklarasikan tanggal 1 Maret sebagai Hari solidaritas Gay dan Lesbian Nasional. Tanggal ini merujuk pada  pendirian Lambda Indonesia sebagai organisasi gay terbuka pertama di Indonesia dan Asia, sebuah capaian sejarah yang pantas untuk dikenang, dihormati, diperingati, dan semangatnya dilanjutkan. Perayaan deklarasi yang bertempat di Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta ini dihadiri oleh sekitar 100 orang komunitas gay, lesbian dan kawan-kawan simpatisan dari berbagai kalangan. Nama hari peringatan sengaja mengandung kata “solidaritas” karena IGS memandang perjuangan emansipasi gay dan lesbian membuka kesempatan seluas-luasnya kepada kawan-kawan yang simpatik untuk ikut bergabung. Lembaga Indonesia-Perancis dipilih karena  perayaan Gay Pride 1999 dilangsungkan di Pusat Kebudayaan Perancis Surabaya. Kiranya pihak Perancis melihat perjuangan pembebasan kaum gay, lesbian, waria dan biseks sebagai kelanjutan Revolusi Perancis yang bermotto “Kebebasan Persamaan dan Persaudaraan” itu. Seiring berjalannya waktu sinergisitas perjuangan teman-teman gay, lesbian, biseksual, dan transgender dirasa perlu dijadikan dalam satu tema besar dalam rangka pemenuhan hak dalam masyarakat, karena itu Hari Solidaritas Gay dan Lesbian Nasional diubah namanya menjadi Hari Solidaritas LGBTIQ Nasional. 



Gerakan LGBTIQ Indonesia pada akhirnya harus menyadari bahwa gerakan ini tidak hanya berhenti di ritual kumpul-kumpul, tapi lebih dari itu adalah bersama-sama menyuarakan sebuah tuntutan. Gerakan ini hendak menuntut agar mereka diakui dan diperlakukan sama sebagai manusia dan warga negara yang sah. Sebagai manusia, komunitas LGBTIQ memiliki hak-hak dasar yang harus dihormati dan dipenuhi. Pelanggaran terhadap hak-hak tersebut adalah pelanggaran atas kemanusiaan itu sendiri. Sebagai warga negara, komunitas LGBT juga berhak untuk mendapatkan perlakuan yang sama tanpa diskriminasi sebagaimana warga negara lain. Hak-hak sebagai warga negara harus dipenuhi utuh sebagaimana pemenuhan hak-hak warga negara lain.




Dicukil dari :

RELATED POSTS

0 comments