Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Sensitif Gender

13.25 PLUSH 0 Comments Category :

Pernah mendengar dua kata diatas? Sensitif gender, arti gampangnya adalah suatu sikap, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan yang mendukung kesetaraan gender, dan sangat menghindari diskriminasi atas gender tertentu. Singkatnya, sensitif gender berarti tidak memperolok kaum LGBTIQ deh.
Mengapa bisa muncul gerakan sensitif gender ini? Banyak sekali faktor yang mempengaruhi pembentukan hirarki dalam gender. Hirarki itu  yang kemudian menjadi akar munculnya  sikap sentimentil antar gender, budaya patriarki itulah salah satu bentukannya. Dalam hal ini kaum LGBTIQ sebagai minoritas tak jarang menjadi korbannya. Media massa contohnya, berperan sangat besar dalam pembentukan stereotype dimasyarakat. Apesnya, bukan sekali dua kali kita mendengar atau membaca berita negatif yang kemudian dihubung - hubungkan dengan gender maupun orientasi seksual tertentu oleh jurnalis tak bertanggungjawab itu. Kalau masih ingat kasus Ryan Jombang, nah itu salah satu contoh betapa jurnalis edan itu harus ditatar kembali karena tidak sensitif gender. Bagaimana tidak, dikoran dan berita televisi, masyarakat diprovokasi dengan menghubung - hubungkan kekejian si Ryan itu dengan orientasi seksualnya yang ternyata homoseksual. Padahal bahkan belum ada bukti kuat yang menunjukkan hubungan naluri psikopat dengan orientasi seksual seseorang. Muncullah stereotype bahwa kaum homoseksual itu adalah psikopat, pendendam, dan segala hal negatif lainnya, yang disebabkan oleh media massa.

Selain media massa, nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat juga berandil besar dalam membentuk bias – bias gender. Kalau beberapa dasawarsa yang lalu, penindasan secara massal terjadi pada populasi kulit hitam, oleh para kaum berkulit putih. Saat ini, tak bisa dipungkiri bahwa “penindasan” tak kasat mata tersebut terjadi pada kaum LGBTIQ karena adanya heteronormatif yang berlaku dimasyarakat.

            Karena kasus - kasus seperti diatas itulah, maka gerakan sensitif gender itu digalakkan dimasyarakat, terutama lagi pada awak media. Kita para lesbian, seharusnya justru menjadi garda depan yang mendukung aksi sensitif gender ini. Gerakan sensitif gender ini cukup sering digaungkan, terutama diranah akademis yang berhubungan dengan media dan ilmu sosial.  Sensitif gender ini sudah ditunjukkan dalam berbagai hal, mulai dari yang kecil, misalnya sikap menghargai dengan tidak lagi menggunakan kata "banci" melainkan "transeksual", atau kata "ngondek" diganti "transgender", juga kata "lesbong" yang diganti dengan bahasa benernya yaitu "lesbian". Aksi besar pun juga bisa dilakukan, seperti sosialisasi yang bertujuan untuk meruntuhkan pandangan – pandangan negatif masyarakat mengenai kaum LGBTIQ.

Tidak sedikit lho, warga LGBT yang masih menggunakan inisial "belok" untuk mengganti kata "Lesbian", atau pakai kata "maho" untuk menyebut gay, dengan alasan malu, tabu, dan semacamnya. Yah walaupun kelihatannya sepele, namun sebenarnya cukup penting. Kenapa harus takut untuk sekedar mengetik kata "Lesbian"? Menjadi lesbian tidak berarti hina dan memalukan kan? Nah kalau kita saja malu untuk mengakui orientasi seksual kita, bagaimana orang lain bisa menghargai lesbian? Memang, sensitif gender idealnya bukan lagi ditataran tulisan dan perkataan, melainkan sikap berjiwa besar dalam menerima perbedaan orientasi seksual tersebut. Apalah artinya kita mengaku sensitif gender, tapi saat mengetahui bahwa anggota keluarga kita ternyata lesbian atau waria, kita lalu serta merta menghakiminya?


            Rasa pesimis itu tentu ada dibenak kita.  Mungkin banyak yang pasrah dan  berpikiran bahwa selamanya kaum homoseksual itu adalah minoritas, salah, dan tidak akan mendapat hak – hak yang sama dengan heteroseksual. Justru itulah tugas besar kita. Bukan tidak mungkin, kalau kita memulainya dengan  hal – hal kecil seperti ber- sensitif gender ini. Lagi lagi dimulai dengan menghargai diri dan kaum kita sendiri, lalu perlahan kita juga akan dihargai dimasyarakat. Kalau pengkastaan berdasarkan warna kulit kini sudah berhasil dihapuskan, maka  suatu saat diskriminasi berdasarkan orientasi seksual pasti juga bisa dihapuskan, bukan? (Lo)

RELATED POSTS

0 comments