Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

CyberBullying Part 1 : Cyberbullying, apa itu?

12.39 PLUSH 0 Comments Category : , , , ,

By Renate Arisugawa

Cyberbullying adalah tindakan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk melakukan tindakan yang disengaja dan berulang oleh seseorang atau sekelompok orang, yang bertujuan untuk menyakiti atau mempermalukan orang lain. Cyberbullying merupakan bentuk baru dari bullying, yang walaupun bukan merupakan kekerasan secara fisik, namun tetap mengakibatnya penderitaan psikologis yang berat terhadap targetnya.

Mengapa Muncul Cyberbullying?
Secara konsep, cyberbullying sama saja dengan bullying yang terjadi di dunia nyata. Namun dengan perkembangan teknologi, dimana begitu mudah anak-anak mendapatkan akses terhadap internet dan teknologi informasi dan komunikasi, bullying berkembang ke arah yang baru.

Apa yang sama dengan bullying di dunia nyata?

  • Dilakukan oleh anak-anak (di bawah umur) terhadap anak-anak (di bawah umur).
  • Targetnya adalah anak-anak yang dianggap tidak sesuai dengan standar anak-anak lainnya, entah itu karena terlalu gemuk, terlalu kurus, terlalu cantik/tampan, prestasi akademiknya terlalu rendah, prestasi akademiknya terlalu tinggi, berkulit gelap, berasal dari ekonomi yang lemah, memiliki logat atau aksen yang berbeda, memiliki ekspresi gender yang berbeda (cowok yang dianggap kurang maskulin atau cewek yang dianggap kurang feminin), yang masih jomblo atau mereka yang memiliki pemikiran dan prinsip yang tidak sama dengan teman-temannya.
  • Para target yang frustasi bisa berubah menjadi pelaku. Ada rantai kekerasan yang harus diputuskan disini.
  • Kadang-kadang melibatkan sekelompok anak (pelaku tidak tunggal)
  • Jika tidak dihentikan, tindakan ini akan diteruskan oleh pelaku sampai mereka dewasa.

Apa yang berbeda dengan bullying di dunia nyata?

  • Karena menggunakan teknologi informasi dan telekomunikasi (nama palsu, alamat email sementara, nomor GSM pra-bayar sekali buang), pelakunya tidak langsung bisa diketahui dan dihadapi
  • Efeknya yang meluas. Kalau seorang siswa diejek di dunia nyata sehingga seluruh sekolah bisa mendengarnya, maka melalui media social (fb, twitter) atau youtube ejekan itu bisa disebarkan ke seluruh dunia.
  • Bisa melibatkan pihak-pihak lain (guru, orang tua, kelompok tertentu dalam masyarakat) sebagai asisten bagi pelaku cyberbullying.
  • Peran-peran dalam bullying (pelaku, asisten pelaku, reinforcer dan bystander) menjadi lebih cair dan lebih susah diidentifikasi.

