Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Patner Laki-laki?

15.42 ahmad syaifuddin 1 Comments Category : , ,



Menjalani kehidupan sebagai seorang gay bukanlah suatu hal yang biasa. Kadang beberapa orang termasuk kawan dekat sering menanyakan kenapa patnerku adalah seorang lelaki. Aku berpikir kenapa aku dianggap berbeda dengan mereka, bukankah kita sama-sama manusia. 

Siang sepulang dari kampus aku pergi bersama Nadia ke Foodcourt UGM. Nadia adalah salah satu kawan dekatku. Kami sudah kenal lebih dari 3 tahun dan sering menghabiskan waktu bersama. Pemikirannya cukup terbuka sehingga membuatku bernai untuk coming out dengannya. 

Kami duduk di sebelah selatan foodcourt yang sudah ramai dengan mahasiswa. Setelah mendapat tempat duduk kami segera memesan makanan secara bergantian. Obrolan kami mulai dengan cerita-cerita perkuliahan yang cukup membosankan bagiku. Siang itu aku lebih banyak bercerita, entah kenapa Nadia cukup diam.Tangannya meremas-remas jari mungilnya ia seolah memendam sesuatu dariku.

“Nad, ada apa sih? Kok kamu terlihat nggak nyaman?”

“Iya Din, guwe mau nanya sama loe. Tapi loe jangan tersinggung ya?”

“Santai aja Nad, ada apa sih?”

“Eh pacar loe itu cowok kan? Kenapa sih cowok? Kan masih banyak cewek yang suka sama loe.”

“Hahahaha…”. Aku tertawa terbahak mendengar pertanyaannya.

“Anjrit loe malah ketawa gitu, guwe siram loe!” Nadia mengancam melempar gelas minumnya.

“Nad, aku pacaran ma Warren itu karena aku cinta ma dia. Bukan karena seks doang. Kalo nyari seks doang mah nggak perlu pacaran, nggak perlu tinggal serumah segala.”

“Iya tahu, tapi kalo loe nyari cinta. Loe kan bisa pacaran ma cewek. Mereka bisa kasih cinta sama loe juga kan?’’ Ia mendekatkan kepalanya kearahku.

“Bisa Nad, tetapi aku lebih nyaman dengan laki-laki. Jadi gini, homoseksual itu adalah orientasi seksual. Nah orientasi seksual itu ketertarikan secara fisik, emosi dan seksual. Nah, secara emosional aku nggak tertarik sama perempuan. Baru dengan laki-laki aku menemukan ketertarikan fisik, emosi dan seksual.” Paparku panjang.

“Elu nggak mikir orang tua dan orang-orang sekitarmu?’’

“Mikir juga, tapi aku nggak mau hidupku terbelenggu tuntutan sosial kaya gitu juga. Aku ingin bahagia juga.”

“Berarti loe bakal ngorbanin orang tua loe dan orang-orang yang dekat ma loe?”

“Gini Nad, mereka pasti shock kalo tahu aku ini gay. Aku perlu persiapan, ada tantangan budaya mainstream di depanku yang perlu aku dekontruksi.”

“Maksud loe apa?”

“Budaya mainstream, budaya umum yang kita kenal di masyarakat, tidak mengakui relasi homoseksual. Budaya itu hanya mengenal hubungan heteroseksual dengan segala nilai-nilai yang mengikatnya. Orang tuaku tidak kenal dengan relasi homoseksual karena budaya kita tidak mengajarkan mengenai relasi homoseksual. Coming out tanpa persiapan sama saja bunuh diri.”

“Terus…” Balasnya datar.

“Pendidikan mengenai identitas seksual penting agar mereka bisa obyektif dalam berpikir. Termasuk kamu!”

“Eh maksudnya apa? Nyangkut-nyangkut aku segala.”

“Aku kira kamu masih menganggap menjadi seorang gay itu adalah penyimpangan sosial. Betul nggak?”

“Iya, aku pengennya kamu jadi normal aja.”

“Tuh kan, kamu pake kata-kata normal, seolah gay itu nggak normal padahal ahli psikologi udah nggak menganggap homoseksual sebagai patologi lagi. Bayangin deh, orang yang ahli dan sudah melakukan berbagai observasi menyatakan gay itu bukan patologi lagi. Apa kamu nggak percaya?”

“Hmmm…..” Nadia hanya terdiam saja menyimak penjelasanku.

“Budaya kita yang patriakhi mempunyai nilai-nilai yang mendiskriminasikan relasi homoseksual. Kalo kamu laki-laki ya kamu harus pacaran dengan perempuan. Padahal diluar sana banyak gay yang tinggal di dalam masyarakat. Seperti aku, aku nggak pernah meminta menjadi seorang gay. Aku memilih hidup sebagai seorang gay karena aku menyukai laki-laki sejak dulu. Bukankah di kelas kita pernah diajari menganai hak asasi. Hak yang kita dapat sejak kita lahir. Apakah seorang gay nggak berhak mendapatkan cinta?”

‘’Let me think further ya Din, agak konslet nih.” Nadia menggaruk-garuk kepalanya.

“Semua butuh proses Nad, jangankan mendekontruksi budaya yang udah settle, menjelaskan kepadamu mengenai orientasi seksualku aja susah.”

“Loe ngejek atau apa!”

“Hahahaha…..gini Nad, yang jelas gay itu hanya sebagian dari diriku. Didin ya yang kau kenal selama ini. Aku manusia seperti yang lainnya. Walau aku memiliki orientasi seksual yang berbeda. Sebagai manusia aku berhak mendapat hak-hakku yang sama seperti yang lainnya”.

Nadia tidak membalas pernyataan terkhirku. Ia hanya bisa tersenyum, aku kira dia belum begitu menerima aku sebagai seorang gay. Secara teori mungkin dia cukup paham dengan argumen-argumen yang aku lontarkan kepadanya. Namun pola pikirnya yang sudah terkontruksi oleh budaya mainstream sudah mapan dipikirannya. Perlu waktu untuk lebih mengerti dan terbuka terhadap hal-hal baru seperti itu aku kira.
  

RELATED POSTS

1 comments