Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Bendera Pelangi Berkibar di Malioboro

14.59 PLUSH 1 Comments Category : , , ,

Ditulis oleh: Lo


Tanggal 6 Juli kemarin, di sepanjang jalan Malioboro Yogyakarta digelar acara “Apeman”, yaitu ritual berdoa dan makan kue apem bersama yang setiap tahunnya diadakan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Selain acara bagi-bagi apem, rangkaian parade berbagai komunitas menjadi bagian yang paling ditunggu-tunggu. Parade dimulai sekitar pukul 15.30 yang dimulai dari depan gedung Dinas Pariwisata sampai di gedung Kepatihan. Barisan terdepan parade dipimpin oleh sekelompok bapak-bapak yang sangat gagah menggunakan seragam merah khas hulubalang Keraton, sambil bermain alat musik. Beberapa komunitas menyusul dibelakangnya sambil menunjukkan kekhasannya masing-masing. Ada yang menggunakan pakaian ala petani, ada yang membuat kuda kayu yang besar yang ditumpangi anak-anak lalu digotong beramai-ramai, bahkan ada pula yang menampilkan aksi barongsai.
Uniknya, ditengah-tengah barisan parade muncul sekelompok teman-teman LGBTIQ yang sangat semarak dengan berbagai atribut berwarna pelangi. Mulai dari bendera, dasi, topi, sampai celana pun berwarna pelangi. Tiga orang pengamen yang sedang bekerja di Malioboro sengaja kami “culik” untuk bergabung dengan barisan ini, jadilah sambil parade, aksi dangdutan bersama tak terelakkan. Suasana begitu meriah, respon dari penonton yang berdiri berjejer di sepanjang jalan pun sangat positif. Ada yang meminta foto bersama, ada yang ikut bernyanyi sambil berjoget ria, ada pula yang senyum-senyum sumringah saat membaca tulisan-tulisan yang kami bawa. Tidak hanya turis domestik, bahkan turis asing yang hadir saat itupun ikut menyambut barisan LGBTIQ ini dengan tepukan yang meriah sambil bergoyang bersama.

Bagaimana tidak tersenyum, barisan terdepan dari kelompok LGBTIQ ini dengan sangat gagah berani membawa tulisan besar berisi “Gay, Waria dan Lesbian Bukan Penyakit”. Tulisan itulah yang membuat banyak orang igin berfoto bersama, sambil menyalami beberapa orang yang ada di barisan depan.  Perasaanku sangat haru, merasakan bagaimana orang-orang yang tidak dikenal itu menyalami kita sambil tersenyum. Itu adalah suatu bentuk dukungan yang sangat menyentuh dari masyarakat. Ternyata tidak sedikit masyarakat yang tidak homophobia, yang mau menerima keberadaan LGBTIQ.
Sampai di titik akhir parade, semua komunitas peserta parade bergabung dan berjoget bersama di depan panggung yang sudah disediakan. Atribut pelangi, kebaya, sampai celana naga pun berbaur menjadi satu, semua merayakan kehadiran bulan Ramadhan dengan sangat gembira. Acara berjoget ria disudahi lalu dilanjutkan dengan berdoa bersama, yang dibawakan dengan bahasa Sunda. Setiap orang di depan panggung menghentikan kebisingannya dan berdoa bersama dengan sangat khusuk. Lagi-lagi momen ini sangat mengharukan, bagaimana orang-orang dengan lintas suku, budaya, agama, bahkan orientasi seksual bisa berdoa bersama dengan sangat tenang dan damai. 

Aku yakin, tidak hanya teman-teman LGBTIQ yang bangga, tapi masyarakat yang hadir menonton saat itu, warga Sepocikopi, atau mungkin seluruh LGBTIQ di dunia sekali lagi turut berbangga dengan aksi teman-teman di Malioboro kemarin. Paling tidak di Yogyakarta, LGBTIQ sudah bisa muncul ke permukaan masyarakat dan menunjukkan bahwa kita ada, kita sama dan harus dilindungi haknya. 

RELATED POSTS

1 comments