Bentuk-bentuk Cyberbullying.
Cyberbullying dilakukan dengan beberapa metode, yaitu:
Serangan langsung, di antaranya:
1.     Menggunakan SMS, email atau YM berisi ancaman atau pesan penuh kebencian kepada orang lain.
Misalnya: Jay mengirim SMS atau email kepada Feb yang isinya “aku benci kamu, semua orang benci kamu, karena kamu tidak normal. Lebih  baik kamu mati saja”
2.      Mengirimkan SMS dalam jumlah besar (SMS-Bombing) kepada target.
Misalnya: Aris mengirimkan lebih dari 100 SMS sampah (spam) setiap hari kepada April sehingga April menjadi stress dan ingin mengganti nomor hp nya.
3.      Memalsukan identitas target (membuat account palsu) untuk menjatuhkan nama baik target.
Misalnya: Septi membuat account fb palsu atas nama Okta lalu menuliskan kalimat-kalimat, “kemarin aku berhasil mencontek pas ujian”, atau “aku gay” sehingga teman-teman Okta akan mencemooh Okta
4.      Menulis Blog yang melanggar privasi dan menjelek-jelekkan target.
Misalnya: Novi baru saja diputuskan oleh Deka. Novi yang sakit hati lalu menuliskan di blog tentang bagaimana Deka menghancurkan hatinya dan detail-detail apa saja selama mereka berpacaran, termasuk mungkin rahasia-rahasia Deka yang dipercayakan pada Novi. Teman-teman Novi dan Deka membaca blog ini dan mulai menjauhi Deka.
5.  Menyebarkan foto target, baik asli maupun hasil rekayasa melalui email dan HP untuk mempermalukan target.
Misalnya: Dalam sebuah acara berkemah, Agus mengambil gambar Septi yang sedang tidur lalu membaginya ke hp teman-temannya. Atau Agus menempelkan wajah Septi ke tubuh salah satu model porno lalu mengirimkan gambar tersebut ke email teman-temannya.
6.      Memancing emosi target kemudian mem-blow up reaksi keras dari target.
Misalnya: Yuni mengirimkan pesan yang menyinggung dan membuat marah Julius. Julius membalasnya dengan kata-kata yang lebih keras, kasar dan mengandung ancaman. Yuni lalu memforward balasan dari Julius ini ke teman-temannya dengan tambahan keterangan, “Ini yang dikatakan Julius padaku”, tanpa menunjukkan pesan awal yang digunakannya untuk memancing emosi Julius. Pesan ini bisa berupa email, message atau SMS.
7.      Menutup Account Target.
Misalnya: Dwi mencuri password Tri, lalu menggunakannya untuk menutup account Tri. Sehingga Tri tidak bisa mengakses account-nya lagi. Account ini bisa account email, fb, twitter atau game online.

b.   Serangan tak langsung

Serangan ini terjadi ketika pelaku menggunakan orang lain untuk menyakiti targetnya. Orang lain ini biasanya tidak sadar telah dimanfaatkan oleh pelaku. Serangan tidak langsung ini justru merupakan bentuk serangan yang lebih berbahaya karena melibatkan orang lain, seperti orang tua atau guru untuk ‘menghukum’ target atas sesuatu yang bukan kesalahannya. Misalnya, pelaku mendaftarkan email target ke situs-situs porno atau mengirimkan gambar-gambar porno ke handphone atau laptop target sehingga ketika orang tua atau guru mengetahuinya, target akan dihukum karena dianggap telah mengakses atau sengaja mendowload gambar-gambar porno.

Jika pelaku berhasil masuk ke dalam account target (melalui hacking atau karena memang memiliki password milik target), situasinya bisa menjadi lebih berbahaya. Misalnya Andi marah pada Budi. Karena memiliki password account fb milik Budi, Andi masuk ke dalam account fb milik Budi lalu menulis “aku benci Charlie karena dia jelek dan brengsek” atau sebagainya. Charlie tentunya akan marah pada Budi. Jika teman-teman Charlie juga membacanya, bisa jadi orang-orang yang memusuhi Budi akan semakin banyak. Sementara itu, Andi bahkan tidak dicurigai.

Jadi apakah teman-teman pernah mengalami salah satu atau beberapa bentuk cyberbullying ini? Silakan share pengalaman di bagian comment ya, supaya kita bisa saling belajar menjadi lebih waspada. Kerahasiaan dijamin kok :)

Author’s note:
Dalam artikel ini penulis menggunakan kata ‘target’ untuk menggantikan ‘korban’ karena tidak semua yang dijadikan ‘target’ oleh pelaku bullying berakhir sebagai ‘korban’. Kita tidak bisa memilih apakah kita akan dijadikan ‘target’ bullying atau tidak, tapi kita bisa memutuskan untuk tidak membiarkan diri kita menjadi ‘korban’ bullying.

Referensi:

3.       Willard, Nancy; Cyberbullying: Q&A with Nancy Willard; The Prevention Researcher Volume 14, December 2007.

RELATED POSTS

0 comments