Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Bystander: Peran Penting Dalam Rantai Bullying

15.59 PLUSH 0 Comments Category : , , , ,


By Renate Arisugawa

Berbicara tentang bullying, kita akan sering berfokus pada ‘Pelaku’ dan ‘Target’/’Korban’, padahal sebenarnya ada peran lain yang merupakan kunci dari berlanjut atau tidaknya bullying ini. Peran inilah yang menentukan apakah bullying akan bertambah besar atau berhenti. Peran ini adalah bystander, yaitu orang-orang yang melihat tindakan bullying. Bystander memang bukan pelaku dan bukan target, tapi justru peran inilah yang paling penting. Kok bisa ya?

Menurut Dr. Eliza Byard, tujuan dari pelaku bullying adalah membuat mereka terlihat kuat, dominan dan tangguh dengan membuat orang lain terlihat lemah dan menderita. Namun hal ini hanya bisa terjadi hanya jika orang-orang lain di sekitarnya MENDUKUNG perbuatannya. Dukungan ini tidak selalu berupa bantuan langsung seperti yang dilakukan oleh asisten pelaku. Orang-orang yang tertawa ketika melihat perbuatan pelaku, orang-orang yang diam saja karena takut melihat perbuatan pelaku, orang tua atau guru yang mengabaikan tindakan pelaku, inilah bentuk dukungan yang membuat pelaku semakin kuat dan semakin ingin melanjutkan perbuatannya. Jika orang-orang yang melihat tindakan bullying ini tidak diam saja, atau minimal tidak tertawa, syukur-syukur malah berani bilang ke pelaku bahwa, “leluconmu tidak lucu!”, maka bullying itu akan berhenti karena pelaku tidak mendapat kepuasan atau respon yang dia inginkan dari tindakannya. 

Bagi kebanyakan orang, menjadi bystander ini tidak menyenangkan, karena sebenarnya mereka bingung dengan apa yang harus mereka lakukan ketika melihat tindakan bullying. Berikut pernyataan seorang murid SMP, “Aku sudah pernah menjadi penonton, aku pernah berada di situasi dimana aku lebih mudah bagiku untuk ikut menertawakan anak yang di-bully. Sebenarnya aku merasa sedih, karena mungkin saja suatu saat akulah yang berada di posisi anak itu. Tapi tidak ada orang lain yang membantunya, dan ada semacam insting untuk mengikuti apa yang dilakukan banyak orang lainnya. Jadi aku tetap tertawa dan aku bilang ke diriku sendiri bahwa anak itu akan baik-baik saja kok. Ini Cuma bercanda. Padahal aku tahu kalau ini akan sangat menyakitkan dan berbekas pada anak itu”.
Selain karena insting untuk mengikuti arus ini, kebanyakan murid yang berada di posisi bystander memilih untuk diam saja karena takut pada pelaku. Mereka berpikir jika mereka menolong si target, mereka juga akan dijadikan target baru oleh pelaku. Sebagian bystander juga merasa takut untuk melapor ke orang tua atau guru karena kalau mereka ketahuan melaporkan tindakan bullying yang mereka lihat kepada guru, mereka bakal diincar oleh pelaku dan dianggap sebagai ‘tukang lapor’ oleh teman-teman lainnya. 

Berikut adalah cerita dari seorang teman, “Waktu SD aku sering melihat teman cewek atau teman cowok yang badannya kecil dinakali sekelompok kakak kelas sampai menangis. Lalu aku lapor ke guru, tapi tidak ditanggapi, jadi aku lapor ke kepala sekolah langsung. Kepala sekolah lalu memanggil kakak-kakak kelas itu ke kantor dan menghukum mereka. Setelah itu mereka mendatangiku dan merobek-robek bukuku dan mematahkan penggarisku. Besoknya aku datangi lagi kepala sekolah sambil membawa buku yang sobek dan penggaris yang patah, terus mereka dipanggil lagi dan dihukum lagi. Pulang sekolah aku dihadang sama mereka. Aku didorong sampai jatuh dan sepedaku dirusak. Besoknya aku datang lagi ke kepala sekolah menunjukkan luka lecetku dan sepedaku yang rusak. Merekapun dipanggil lagi dan dihukum lagi. Aku gak tahu mereka dihukum apa, tapi setelah itu mereka tidak berani macam-macam padaku. Kalau mereka nakali anak lain dan kebetulan aku lewat, aku cuma perlu bilang ‘nanti kulaporkan kepala sekolah lho’, mereka langsung berhenti dan kabur. kadang kalau ketemu aku di kantin juga mereka langsung menyingkir. Hahahaha aku jadi kayak raja preman baru. Tapi aku berteman baik dengan anak-anak lain. Cewek-cewek dan cowok-cowok. Main bareng, belajar bareng. Jadi mereka gak ada yang takut sama aku. Cuma kakak kelas nakal dan gengnya yang takut sama aku.”
Menjadi ‘tukang lapor’ memang beresiko menjadi target baru, tapi ketika benar-benar dilakukan ternyata tidak seburuk itu kan?

Sebenarnya ada beberapa trik lain bystander untuk menghentikan bullying tanpa resiko menjadi target baru. Salah satunya adalah melapor kepada guru secara anonim. Maksudnya adalah mendatangi guru yang dipercaya lalu melaporkan bullying dan meminta guru tersebut untuk merahasiakan identitasnya sebagai pelapor. Masih belum berani juga? Ajaklah beberapa teman untuk bersama-sama melaporkan bullying tersebut. Guru juga akan menanggapinya lebih serius jika pelapornya lebih banyak.
Jumlah adalah senjata terbaik bystander, karena bystander pasti jumlahnya lebih banyak dari pelaku. Jadi ketika para bystander sepakat untuk bersama-sama tidak tertawa saat melihat bullying, atau bersama-sama untuk mengatakan, “tidak lucu!” pada pelaku, apalagi bersama-sama melapor ke guru, maka pelaku bukan hanya akan menghentikan bullying-nya, tapi juga tidak akan berani menjadikan para bystander sebagai target baru.

Bystander merupakan sebuah peran penting yang memiliki kekuatan besar, untuk membuat bullying menjadi semakin parah atau untuk menghentikannya. Bystander tidak sendirian ketika melihat bullying, jadi jangan takut untuk bertindak!

Referensi:
1.       www.stopbullying.gov

RELATED POSTS

0 comments