Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

CyberBullying Part 2 : Para Pelaku Cyberbullying

13.12 PLUSH 0 Comments Category : , , , ,

By Renate Arisugawa

Ada banyak alasan mengapa anak-anak melakukan cyberbullying. Ada yang melakukannya karena kemarahan, balas dendam atau frustasi, namun ada juga yang melakukannya sekedar untuk bersenang-senang, karena mereka bosan dan kebetulan punya akses dan ketrampilan. Beberapa melakukannya dengan sengaja untuk bercanda dan mendapatkan perhatian serta pengakuan dari lingkungan, namun ada juga yang tidak sengaja melakukannya atau melakukannya karena tidak tahu efek dari tindakannya.

Karena ada begitu banyak alasan, tidak mungkin ada satu penyelesaian yang bisa digunakan untuk menghadapi semua kasus cyberbullying. Dari sekian jenis pelaku, hanya dua yang memiliki kemiripan dengan bullying di dunia nyata. Para pakar bullying di dunia nyata kadang kurang tepat dalam menganalisis kasus cyberbullying karena karena alasan para pelaku dan sifat agak cyberbullying berbeda dengan bullying di dunia nyata.

Tipe-Tipe Pelaku Cyberbullying:

 Si Malaikat Keadilan
Pelaku jenis ini tidak menganggap dirinya sebagai pelaku bullying sama sekali. Mereka menganggap dirinya sedang menegakkan keadilan, melidungi dirinya atau teman-temannya dari ‘orang jahat’ yang sedang mereka jadikan target. Dalam kondisi normal, mereka tidak tertarik melakukan tindakan bullying. Namun ketika untuk alasan apapun, tiba-tiba mereka atau sahabat mereka dijadikan target bullying, baik itu cyberbullying ataupun bullying di dunia nyata, mereka memutuskan untuk ‘memberi pelajaran’ bagi si orang jahat. Dalam menjalankan aksinya, Si Malaikat Keadilan ini biasanya bekerja sendiri, tapi kadang mendapat bantuan dari teman-teman dekatnya atau sesama target bullying lainnya.

Untuk mengatasinya, Si Malaikat Keadilan ini harus disadarkan bahwa mereka tidak boleh main hakim sendiri. Dan bahwa membalas bullying dengan bullying akan membuat semua semakin parah. Hal yang perlu kita lihat adalah alasan mengapa mereka memilih untuk main hakim sendiri. Apakah ada ketidakadilan yang terjadi pada mereka? Karena biasanya mereka bukan anak-anak yang suka melanggar aturan. Jika memang itu yang terjadi, apakah mereka punya tempat untuk mengadu? Bisakah mereka mengadu secara anonim? Apakah ada kelompok sebaya yang menangani masalah mereka? Apakah orang tua dan pihak sekolah menanggapi laporan mereka atau mengabaikannya? Semakin banyak cara-cara resmi yang kita sediakan bagi mereka, semakin kecil kemungkinan mereka memutuskan untuk main hakim sendiri.

Si Haus Kekuasaan
Pelaku jenis ini paling mirip dengan pelaku bullying di dunia nyata. Mereka melakukannya untuk menegaskan kekuasaan, untuk menunjukkan pada teman-temannya bahwa mereka bisa menyuruh orang melakukan apa yang diinginkannya. Mereka ingin berkuasa dengan tangan besi. Tidak jarang, si Haus Kekuasaan ini juga merupakan pelaku bullying di dunia nyata. Pelaku jenis ini meminta perhatian, karena itu mereka membutuhkan penonton, entah itu teman-temannya sendiri atau anak-anak lain di sekolah. Mereka suka memamerkan perbuatan mereka. Mereka menginginkan reaksi dari orang sekitarnya, baik berupa penghormatan atau ketakutan.

Pembalasan si Korban
Pelaku jenis ini biasanya merupakan korban bullying di dunia nyata. Mereka mungkin anak perempuan atau anak yang fisiknya lemah atau yang sering diganggu, dan mereka tidak berdaya menghadapi bullying di dunia nyata. Celakanya, mereka kemudian memiliki kemampuan / ketrampilan teknis yang tinggi dan menggunakannya untuk menakut-nakuti atau mempermalukan target tanpa harus berhadapan langsung dengan targetnya. Dengan memanfaatkan kekuatan teknologi komunikasi digital mereka mendapatkan kekuasaan yang tidak mereka dapatkan di dunia nyata. Setelah merasakan kenikmatan kekuasaan itu, mereka tidak bisa berhenti. Jadilah para korban ini menjadi pelaku cyberbullying baru.

Pelaku jenis ini suka bekerja sendiri. Mereka merahasiakan perbuatan mereka, karena walau tampak begitu hebat di dunia cyber, mereka sebenarnya tidak setangguh itu di dunia nyata. Jenis serangan yang mereka lakukan biasanya adalah serangan tak langsung. Dengan kemampuan teknisnya yang tinggi, bisa dibilang, pelaku ini adalah jenis yang paling berbahaya.

Geng Nero
Pelaku jenis ini adalah pelaku paling kekanak-kanakan yang melakukan cyberbullying. Mereka melakukannya karena bosan dan sedang mencari hiburan. Biasanya, mereka adalah sekumpulan murid populer yang suka membully murid lainnya baik perempuan atau laki-laki.

Mereka biasanya melakukan cyberbullying secara terencana dan berkelompok. Karena cyberbullying jenis ini dilakukan untuk hiburan, mereka membutuhkan penonton. Mereka dengan sengaja akan memamerkan ‘hasil karya’ mereka supaya anak-anak yang lain tahu siapa mereka dan bahwa mereka bisa melakukan cyberbullying. Mereka akan semakin bersemangat ketika semakin banyak yang menyukai ‘hasil karya’ mereka atau setidaknya jika anak-anak yang mengetahuinya membiarkan perbuatan mereka. Namun semangat untuk melakukan cyberbullying ini akan segera hilang jika mereka bosan atau tidak mendapat tanggapan yang mereka harapkan.

Si Tidak Sengaja
Pelaku jenis ini biasanya tidak menganggap tindakannya sebagai cyberbullying. Mereka hanya bereaksi ketika menerima pesan yang mengandung kebencian atau memprovokasi mereka. Tidak seperti pada kasus Pembalasan Si Korban, Si Tidak Sengaja ini tidak pernah merencanakan tindakan mereka. Mereka terpancing, marah, menuliskan kata-kata yang keras atau tidak pantas dan mereka tidak berpikir dua kali sebelum menekan tombol ‘kirim’.
Kadang-kadang pelaku jenis ini juga suka mengirimkan pesan, file atau gambar aneh-aneh sebagai bahan bercandaan dengan temannya. Mereka tidak bermaksud untuk menyakiti teman yang menjadi targetnya. Namun sayangnya mereka tidak berpikir bahwa temannya mungkin tidak tahu kalau itu hanya dimaksudkan untuk bercanda, dan beberapa di antara targetnya benar-benar merasa tersinggung karena perbuatan mereka.

Pelaku jenis ini biasanya bekerja sendiri dan mereka akan sangat terkejut jika ‘bercandaan’ mereka itu dikategorikan dalam cyberbullying.


Jadi, apakah kamu ternyata salah satu dari para pelaku? Atau mengenali temanmu sebagai salah satu pelaku? Yuk sharing ceritamu disini :)

Referensi:

RELATED POSTS

0 comments